ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Jumat, 19 Juni 2015

PONDOK KREMPYANG

Posted by MBAH GAMPIL On 18.14 | No comments
KH IMAM GHOZALI AHMAD (wali dari kota angin Nganjuk) MASA KECIL Sejauh 23Km dari kota Nganjuk ke arah tenggara, terdapat sebuah desa bernama Watudandang Kec.Prambon, layaknya sebuah desa, Watudandang bersuasana damai dengan kehidupan warganya yang damai, diantara sekian banyak warga tersebut ada sebuah keluarga kecil yang bahagia, Bapak Ahmad adalah kepala keluarga tersebut,dan Nyai maisyaroh adalah istri baeliau, kebahagiaan keluarga ini semakin nyata ketika pada tanggal 4 Agustus 1927 M, lahir seorang bayi laki-laki yang sangat di dambakan kelahirannya, dengan harapan yang menyala, bayi itu diberi nama Muhammad Yazid. Roda waktu terus bergulir cepatdari hari berganti minggu, minggu hilang berganti bulan, dan bulan pun berganti tahun, yang akhirnya Muhammad Yazid pun semakin gesit dan lincah. Seperti layaknya anaak kecil, ia pun suka bermain dengan teman sebayanya, dikala asyik bermain, tanpa kesengajaan tangan kanannya tergores benda tajam sehingga menyebabkan luka dan akibatnya ia menderita sakit sampai berkepanjangan. Beberapa tabib telah dimintai pertolongan, namun sakit yang dideritanya belum juga berkurang. Atas kesepakatan keluarga nama Muhammad Yazid diganti Imam Ghozali. Alhamdulillah sakit Muhammad Yazid dengan nama barunya “Imam Ghozali”. Tampak kembali wajahnya Imam Ghozali yang selalu gembira dan lucu, ia pun dapat bermain lagi dengan teman sebayanya. Bahagia kembali menyelimuti dirinya, begitupun ayah bundanya yang sangat sayang padanya. Namun disaat ia larut dalam kasih sayang kedua orang tuanya, ia ahrus mengalami kenyataan pahit karena ditinggal pergi Ibundanya untuk selamanya. Betapa pilu dan sendunya, suasana kelabu merundung keluarga Bapak Ahmad, Ibu Maisyaroh berpulang ke rahmatulloh. PETUALANGAN DALAM MENGGALI ILMU Tempaan jiwa, kesabaran, ketabahan, ketekunan, keuletan, kemauan keras serta dorongan dari ayahnya mengantarkan Imam Ghozali untuk menimba ilmu agama, dan tempat pilihan untuk menngali ilmu adalah pondok Sangrahan di bawah asuhan Bapak K.H.Abdul Mu’id pada tahun 1942 M. Tanpa terasa 6 tahun sudah mondok di Sangrahan, kemudian di tahun 1947 M, meneruskan belajar di PON-PES LIRBOYO. Dengan metode pendidikan yang sistematik dan rapi serta lingkungan yang agamis membawanya untuk lebih menekuni ilmu-ilmu yang diberikan guru serta Kyainya. Ketekunan dan kedisiplinannya juga diiringi dengan melakukan riadhoh, diantaranya makan daun ketela selama satu tahun, puasa daud (sehari puasa sehari tidak) serta membaca Al- Qur’an dan Dalail tidak pernah absen. Selain itu beliau juga pernah puasa membisu selama satu minggu atas perintah dan nasihat gurunya. Disampin riadhoh beliau sering kali berziarah ke makam Ulama’ dan makam para Wali diantaranya :  K.H. Ma’ruf Kedunglo Kediri  K.H. Abu Bakar Bandar Kidul Kediri  Ke makam Batu Ampar Madura  Ke pemakaman Setonogedong Kediri setiap malam jum’at, dll. KEISTIMEWAAN – KEISTIMEWAAN YANG DIMILIKINYA Tercatat bahwa Imam Ghozali adalahseorang yang rajin dan disiplin, semua kegiatan sehari- haridilalui dengan jadwal yang dibuatnya. Setiap jam 12 malam beliau bangun untuk melakukan sholat sunnah dan menghafal Alfiah Ibnu Malik sampai subuh. Begitulah cara beliau menghafal dan mendalami Alfiah Ibnu Malik, sampai akhirnya bait demi bait yang bejumla seribu nadzom dapat di kuasainya dalam waktu 28 hari, bertepatan di bulan Romadlon. Beliau juga memiliki sifat sederhana dan tabah dalam menghadapi segala cobaan. Pada saat masih menempuh masa pendidikan beliau menderita seraangan penyakit jantung, kendati demikian semua pelajaran selalu dihafal dan difahaminya. Alkisah disaat mondok di Pon-Pes Lirboyo beliau mempunyai keistimewaan- keistimewaan tersendiri. Konon beliau pernah ditangkap NIPPON(tentara Jepang) pasalnya ada santri yang mengintip markas NIPPON yang berada di gunung Klotok dan kepergok salah satu pasukan Jepang . tanpa ambil pikir panjang santri tersebut mengambil langkah seribu menuju Pondok Lirboyo, pasukan NIPPON pun melakukan pengejaran dan pencarian di Pondok Lirboyo, sungguh tak diduga, dalam pencarian itu Imam Ghozali lah yang ditangkap dan ditahan karena mempunyai ciri-ciri yang sama(gundul), walaupun sebenarnya bukan beliau yang melakukannya, didalam tahanan ia dipaksa melakukan baris berbaris (HEIHO), karena menderita penyakit jantung beliau tak dapat menguasai dirinya dan nyaris pingsan. Untunglah datang pertolongan dari seseorang yang tidak dikenal dan orang itu memberi sejumlah gula-gula yang kemudian langsung dimakan oleh beliau, namun ketika menoleh orang tersebut menghilang, Alhamdulillah berkat rahmat Alloh SWT beberapa hari dari hari kemudian beliau dikembalikan ke Pondok Lirboyo karena dinyatakan tidak bersalah, padahal pada zaman itu bila ada orang yang tertangkap NIPPON tidak akan pulang dengan selamat. Sudah menjadi ciri khas Pondok Pesantren, diadakan pengajian kitab kuning secara klasik (Bandongan). Begitupun di Pon-Pes Lirboyo, juga mengadakan pengajian kitab kuning, diantaranya kitab “RIADUSSOLIHIN” yang diasuh oleh K.H. Marzuki Dahlan (Alm) namun sangat disayangkan, beliau waktu itu tidak mengikuti pengajian tersebut sampai khatam sebab penyakit jantung yang dideritanya semakin parah, akan tetapi semangat beliau tetap menyala, sehingga pada suatu malam beliau mengaji kitab Riadussolihin tersebut bersama K.H. Marzuki Dahlan. Ketika beliau terbangun dari tidurnya sungguh-sungguh beliau dapat menguasai apa yang apa yang terkandung didalamnya. Pada waktu beliau berada di Pondok Lirboyo, beliau pernah menjabat sebagai lurah pondok. Diawal tahun 1957,beliau bersepakat dengan rekan-rekannya memohon K.H. Marzuki Dahlan agar berkenan membacakan kitab Ihya’ Ulumuddin. Tepat tanggal 25 Januari 1957, pengajianpun digelar untuk pertama kalinya yang langsung dibacakan oleh K.H. Marzuki Dahlan. Sudah menjadi tradisi pondok Lirboyo apabila santri yang sudah tamat dan mampu untuk mengajar akan ditugaskan sebagai guru, sebagai mana juga dengan beliau. Akan tetapi beliau masih ingin memperdalam ilmu-ilmu yang dipelajarinya, hingga akhirnya memutuskan untuk pindah ke pesantren yang berada di Jampes Kediri, namun di sana beliau juga diberi tugas yang sama dan hanya bertahan selama tiga bulan lalu memutuskan untuk kembali ke Lirboyo hingga mengakhiri masa baktinya. MENUJU PELAMINAN Eksistensi manusia pasti tidak lepas dari kodrat irodatnya Alloh SWT. Begitu juga beliau yang sudah berusia tiga puluh tahun dipandang cukup dewasa hingga akhinya datanglah masa menuju jenjang pernikahan. Sebagai bakti kepada orang tuanya pada tahun 1956 beliau mempersunting Robi’ah (15 thn) putri K.H. Abdul Mu’id (Sanggrahan). Namun sungguh semangatnya masih berkobar, walaupun sudah berkeluarga beliau masih ingin meneruskan pengajian kitab Ihya’ Ulumuddin di Pon-Pes Lirboyo. Tetapi demi naluri dan kehendak mertua, beliau pulang (mengakhiri masa mondoknya) bersama khatamnya kitab tersebut. Tanggung jawab yang menghadirkan suasana yang harmonis dalam keluarga bagaikan buah karya sepasang tangan yang saling kait, saling ikat, berat sama diangkat ringan sama dijinjing. Tauladan pernikahan yang didasari dengan cinta kasih dan izin Alloh SWT, sampai akhirnya beliau dikaruniai putra-putri yang sholeh dan sholehah sebagai berikut: 1. Khozihah (wafat). 2. Taslimatuddiniyah. 3. Rodliyah. 4. Badrus Sholeh (wafat). 5. Mushinatul Haulik (wafat). 6. Zainab. 7. Rohmatul Ummah. 8. Muthmainnah (wafat). 9. M. Zainal Arifin. 10. Imamul Muttaqin. MERINTIS PERJUANGAN Awal perjuangan,beliau berada dirumah mertua. Disana sudah berdiri sebuah masjid dan satu komplek pondok namun belum ada penghuninya sama sekali. Kurang lebih tiga bulan kemudian beliau mendirikan madrasah dan berhasil menghimpun 35 anak, setelah kira-kira setahun kemudian, seorang santri dari Cirebon yang semula mondok di Lirboyo pindah ke tempat beliau.Dengan berpacunya sumbu zaman bertambah pula santri beliau, hingga pada tahun 1967 sudah berjumlah 175 santri dari 90 anak yang mukim dan 85 anak yang nduduk (tidak mukim) Seperti perjuangan Rosululloh dalam menegakkan agama Islam, beliau juga menemui banyak cobaan dan rintangan. Akhirnya atas petunjuk dan perintah gurunya, pada tahun 1967 beliau pindah ke desa Tanjungtani yang terletak 1 Km sebelah timur desa Sangrahan. Kepindahan tersebut diikuti 145 santri(60 santri yang mondok 85 santri yang nduduk) sekaligus tempat diberi nama “TEGALREJO”. Dalam menjalani kehidupan di tempat baru, keadaan beliau sangat memprihatinkan, namun beliau tetap tabah dan bersabar, berkat ketabahan dan kesabaran beliau, lambat laun pondok pesantren pun semakin berkembang, yang semula ladang pertanian(Tegalan), hingga menjadi kota santri yang ramai(Rejo). Ibarat pepatah kata “Sehelai Benang Lama-Lama Menjadi Kain”, begitulah gambaran kehidupan beliau dari penderitaan dan kesengsaraan akhirnya ditemui pula kebahagiaan. Kebahagiaan itu semakin terasa dikala beliau menikahkan putri beliau yang pertama pada tahun 1975 dan di tahun 1976 beliau beliau mendapatkan panggilan untuk menunaikan ibadah haji serta ziaroh ke makam Rosululloh SAW. Dilain waktu ketika tidur, beliau mendapat kabar bahwa pondok Tegalrejo akan dijadikan tempat sidang Majelis Ulama’ seluruh Indonesia yang dipimpin oleh almarhum K.H. Abdul Wahab (Jombang). Beberapa hari kemudian beliau mendapat kabar bahwa pondok Tegalrejo akan dijadikan tempat sidang Majelis Ulama’ Se Jawa Timur(tahun 1980). Beliau bersyukur ke hadirat Alloh SWT, karena kabar yang beliau terima menjadi kenyataan.

Rabu, 10 Juni 2015

YPI AN NAHDLOH GONDANG NGANJUK

Posted by MBAH GAMPIL On 21.41 | No comments
Monggo BERSHOLAWAT & BERTAWASUL bersama BOLO MANAQIB KAB. NGANJUK dan YPI AN NAHDLOH .....kamis 11 juni 2015 jam. 19.00 wib di YPI AN NAHDLOH / SDI plus GONDANG LOR ( UST. ZUMRONI ) gondang. Monggo dpun sebar und. Meniko mg2 istiqomah , mujarrab lan berkah ....al fatihah...

Minggu, 07 Juni 2015

Abah Yasir Pasar Kec. Gondang Nganjuk

Posted by MBAH GAMPIL On 16.04 | No comments
Monggo BERSHOLAWAT & BERTAWASUL bersama BOLO MANAQIB KAB. NGANJUK dan YPI AN NAHDLOH .....kamis 11 juni 2015 jam. 19.00 wib di YPI AN NAHDLOH / SDI plus GONDANG LOR ( UST. ZUMRONI ) gondang. Monggo dpun sebar und. Meniko mg2 istiqomah , mujarrab lan berkah ....al fatihah...

Abah Yasir Pasar Kec. Gondang Nganjuk

Posted by MBAH GAMPIL On 16.04 | No comments
Monggo BERSHOLAWAT & BERTAWASUL bersama BOLO MANAQIB KAB. NGANJUK dan YPI AN NAHDLOH .....kamis 11 juni 2015 jam. 19.00 wib di YPI AN NAHDLOH / SDI plus GONDANG LOR ( UST. ZUMRONI ) gondang. Monggo dpun sebar und. Meniko mg2 istiqomah , mujarrab lan berkah ....al fatihah...

Senin, 01 Juni 2015

Masjid Senggowar Gondang Nganjuk

Posted by MBAH GAMPIL On 15.44 | No comments
Monggo BERSHOLAWAT & BERTAWASUL bersama BOLO MANAQIB KAB. NGANJUK , HABIB HUSEN , Habib HILMI & MAJLIS ROSO dlm rangka haflah paud .....minggu 07 juni 2015 jam. 19.00 wib di MASJID FATHUL HUDA Senggowar gondang. Monggo dpun sebar und. Meniko mg2 istiqomah , mujarrab lan berkah ....al fatihah...

Kamis, 21 Mei 2015

Kec. Brebek : Makam Wali Ketaq

Posted by MBAH GAMPIL On 17.52 | No comments
MAKAM WALI KETAQ Banyaknya peziarah yang datang berziarah ke Makam Ketaq-tempat dimakamkanya Almarhum Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Sholeh atau Tuan Guru Lopan yang mengajukan permintaan untuk diberikan semacam kenang-kenangan atas perziarahannya ke makam beliau menyebabkan pihak keluarga almarhum berpikiran bahwa yang paling tepat untuk kenang- kenangan tersebut adalah tulisan yang berisikan kiprah kehidupan beliu sebagai seorang Ulama’sekaligus seorang tokoh sosial kemasyarakat di Pulau Lombok dengan berbagai aktivitas. Lebih-lebih para peziarah yang datang dari luar daerah seperti dari Banjarmasin, Banyuwangi, Banten, Jakarta dan daerah lainnya. Di harapkan tulisan ini juga berfungsi sebagai upaya mengenang dan melestarikan jasa-jasa beliau hingga dapat dijadikan suri tauladan akan ketulusan, keikhlasan, dan ketidakpamrihan beliau dalam berdakwah menyuburkan pelaksanakan syariat Islam dikalangan para penganutnya. Perlu kita ketahui bahwa kiprah beliau bukan semata di bidang agama ( Islam ) tapi yang tak kalah pentingnya berbarengan dengan itu adalah upaya dibidang kesejahteraan sosial masyarakat Sasak dengan membangun mbung-mbung (dam/ bendungan) yang berskala kecil maupun cukup besar (Ukuran swadaya masyarakt kewtika itu) disamping juga merintis Pembuatan Jalan dan Jembatan, melakukan Penghijauan diberbagai kebun-kebun milik rakyat maupun kawasan hutan di Pulau Lombok.

Rabu, 25 Maret 2015

BEA SISWA : KYAI MOJO

Posted by MBAH GAMPIL On 20.37 | No comments
Makam Kyai Mojo terletak di perbukitan di Desa Wulauan, Kecamatan Tolimambot, Minahasa, Sulawesi Utara, hanya beberapa menit setelah melewati Kampung Jawa Tondano, atau kampung “Jaton”, perkampungan berpenghuni lebih dari 1800 jiwa keturunan pengikut Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Tondano pada 1929, serta keturunan pejuang lainnya yang dibuang Belanda ke Kampung Jaton ini. Kyai Mojo adalah penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang mengobarkan Perang Jawa melawan pasukan kolonial Belanda pada 1825 – 1830. Kompleks Makam Kyai Mojo ini jauh lebih baik lokasi dan suasananya ketimbang Kompleks Makam Pangeran Diponegoro yang relatif sempit dan berada di tengah keramaian kota Makassar. Ketika tiba pintu pagar Makam Kyai Mojo terkunci, dan karena terlalu lama menunggu, kami masuk melalui bawah pagar. Jika saja dipajang di pintu pagar nomor telepon penjaga maka kami tidak perlu kerepotan. Sangat sayang jika harus putar badan setelah jauh-jauh ke sana, seperti orang di mobil lain yang langsung pergi setelah melihat pintu pagar makam terkunci. Ada tengara yang dipahat di dinding tembok kiri pintu gerbang, yang menunjukkan pemugaran kompleks Makam Kyai Mojo diresmikan oleh Prof. Dr. Haryati Soebadio pada 1981. Untuk sampai ke Makam Kyai Mojo, ada beberapa undakan lagi di sebelah kanan area puncak undakan pertama yang terlihat rapi dan bersih, diteduhi rimbun dedaunan dan dihiasi rerumputan hijau. Undakan menuju ke puncak bukit dimana Makam Kyai Mojo berada, dengan papan nama serta penjelasan singkat tentang Makam Kyai Mojo serta papan nama Pahlawan Nasional KH Ahmad Rifa’i. Undakan ini berjarak 100 meter dari tepi jalan dimana pintu pagar pertama berada. Beruntung bahwa pintu pagar kedua di undakan ini tidak terkunci. Papan nama di Makam Kyai Mojo itu menceritakan bahwa rombongan Kyai Mojo yang tiba di Tondano pada akhir tahun 1929 itu berjumlah 63 orang, dan semuanya laki- laki. Mereka kemudian menikah dengan wanita Minahasa, diantaranya bermarga Supit, Sahelangi, Tombokan, Rondonuwu, Karinda, Ratulangi, Rumbajan, Malonda, Tombuku, Kotabunan, dan Tumbelaka, dan kemudian beranak pinak di Kampung Jaton di Tondano itu. Papan itu juga menyebutkan bahwa Kyai Mojo, yang nama aslinya adalah Kyai Muslim Muhammad Halifah, lahir pada 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849. Kampung Jawa Tondano adalah merupakan komunitas yang sebagian besar penduduknya beragama Islam, di tengah mayoritas penduduk Tondano yang beragama Kristen, namun mereka hidup berdampingan dengan baik.

Blogroll

Blogger templates

About