ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Minggu, 25 Maret 2012

"Joko Tingkir dan Karomah Tanah Lempung"

Nama aslinya adalah Mas Karèbèt, putra Ki Ageng Pengging atau Ki Kebo Kenanga. Ketika ia dilahirkan, ayahnya sedang menggelar pertunjukan wayang beber dengan dalang Ki Ageng Tingkir.
Tiba-tiba Ki Agend Tingkir meninggal karena menghisap asap beracun. Ternyata Dadungawuk yang menjadi penjahatnya. Dia juga membunuh ayah dah ibu Mas Karebet. Sejak itu, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir (janda Ki Ageng Tingkir).

Mas Karebet tumbuh menjadi remaja tampan yang gemar pergi ke hutan dan gua-gua untuk bertapa, dan dijuluki Joko Tingkir. Banyak wanita terpikat ketampanan Joko Tingkir. Pada suatu hari Joko Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga memberikan tanah lempung dan berkata bahwa kelak Joko Tingkir akan menjadi raja. Sebagai calon raja, dia disuruh belajar mengaji dan menghamba kepada Sultan Demak (Sultan Trenggana). Setelah sampai di rumah, Joko Tingkir menyampaikan pertemuannya dengan Sunan Kalijaga kepada ibunya. Atas nasehat ibunya, Joko Tingkir pergi ke Kembanglampir untuk berguru kepada Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga menerima Joko Tingkir menjadi muridnya dengan senang hati, serta mengenalkannya dengan Pemanahan dan Penjawi, putra Ki Ageng Sela.

Joko Tingkir muda berhasil melepaskan penduduk suatu desa dari kebiasaan memberikan sesajen untuk ular yang dipercaya penduduk sebagai penjaga ketentraman desa. Joko Tingkir membuat para warga kembali kepada ajaran Islam untuk tetap bertuhan hanya kepada Allah dengan menjauhi perilaku syirik. Joko Tingkir juga mengatakan kalau ular itu adalah ular biasa yang tidak perlu dipuja. Dengan kekuatan dan kesaktiannya, Joko Tingkir berhasil mengalahkan ular itu. Joko Tingkir lalu pergi mengikuti kata hatinya kalau yang mengatakan kalau dia harus pergi ke Demak. Sunan Kalijaga menyuruh Joko Tingkir untuk menemui Kyai Gandamestaka di Demak.

Setibanya di Demak Joko Tingkir menemui Kyai Gandamestaka. Dengan senang hati Kyai Gandamestaka bersedia mengaku Joko Tingkir sebagai anaknya. Joko Tingkir sangat tekun belajar mengaji di masjid Suranatan. Masjid itu terletak di sebelah utara keraton. Joko Tingkir bahkan sempat mengajarkan pada banyak orang untuk mendahulukan sholat jika terdengar suara adzan. Suara Adzan yang dikumandangkan Joko Tingkir ternyata sangat merdu dan bahkan seperti mampu menyihir banyak orang yang mendengarnya untuk melangkah menuju masjid untuk sholat.

Ketekunan dan kerajinan Joko Tingkir di masjid membuatnya lalu dekat dengan Tumenggung Suranata yang bertugas melayani Sultan Demak apabila akan bersembahyang di masjid itu. Di masjid itu memang Sultan Demak sering sholat jika tidak sedang berkunjung ke daerah. Tapi anehnya, ada aturan yang menyebutkan kalau Sultan Demak sedang sholat, tidak boleh ada rakyat atau siapapun di masjid itu. Tentu hal ini mengganjal di hati Joko Tingkir. Bukankah sholat itu kewajiban semua orang dan ketika sholat itu pula kedudukan manusia dianggap sama. Begitu protesnya. Karena kayakinan inilah, ketika Sultan Demak dikabarkan akan sholat, Joko Tingkir kekeh bertahan di masjid itu. Pengawal Sultan juga tidak sanggup mengusir Joko Tingkir dari masjid itu.

Joko Tingkir tetap kekeh dan yakin kalau di dalam sholat berjamaah tidak ada yang namanya jabatan dan kedudukan. Semua sama di mata Allah. Yang membedakan hanyalah amal perbuatan dan tingkat keimanannya kepada Allah. Namun ketika Sultan Demak sudah sampai, Kyai Gandamestaka meminta dengan sopan kepada Joko Tingkir untuk menyingkir dulu. Joko Tingkir yang menganggap Kyai Gandamestaka sebagai bapaknya sendiri, tidak berani membantah. Tapi Joko Tingkir meminta pada bapak angkatnya itu untuk meminta ijin kepada Sultan Demak agar mengijinkannya sholat berjamaah bersama Sultan Demak. Bukankah sholat berjamaah itu lebih utama dibanding sholat sendiri. Pahala dan rahmat Allah akan lebih berlimpah untuk Sultan jika Sultan melakukan sholat berjamaah. Begitulah pinta Joko Tingkir. Sultan Demak kagum dengan Joko Tingkir lalu mengijinkan Joko Tingkir ikut sholat bersamanya. Kesan pertama ini sangat kuat di hati Sultan Demak. Sultan Demak lalu mengajak Joko Tingkir untuk ikut.

0 komentar:

Posting Komentar

Blogroll

Blogger templates

About