ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Minggu, 01 April 2012


"Sunan Muria & Karomah Secepat Kilat"

Sejak kecil, Raden Umar Said telah menunjukkan sifat-sifat yang utama. Ia saleh, cerdas, berbakti kepada kedua orang tua, rendah hati, dan suka membantu sesamanya. Pada usia sepuluh tahun, ia telah menghafal hampir seluruh isi Al Qur’an.

Hal ini tidaklah terlalu mengherankan. Umar Said merupakan putera dari manusia-manusia utama. Ayahnya adalah Sunan Kalijaga dan bundanya adalah Siti Saroh, murid Sunan Ampel dan adik Sunan Giri. Tentu saja, semua sifatnya itu diturunkan dari ayah bundanya.

Umar Said pun rupanya banyak mendapat ilmu dari beberapa walisongo. Dari Sunan Giri, ia dapat ilmu berlari cepat yang luar biasa. Dari Sunan Bonang ia mendapat ilmu cara memasang tiang utama mesjid hanya dengan dorongan tangan. Sunan Gunung Jati pun tidak mau kalah, ia memberi ilmu mengangkat air dengan kekuatan tenaga dalam. Tanpa direncanakan, Raden Umar Said telah menimba ilmu dari ketiga sunan tanpa sepengetahuan ayahnya. Tentu saja bocah kecil itu sangat gembira.

Di usia ketujuh belas, Umar Said telah mendapat tugas dari ayahnya untuk berdakwah. Awalnya, pemuda remaja itu sangat ragu. Ia merasa ilmunya belumlah sempurna. Namun ayahnya terus mendorong dan menyemangati. “Berdakwah dan mencari ilmu itu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Berdakwah bukan berarti kita berhenti untuk mencari ilmu. Berdakwah justru semakin membuat kita bersemangat untuk mempelajari berbagai jenis ilmu,” kata ayahnya.

Dengan mantap, Umar Said pun pergi meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan keagungan Islam pada masyarakat. Dakwahnya dimulai dari kalangan anak-anak dan remaja. Ia menanamkan akidah mereka melalui aneka permainan anak-anak, seperti gasing misalnya. Namun kegiatan ini bukannya tidak ada hambatan. Karena di antara mereka ada juga yang tidak suka bila dinasehati dengan siraman rohani. Mereka biasanya langsung pergi.

Tapi di antara mereka ada juga yang kemudian mengajukan pertanyaan. Menghadapi hal ini maka Umar Said menjawabnya dengan lemah lembut. Suatu hari pernah karena Umar Said selalu menang kalau bermain maka anak-anak itu jadi tidak mau bermain lagi alias kapok. Tidak jarang pula mereka jadi dendam dan mengajak Umar Said bertaruh.

Namun Umar Said dengan lemah lembut menolak ajakan itu dan dia menjelaskan bahwa permainan yang berbau judi itu tidak baik dan dilarang oleh agama sambil menjelaskan ayat-ayat tentang judi. Karena musuhnya itu tidak terima maka dia mengundang teman-temannya untuk mengeroyok Umar Said. Umar Said yang sudah memiliki bekal kesaktian dari para gurunya di atas tentu saja tidak gentar menghadapi tantangan itu namun dia juga dia tidak mau pamer ilmu kanuragannya. Paling-paling dia hanya melindungi diri kalau diserang. Meskipun akhirnya musuhnya itu kalah setelah Umar Said diam-diam mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya.

Demikianlah, seiring dengan bertambahnya pengalaman dalam dakwah, bertambah pula kematangan ilmunya. Tanpa terasa, Umar Said telah menjelajahi desa-desa di sekeliling Gunung Muria. Daerah yang selama ini belum tersentuh oleh dakwah Islam. Umar Said hanyut dalam denyut kehidupan para penduduk yang terdiri dari berbagai bidang profesi atau pekerjaan, seperti nelayan, pedagang, petani, dan rakyat jelata.

Kepada petani, Umar Said banyak memberikan pengetahuan cara bertanam padi yang baik dan bagaimana cara merontokan padi. Umar Said pun memberikan pengetahuan bagaimana cara membuat saluran pengairan/irigasi yang baik. Gara-gara masalah inilah Umar Said harus berhadapan dengan seorang juragan bernama Marto yang merasa dirugikan oleh tindakan Umar Said. Ya, Juragan Marto adalah tokoh informal di desa itu. Kekayaannya menyebar di mana-mana, dari mulai bidang pertanian, perdagangan sampai kelautan dia kuasai.

Namun sayang dia punya perangai yang buruk yakni jahat, suka memeras atau merampas hak orang lain, dan mau untung sendiri. Selama ini penduduk selalu dirugikan oleh sistim irigasi yang diatur oleh Juragan Marto. Penduduk pun tidak berani memprotesnya. Setelah Umar Said turun tangan barulah penduduk merasa ada membela. Umar Said nyaris celaka karena dikeroyok oleh anak buah Juragan Marto. Namun ternyata justru Umar Saidlah yang menang. Sejak itu Juragan Marto menaruh dendam pada Umar Said.

Di bidang perdagangan pun, Umar Said ikut ambil bagian dengan memberikan pengarahan kepada penduduk bagaimana berdagang yang benar. Dari mulai menentukan harga (mengambil keuntungan secara wajar), tidak aji mumpung ambil untung, jujur, terakhir cara membuat dagangan cepat laris yakni dengan doa-doa yang manjur kepada Allah SWT. Karena kepandaian Umar Said dalam berkomunikasi maka dalam waktu singkat banyak pedagang yang tertarik dan mau mengikuti ajaran Umar Said.

Sejak para pedagang bergabung dengan Umar Said, dagangan mereka di pasar memang mengalami kemajuan yang cukup lumayan. Namun lagi-lagi Umar Said harus berhadapan dengan Juragan Marto yang selama ini banyak memasok bahan dagangan kepada para pedagang. Namun belakangan para pedagang beralih kepada pemasok lain yang lebih murah harganya. Juragan Marto marah karena barang-barang dagangannya menumpuk nggak laku di gudang. Dia mengalami rugi besar-besaran. Setelah tahu bahwa biang keladinya adalah Umar said maka Juragan Marto pun berencana hendak membunuhnya. Jagoan-jagoan hebat pun disiapkan oleh Juragan Marto. Namun sayang ketika ketika para jagoan ini berhadapan dengan Umar Said maka yang terjadi adalah mereka mengaku takluk kepada Umar Said dan berniat mau belajar agama padanya. Disini rupanya Umar Said memberikan banyak butir-butir keimanan melalui cuplikan ayat-ayat Kitab Al-Qur’an.

Jumlah pengikut Umar Said makin bertambah. Selama ini mereka belajar agama dengan berpindah-pindah tempat, kadang memanfaatkan pelataran rumah ataupun kebun. Bagi Umar Said keadaan ini tentu tidak baik, sebab mereka sering kehujanan ataupun kepanasan. Karena itu terbesit di hati Umar Said untuk membuat sebuah padepokan yang permanen. Demikianlah, pada suatu hari Umar Said berhasil mengajak sejumlah muridnya membangun padepokan semi permanen di atas sebidang tanah milik salah seorang muridnya. Namun belum selesai bangunan itu dibuat tiba-tiba Juragan Marto beserta anak buahnya mendatangi mereka untuk melakukan protes sebab tanah itu diklaim sebagai tanahnya. Terjadi adu argumentasi. Juragan Marto menang karena pemilik awal tanah itu punya sangkutan hutang dengan Juragan Marto. Akhirnya bangunan itupun dihancurkan lagi. Dari kejadian ini Umar Said jadi tahu bahwa banyak tanah di wilayah itu dikuasai oleh Juragan Marto yang kafir itu.

Setelah pikir-pikir akhirnya pilihan jatuh pada lereng Gunung Muria. Bersama para muridnya Umar Said mendirikan sebuah padepokan/pesantren di sana, tepatnya Desa Cala. Menuju pusat pesantren dibangun tangga batu setinggi tujuh ratus lima puluh meter. Hal ini dimaksudkan agar para santri mempunyai jiwa yang kuat, juga mempunyai fisik yang sehat. Hal inilah yang membuat orang-orang di sekitar Gunung Muria menyebut Umar Said sebagai Sunan Muria.

Sangat banyak rakyat kecil yang tertarik pada dakwahnya. Apalagi ia menyertakan gamelan, tembang, dan wayang. Kesenian yang sangat digemari masyarakat pada masa itu. Sebelum ceramah dimulai, Sunan Muria dan para muridnya membunyikan gamelan dan mengalunkan tembang-tembang ciptaannya. Suara indah dan merdu itu mengundang banyak orang untuk datang. Setelah masyarakat banyak berkumpul, barulah dakwah yang sebenarnya disampaikan.

Di padepokannya, selain mengkaji Islam, Sunan Muria juga mengajarkan tata krama dzikir. Di bawah bimbingan tasawuf Sunan Muria, orang-orang membenamkan diri untuk dzikir kepada Alloh. Hatinya senantiasa ingat kepada Alloh sambil di lisankan oleh bibirnya yang tak pernah kering mengucapkan kalimat Thoyyibah dan kalimat Risalah: "La Ilaha Illa Alloh Muhammadur Rosululloh". Dengan tangan tak henti menghitung butiran-butiran tasbih kadang diiringi goyangan lirih badannya dari kanan ke kiri sebanyak hitungan dzikir yang dilisankan dengan suasana pelan dan syahdu.

Pada awalnya Sunan Muria mengajari santri-santrinya belajar ngaji diawali dengan menghafalkan huruf Hijaiyah setelah lancar, baru bisa melanjutkan Juz ‘ama, setiap malam beliau tak ketinggalan sholat malam dan wirid. Suatu malam Sunan Muria ketika melakukan wirid didatangi oleh 29 orang (Khadam) di depan sejadah tempat beliau ngewirid dan mengaku pemilik jurus Hijaiyah dari alif s/d ya. Dan beliau tertegun dan sempat kebingungan melihat kedatangan 29 orang tersebut, dan ke-29 orang tersebut meminta kepada Susan Muria untuk menjadikannya kemampuan masing-masing silat Hijaiyah untuk dijadikan ilmu beladiri silat untuk menyebarkan syiar islam. Setelah mengalami obrolan panjang akhirnya sunan pun menerima keinginan ke 29 orang tersebut untuk dijadikan silat Hijaiyah untuk syiar agama islam. Setelah memberi hadarah kepada pemiliknya sunan pun keesokan harinya membicarakan kepada wali songo tentang hal tersebut dan oleh dewan wali songo menyetujui untuk mempelajari silat Hijaiyah untuk tujuan syiar Islam pada masa itu. dalam prakteknya silat ini diambil dari huruf-huruf hijaiyah yang ada di Al-Qur'an yaitu alif s/d ya. Untuk tiap-tiap jurus terdiri dari kembangan an - in - dan un.

Kemudian agar pengembangan dakwah berjalan dengan baik, Sunan Muria meminta setiap desa untuk mengirimkan pemuda-pemuda terbaiknya ke Cala. Mereka belajar mengaji, lalu menyebarkan ilmunya ke daerah asal mereka masing-masing. Juragan Marto melarang para pekerja atau anak buah beserta keluarganya mengikuti anjuran itu. Juragan Marto juga mengancam akan membunuh bagi yang melanggarnya. Namun belakangan ada juga yang nekad melanggarnya. Saat orang tersebut hendak dihabisi nyawanya oleh anak buah Juragan Marto, maka Sunan Muria datang menolongnya. Sejak itu Juragan Marto seperti kehabisan akal lagi untuk mencegah ajaran Sunan Muria berkembang di wilayah itu.

Suatu hari, datang seorang lelaki, yang tiada lain adalah salah seorang guru Sunan Muria yakni Ki Ageng Ngerang. Kedatangannya selain untuk melihat kemajuan pesantren Sunan Muria juga mengundang Sunan Muria pada acara tasyakuran putri Ki Ageng Ngerang, Dewi Roroyono yang kedua puluh. Sunan Muria pun menyanggupi untuk datang pada acara tersebut.

Keesokan harinya Sunan Muria pun pergi ke tempatnya Ki Ageng Ngerang. Rupanya hal ini sudah diketahui oleh Juragan Marto yang selama ini menaruh dendam pada sunan. Maka Juragan Marto pun mengatur siasat. Mereka hendak menghadang sunan di tengah perjalanan caranya dengan pura-pura bekerja di sawah agar tidak mencolok.

Demikianlah, di suatu persawahan yang terlindung pepohonan yang lebat, Sunan Muria terhenti langkahnya karena mendengar suara “krubyuk-krubyuk” yaitu suara air yang disebabkan oleh gerakan tertentu. Sesungguhnya suara itu berasal dari langkah-langkah orang disawah yang berair. “Suara apakah yang krubyuk-krubyuk di malam sepi begini?” tanya Sunan Muria dalam hatinya. Sunan lalu mengeceknya sendiri.

Kemudian, diketahui bahwa suara itu berasal dari langkah-langkah Juragan Marto bersama para anak buahnya yang sedang pura-pura mencabuti bibit padi untuk di tanam di sawah keesokan harinya. “oh, kukira tadi suara bulus.” Kata Sunan Muria dengan lembutnya. Konon, kata-kata Sunan itu menjadi kenyataan. Juragan Marto dan para anak buahnya yang sedang mencabuti bibit padi itu berubah menjadi bulus atau kura-kura. Tentu saja mereka pun terkejut dan bersedih hati menyadari nasibnya yang malang itu.

Maka Juragan Marto yang kini telah menjadi seekor bulus itu memohon maaf kepada Sunan Muria dan minta dikembalikan kepada wujud aslinya.

Sesungguhnya hati Sunan Muria merasa terharu menyaksikan peristwa itu. Akan tetapi beliau pun tersenyum sambil berkata dengan lembutnya. “Wahai sanak kerabatku, aku sendiri ikut prihatin terhadap musibah ini, namun haruslah kukatakan bahwa semua ini sudah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu terimalah dengan iklas dan bertawakallah kepada Sang Pencipta.” Lalu, Bulus Juragan Marto bilang bahwa sekiranya memang demikian takdir mereka, lantas bagaimana mereka memperoleh kehidupan?

Hati Sunan Muria semakin pilu mendengar permohonan itu. Setelah beliau bertafakur sejenak sesaat kemudian dengan tangkas menusukkan tongkatnya ke dalam tanah. Pada saat Sunan mencabut tongkatnya muncullah air yang jernih. Dalam waktu sekejap saja tempat itu telah menjadi kolam atau sendang. “Dengarlah wahai para bulus tempat ini telah menjadi sumber air abadi dan kelak akan mejadi desa yang ramai dengan nama Sumber. Bersabarlah kalian disini karena makanan apapun yang kalian inginkan akan datang sendiri.” Setelah berkata demikian bergegaslah Sunan Muria pergi meninggalkan tempat itu sehingga para bulus tak sempat menyampaikan terima kasihnya. Sejak itu orang-orang setempat menyaksikan sebuah kolam atau sendang yang banyak bulusnya. Sampai sekarang sendang sumber itu masih dikeramatkan.

Ternyata, kedatangan Sunan Muria ke tempatnya Ki Ageng Ngerang adalah rencana Allah untuk memberi hadiah bagi Sunan Muria. Ki Ageng Ngerang berniat untuk menjodohkan putrinya dengan Sunan Muria. Karena Dewi Roroyono adalah seorang putri yang salehah dan halus budi, Sunan Muria pun menyetujuinya.

Mendengar rencana itu maka membuat Pathak Warak cemburu berat. Maklum, Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempersona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Pada malamnya, timbul masalah. Dewi Roroyono hilang dari kamarnya. Ternyata, ia diculik oleh Adipati Pathak Warak. Kontan, itu membuat geger. Sunan Muria karena merasa bertanggung jawab maka dia segera pergi mencari Dewi Roroyono.

Tetapi, di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling. Sunan Muria pun menjelaskan permasalahannya. Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua langsung menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono. Mereka menyarankan agar Sunan Muria kembali ke Gunung Muria. Karena para Sunan Muria sangat membutuhkan bimbingan. Mereka berjanji Sunan Muria tetap berhak mengawini gadis itu. karena mereka hanya sekedar membantu.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria. Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang untuk mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak. Disini beliau meminta Pathak Warak mengembali Dewi Roroyono. Namun jawaban Pathak Warak membuat Sunan Muria kaget. Sebab gadis itu sudah dibawa pergi Kapa dan Gentiri. Pathak Warak sendiri saat itu mau merebut kembali gadis itu dari Kapa dan Gentiri. Sunan Muria bilang bahwa Dewi Roroyono telah dijodohkan dengannya. Pathak Warak kaget da tidak terima. Maka mereka pun berkelahi.

Pathak Warak menyerang Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan. Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana, kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Dewi Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.

Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan. Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.

Namun tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apalagi.

Hanya penyesalan yang menghujam di dada. Mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka.

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.

Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka. Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas, akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari.

Tak seorangpun yang mengetahuinya. Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah, yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke Pulau Seprapat.

Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang. Datuk di Pulau Seprapat. Ini biasa dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Seprapat itu tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk. Kapa dimarahi oleh Wiku Lodhang datuk agar menyerahkan istri kakak seperguruannya itu segera. Tapi Kapa bersikeras tidak mau dengan berbagai alasan. Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama.Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek di tanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa. Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.

Ternyata, serangan dengan mengerahkan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan. Karena Kapa mempergunakan aji pemungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu akhirnya merengut nyawanya sendiri. Sunan Muria minta maaf kepada Wiku Lodhang Datuk atas kejadian itu. Wiku Lodhang Datuk rupanya memakluminya. Dengan langkah gontai sang Wiku mengangkat jenazah muridnya. Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.

Ada beberapa ajaran akhlak yang diwariskan dari Sunan Muria. Pertama adalah ajaran tentang kesucian hidup., Kedua, menegakkan kemuliaan diri. Ketiga, mengembangkan akhlak yang luhur. Keempat, berlaku baik kepada tetangga dan kerabat. Kelima, harus saling memaafkan. Keenam, harus saling menyelamatkan. Ketujuh, tidak boleh berbuat zalim.

SYEIKH NUR RAHMAT SENDANG DUWUR

Posted by Unknown On 02.56 | No comments

Wali Songo "Sunan Sendang Duwur & Karomah Memindah Masjid Dalam Semalam"


"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujaadalah : 11)

Malam tiba. Nampak Sunan Sendang Duwur sedang melakukan sholat Tahajud, sementara itu dua laki-laki (Taruna dan Taruni) nampak mengendap-endap akan mencuri di lumbung pagi milik Sunan Sendang Duwur. Dua laki-laki itu nampak sombong dan senang karena mereka sangat lihai sebagai maling. Ia tidak sadar jika Sunan Sendang Duwur menatap mereka dari jauh. Mereka keluar dari lumbung, namun saat membawa beras itu, kian lama mereka merasa kian berat dan berat. Dua pencuri nampak keberatan dan terjatuh. Mereka penasaran dan membuka dua karung mereka. Ternyata isinya adalah ular yang sangat banyak. Dua pencuri menjerit ketakutan.

Mendengar teriakan suara minta tolong, Warga berdatangan memukul kentongan dan mengepung Taruna dan Taruni. Warga nyaris menghakimi keduanya karena ternyata dalam POV warga, beras yang ada dalam karung itu. Taruna dan Taruni ngotot dalam beras itu adalah ular bahkan mereka sudah tergigit. Muncullah Sunan Sendang Duwur. Dengan tenang Sunan Sendang Duwur minta pada warga agar sabar. Sunan Sendang Duwur lalu bertanya pada Taruna dan Taruni apa benar mencuri. Taruna dan Taruni akhirnya mengaku. Dengan petuahnya, Sunan Sendang Duwur menyadarkan Taruna dan Taruni. Taruna dan Taruni sangat malu dan berjanji tidak akan mencuri lagi dan mau mengikuti segala ajaran Sunan Sendang Duwur, yang sudah menyelamatkan mereka dari kepungan warga. (Catatan : kisah aslinya Taruna dan Taruni adalah dari bangsa Jin yang di Islamkan oleh Sunan Sendang Duwur).

Sejak itu, padepokan Sunan Sendang Duwur nampak ramai dipenuhi warga yang ingin menuntut ilmu pada Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur mengajak warga makan ketupat dan memberikan filosofis dari ketupat itu. Sunan Sendang Duwur mengajarkan papat (empat hal) yang harus dijauhi yakni judi, zina, minuman yang diharamkan dan mencuri barang milik orang lain. Taruna dan Taruni nampak malu mendengarkan petuah tersebut. Kata Sunan Sendang Duwur, jika papat (empat) hal itu dilanggar, jangan salahkan, Allah pasti akan memberikan azab kepada warga atau daerah itu.

Ajaran Sunan Sendang Duwur yang dihapalkan oleh warga, ternyata membuat seorang Kepala Desa Sarimbit, bernama Raden Jinggo yang terkenal sombong penasaran. Raden Jinggo yang selama ini memberikan ajaran pada warganya bahwa hidup ini harus dinikmati dengan apapun karena hidup hanya sekali, berkata siapapun yang ikut ajaran Sunan Sendang Duwur, dia adalah orang bodoh. Untuk apa menyiksa diri hanya untuk beribadah? Sebaiknya hidup sekali ini untuk senang-senang saja. Raden Jinggo sangat benci pada warganya yang melalukan sholat karena merasa sholat itu ritual yang tidak ada untungnya. Raden Jinggo sangat membenci syiar Sunan Sendang Duwur. Setiap ada warga desa Sarimbit yang akan mengaji ke Desa Sendang Duwur, Raden Jinggo akan mencegat dan memaksa agar tidak meneruskan mengajinya. Raden Jinggo justru memaksa warga agar rajin ngalap berkah pada kuburan eyangnya, Mbah Cokroatmojo yang sudah meninggal. Raden Jinggo yakin, Mbah Cokroatmojolah yang selama ini memberikan desa mereka ketentraman dan kekayaan.

Raden Jinggo yang mengaku sakti setelah melakukan ngalap berkah dan minta kekuatan pada Mbah Cokro menunjukkan banyak kehebatannya. Saat ngalap berkah ia bisa menjadi seperti orang kesurupan, dan dari situ ia bisa menebak kejadian apapun. Banyak warga yang minta nomor pada Raden Jinggo untuk judi. Dan tebakan Raden Jinggo selalu benar hingga banyak yang percaya pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata, Mbah Cokro memang ampuh dan banyak memberikan petunjuk. Raden Jinggo juga bisa memberikan ilmu kekebalan seperti dirinya yang tahan dari bacokan benda setajam apapun. Banyak yang takjub dengan keskatian yang dimiliki Raden Jinggo. Kini Raden Jinggo dianggap seperti dewa gara-gara Mbah Cokro. Suatu ketika, Yu Tari menghadap pada Raden Jinggo karena anak gadisnya, Sutini belum juga kawin. Ia takut Sutini jadi perawan tua. Raden Jinggo Yu Tari minta agar Raden Jinggo mencarikan jodoh untuk anaknya.

Raden Jinggo minta agar Sutini dan Yu Tari semedi di kuburan Mbah Cokro tanpa peduli, siang dan malam. Tak lupa memberikan sesaji apapun yang diminta Mbah Cokro, lewat Raden Jinggo. Kata Raden Jinggo Mbah Cokro minta agar Yu Tari menyediakan air dari 7 sumur penduduk yang diambil tanpa ada yang tahu. Yu Tari menyanggupi demi anaknya agar tidak jadi perawan tua. Diam-diam Yu Tari lalu mengambil air dari 7 sumur itu. Namun naas, saat ia mengambil di sumur 7 milik Pak Cipto, warga melihat dan mengira Yu Tari adalah maling. Semua mengepung heboh. Yu Tari nangis-nangis dan menjelaskan pada ia lakukan ini karena petunjuk Raden Jinggo. Warga lalu membawa Yu Tari pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata benar, apapun petunjuk Raden Jinggo harus dijalankan dengan baik. Yu Tari dinasehati tetangga yang ngaji pada Sunan Sendang Duwur, yaitu Kang Jarwo dan istrinya. Kang Jarwo karena apa yang dilakukan Yu Tari itu bid'ah. Dengan tutur polos Kang Jarwo ngajak Yu Tari dan Sutini ngaji pada Sunan Sendang Duwur saja. Minta petunjuk yang sesuai Al Qur'an agar tidak menambah dosa. Akhirnya Yu Tari diam-diam ikut Kang Jarwo ngaji di padepokan Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur dengan prihatin menjelaskan semua yang dilakukan Raden Jinggo adalah musrik dan sirik! Sunan Sendang Duwur minta pada Yu Tari untuk bertaubat.

Sementara itu saat malam Jumat Kliwon saat sepeti biasa warga ngalap berkah bersama Raden Jinggo di kuburan Mbah Cokro, Raden Jinggo mencari Yu Tari yang tidak datang. Salah satu warga bilang, Yu Tari sekarang ngaji Yasinan di padepokan Sunan Sendang Duwur bersama Kang Jarwo dan istrinya. Selama ini Kang Jarwo memang selalu menolak jika ikut ritual ngalap berkah Raden Jinggo. Betapa marahnya Raden Jinggo begitu tahu ada warga yang menolak apa yang ia perintahkan. Suatu hari, ketika Yu Tari, Kang Jarwo dan istrinya akan ke Sendang Duwur, di tengah jalan Raden Jinggo mencegat keduanya. Saat itu, diam-diam anak Sutini melihat kejadian itu. Sambil menangis Sutini menceritakan apa yang terjadi. Betapa sedih dan kagetnya Sunan Sendang Duwur mendengar apa yang terjadi. Sunan Sendang Duwur berkata ia akan mendatangi Raden Jinggo.

Raden Jinggo sedang di kuburan Mbah Cokro, seperti biasa ia minta berkah pada eyangnya. Tak lupa ia memberikan sesaji semua kesenangan Mbah Cokro semasa hidup. Dari ayam ingkung sampai rokok klembak. Semua warga nampak memberikan sesaji sambil menyampaikan keinginan mereka. Ketika giliran Kang Jarwo dan istrinya diminta maju untuk menyampaikan apa keinginannya, Kang Jarwo menolak. Ia hanya akan minta pada Gusti Allah, bukan pada Mbah Cokro. Dengan marah Raden Jinggo menyuruh anak buahnya menyeret Kang Jarwo dan istrinya. Sampai di luar pekuburan Raden Jinggo bersiap akan memberikan hukuman pada keduanya karena dianggap sudah bersikap tidak hormat pada leluhurnya. Saat Raden Jinggo akan melayangkan pukulan, tiba-tiba ada yang menahannya. Dialah Sunan Sendang Duwur. Betapa kagetnya Raden Jinggo melihat siapa yang datang.

Dengan bijaksana Sunan Sendang Duwur menasehati Raden Jinggo bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Jinggo adalah hal yang sangat salah. Kata Sunan Sendang Duwur, ngalap berkah ke kuburan-kuburan dan meminta-minta kepada orang yang telah mati adalah syirik akbar. Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka, Wal'iyadzu billah. Allah berfrrman : "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya, dan Allah mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa': 48).

Betapa marahnya Raden Jinggo mendengar nasehat Sunan Sendang Duwur. Apalagi Sunan Sendang Duwur berkata, jangan salahkan jika Allah Murka dan memberi bencana untuk menghapus kemusrikan itu. Raden Jinggo menantang. Jika benar, datangkan bencana saat itu juga. Dengan tenang, Sunan Sendang Duwur mengangkat tangannya. Saat itu juga, muncul angin besar menerjang desa itu. Semua nampak terbang. Suasana nampak kacau. Warga yang sedang melaksanakan ritual ngalap berkah kalang kabut ketakutan. Raden Jinggo juga nampak kebingungan. Tiba-tiba karena angin teramat kuat, Raden Jinggo akhirnya terpental. Raden Jinggo benar-benar ketakutan. Raden Jinggo berkata jika, Sunan Sendang Duwur bisa menghentikan bencana ini, ia berjanji akan mengajak warga bertaubat dan mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Raden Jinggo berkata ia masih belum mau mati.

Tak lama kemudian Sunan Sendang Duwur berdoa. Sunan Sendang Duwur yang memang sudah dikenal sebagai Sunan yang sangat sakti mohon kekuatan pada Allah. Ia lalu menghentakkan Tombak Abirawa miliknya. Tak lama kemudian, angin perlahan redup dan suasana kembali tenang. Namun keadaan sudah porak poranda. Semua sesaji bertebaran ke mana-mana… (Catatan : Sunan Sendang Duwur memang memiliki sebuah senjata sakti yang disebut Tombak Abirawa, dengan panjang sekitar 6 meter. Pusaka berupa tombak itu, diyakini memiliki tuah, yaitu menghilangkan bencana atas seizin Allah SWT). Raden Jinggo yang terluka nampak kesakitan. Sunan berkata cobalah minta pertolongan pada Mbah Cokro agar sakitnya hilang. Raden Jingga tak mampu berbuat apa-apa karena tak mungkin. Sunan lalu minta agar Raden Jinggo bertaubat mohon pertolongan Allah dan menjelaskan bahwa orang yang meninggal itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi mana bisa memberi pertolongan pada keluarganya?

Akhirnya Raden Jinggo berkata ia memenuhi janjinya. Ia akan mengajak warga mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Kini warga desa Sarimbit berbondong-bondong mengaji pada Sunan Sendang Duwur dipimpin oleh Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata pada semua jamaahnya, Ojo demen-demen marang dunyo senengo marang sing nggawe donyo. Ojo gething-gething marang donyo sebab nduk jerone dunyo onok sing nggawe donyo. Jangan terlalu senang terhadap dunia senanglah terhadap yang membuat dunia. Jangan terlalu benci terhadap dunia sebab di dalam dunia ada yang membuat dunia. Betapa senangnya hati Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur pun berfikir untuk membuat masjid yang lebih besar agar bisa lebih banyak menampung Jamaah di Desa Sendang Duwur.

Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid. Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut dan akan membelinya dengan sejumlah uang. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu. Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Ia yakin Allah pasti akan membantunya. Sunan Drajad sang sahabat sekaligus gurunya muncul dan semakin menguatkan Sunan Sendang Duwur. Akhirnya ia semakin yakin. Bermalam-malam ia melakukan sholat Hajat. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur.

Betapa terkejutnya seluruh warga desa melihat kejadian itu. Dengan adanya masjid yang hanya dipindah dalam waktu semalam ternyata justru menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mengatakan Sunan Sendang Duwur adalah wali Allah, sebagian merasa itu sihir terbesar yang pernah ada.

Namun Sunan Sendang Duwur tetap tenang. Saat warga sedang berdebat, ia muncul dan berkata. Tidak ada sihir dalam agama Islam. Tapi ini karena karomah Allah. Jika sihir ia akan melakukan rital. Tapi ini adalah kekuatan doa. Warga masih tak percaya. Sunan Sendang Duwur menunjukkan bahwa Sunan Sendang Duwur tidak minta bantuan siapapun kecuali bantuan Allah SWT. Akhirnya Sunan Sendang Duwur berdiri di hadapan warga. Ia memegang sebuah batu yang sangat keras. Dengan kekuatannya, batu itu perlahan hancur dan menjadi pasir. Tak lama kemudian pasir itu berubah menjadi butiran emas. Semua warga jadi yakin. Sunan Sendang Duwur tidak memakai ritual apapun kecuali doa dan keyakinan pada Allah SWT. Ternyata apa yang dilakukan Sunan itu ada filosofinya. Hati manusia itu kadang seperti batu, tapi bisa dihancurkan dan jadi lembut, dan hati manusia bisa berkilau bila diasah dengan zikrullah dan keyakinan pada Allah. Semua kini makin paham...

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah).

Closing :

Raden Noer Rahmad atau Sunan Sendang Duwur akhirnya wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Sunan Sendang Duwur adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu….

MURID SUNAN DRAJAD

Posted by Unknown On 02.56 | No comments

Wali Songo "Sunan Sendang Duwur & Karomah Memindah Masjid Dalam Semalam"
1 2 3 4 5 (13 votes)
Tayang : Senin, 4 Oktober 2010, Pukul
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujaadalah : 11)

Malam tiba. Nampak Sunan Sendang Duwur sedang melakukan sholat Tahajud, sementara itu dua laki-laki (Taruna dan Taruni) nampak mengendap-endap akan mencuri di lumbung pagi milik Sunan Sendang Duwur. Dua laki-laki itu nampak sombong dan senang karena mereka sangat lihai sebagai maling. Ia tidak sadar jika Sunan Sendang Duwur menatap mereka dari jauh. Mereka keluar dari lumbung, namun saat membawa beras itu, kian lama mereka merasa kian berat dan berat. Dua pencuri nampak keberatan dan terjatuh. Mereka penasaran dan membuka dua karung mereka. Ternyata isinya adalah ular yang sangat banyak. Dua pencuri menjerit ketakutan.

Mendengar teriakan suara minta tolong, Warga berdatangan memukul kentongan dan mengepung Taruna dan Taruni. Warga nyaris menghakimi keduanya karena ternyata dalam POV warga, beras yang ada dalam karung itu. Taruna dan Taruni ngotot dalam beras itu adalah ular bahkan mereka sudah tergigit. Muncullah Sunan Sendang Duwur. Dengan tenang Sunan Sendang Duwur minta pada warga agar sabar. Sunan Sendang Duwur lalu bertanya pada Taruna dan Taruni apa benar mencuri. Taruna dan Taruni akhirnya mengaku. Dengan petuahnya, Sunan Sendang Duwur menyadarkan Taruna dan Taruni. Taruna dan Taruni sangat malu dan berjanji tidak akan mencuri lagi dan mau mengikuti segala ajaran Sunan Sendang Duwur, yang sudah menyelamatkan mereka dari kepungan warga. (Catatan : kisah aslinya Taruna dan Taruni adalah dari bangsa Jin yang di Islamkan oleh Sunan Sendang Duwur).

Sejak itu, padepokan Sunan Sendang Duwur nampak ramai dipenuhi warga yang ingin menuntut ilmu pada Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur mengajak warga makan ketupat dan memberikan filosofis dari ketupat itu. Sunan Sendang Duwur mengajarkan papat (empat hal) yang harus dijauhi yakni judi, zina, minuman yang diharamkan dan mencuri barang milik orang lain. Taruna dan Taruni nampak malu mendengarkan petuah tersebut. Kata Sunan Sendang Duwur, jika papat (empat) hal itu dilanggar, jangan salahkan, Allah pasti akan memberikan azab kepada warga atau daerah itu.

Ajaran Sunan Sendang Duwur yang dihapalkan oleh warga, ternyata membuat seorang Kepala Desa Sarimbit, bernama Raden Jinggo yang terkenal sombong penasaran. Raden Jinggo yang selama ini memberikan ajaran pada warganya bahwa hidup ini harus dinikmati dengan apapun karena hidup hanya sekali, berkata siapapun yang ikut ajaran Sunan Sendang Duwur, dia adalah orang bodoh. Untuk apa menyiksa diri hanya untuk beribadah? Sebaiknya hidup sekali ini untuk senang-senang saja. Raden Jinggo sangat benci pada warganya yang melalukan sholat karena merasa sholat itu ritual yang tidak ada untungnya. Raden Jinggo sangat membenci syiar Sunan Sendang Duwur. Setiap ada warga desa Sarimbit yang akan mengaji ke Desa Sendang Duwur, Raden Jinggo akan mencegat dan memaksa agar tidak meneruskan mengajinya. Raden Jinggo justru memaksa warga agar rajin ngalap berkah pada kuburan eyangnya, Mbah Cokroatmojo yang sudah meninggal. Raden Jinggo yakin, Mbah Cokroatmojolah yang selama ini memberikan desa mereka ketentraman dan kekayaan.

Raden Jinggo yang mengaku sakti setelah melakukan ngalap berkah dan minta kekuatan pada Mbah Cokro menunjukkan banyak kehebatannya. Saat ngalap berkah ia bisa menjadi seperti orang kesurupan, dan dari situ ia bisa menebak kejadian apapun. Banyak warga yang minta nomor pada Raden Jinggo untuk judi. Dan tebakan Raden Jinggo selalu benar hingga banyak yang percaya pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata, Mbah Cokro memang ampuh dan banyak memberikan petunjuk. Raden Jinggo juga bisa memberikan ilmu kekebalan seperti dirinya yang tahan dari bacokan benda setajam apapun. Banyak yang takjub dengan keskatian yang dimiliki Raden Jinggo. Kini Raden Jinggo dianggap seperti dewa gara-gara Mbah Cokro. Suatu ketika, Yu Tari menghadap pada Raden Jinggo karena anak gadisnya, Sutini belum juga kawin. Ia takut Sutini jadi perawan tua. Raden Jinggo Yu Tari minta agar Raden Jinggo mencarikan jodoh untuk anaknya.

Raden Jinggo minta agar Sutini dan Yu Tari semedi di kuburan Mbah Cokro tanpa peduli, siang dan malam. Tak lupa memberikan sesaji apapun yang diminta Mbah Cokro, lewat Raden Jinggo. Kata Raden Jinggo Mbah Cokro minta agar Yu Tari menyediakan air dari 7 sumur penduduk yang diambil tanpa ada yang tahu. Yu Tari menyanggupi demi anaknya agar tidak jadi perawan tua. Diam-diam Yu Tari lalu mengambil air dari 7 sumur itu. Namun naas, saat ia mengambil di sumur 7 milik Pak Cipto, warga melihat dan mengira Yu Tari adalah maling. Semua mengepung heboh. Yu Tari nangis-nangis dan menjelaskan pada ia lakukan ini karena petunjuk Raden Jinggo. Warga lalu membawa Yu Tari pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata benar, apapun petunjuk Raden Jinggo harus dijalankan dengan baik. Yu Tari dinasehati tetangga yang ngaji pada Sunan Sendang Duwur, yaitu Kang Jarwo dan istrinya. Kang Jarwo karena apa yang dilakukan Yu Tari itu bid'ah. Dengan tutur polos Kang Jarwo ngajak Yu Tari dan Sutini ngaji pada Sunan Sendang Duwur saja. Minta petunjuk yang sesuai Al Qur'an agar tidak menambah dosa. Akhirnya Yu Tari diam-diam ikut Kang Jarwo ngaji di padepokan Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur dengan prihatin menjelaskan semua yang dilakukan Raden Jinggo adalah musrik dan sirik! Sunan Sendang Duwur minta pada Yu Tari untuk bertaubat.

Sementara itu saat malam Jumat Kliwon saat sepeti biasa warga ngalap berkah bersama Raden Jinggo di kuburan Mbah Cokro, Raden Jinggo mencari Yu Tari yang tidak datang. Salah satu warga bilang, Yu Tari sekarang ngaji Yasinan di padepokan Sunan Sendang Duwur bersama Kang Jarwo dan istrinya. Selama ini Kang Jarwo memang selalu menolak jika ikut ritual ngalap berkah Raden Jinggo. Betapa marahnya Raden Jinggo begitu tahu ada warga yang menolak apa yang ia perintahkan. Suatu hari, ketika Yu Tari, Kang Jarwo dan istrinya akan ke Sendang Duwur, di tengah jalan Raden Jinggo mencegat keduanya. Saat itu, diam-diam anak Sutini melihat kejadian itu. Sambil menangis Sutini menceritakan apa yang terjadi. Betapa sedih dan kagetnya Sunan Sendang Duwur mendengar apa yang terjadi. Sunan Sendang Duwur berkata ia akan mendatangi Raden Jinggo.

Raden Jinggo sedang di kuburan Mbah Cokro, seperti biasa ia minta berkah pada eyangnya. Tak lupa ia memberikan sesaji semua kesenangan Mbah Cokro semasa hidup. Dari ayam ingkung sampai rokok klembak. Semua warga nampak memberikan sesaji sambil menyampaikan keinginan mereka. Ketika giliran Kang Jarwo dan istrinya diminta maju untuk menyampaikan apa keinginannya, Kang Jarwo menolak. Ia hanya akan minta pada Gusti Allah, bukan pada Mbah Cokro. Dengan marah Raden Jinggo menyuruh anak buahnya menyeret Kang Jarwo dan istrinya. Sampai di luar pekuburan Raden Jinggo bersiap akan memberikan hukuman pada keduanya karena dianggap sudah bersikap tidak hormat pada leluhurnya. Saat Raden Jinggo akan melayangkan pukulan, tiba-tiba ada yang menahannya. Dialah Sunan Sendang Duwur. Betapa kagetnya Raden Jinggo melihat siapa yang datang.

Dengan bijaksana Sunan Sendang Duwur menasehati Raden Jinggo bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Jinggo adalah hal yang sangat salah. Kata Sunan Sendang Duwur, ngalap berkah ke kuburan-kuburan dan meminta-minta kepada orang yang telah mati adalah syirik akbar. Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka, Wal'iyadzu billah. Allah berfrrman : "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya, dan Allah mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa': 48).

Betapa marahnya Raden Jinggo mendengar nasehat Sunan Sendang Duwur. Apalagi Sunan Sendang Duwur berkata, jangan salahkan jika Allah Murka dan memberi bencana untuk menghapus kemusrikan itu. Raden Jinggo menantang. Jika benar, datangkan bencana saat itu juga. Dengan tenang, Sunan Sendang Duwur mengangkat tangannya. Saat itu juga, muncul angin besar menerjang desa itu. Semua nampak terbang. Suasana nampak kacau. Warga yang sedang melaksanakan ritual ngalap berkah kalang kabut ketakutan. Raden Jinggo juga nampak kebingungan. Tiba-tiba karena angin teramat kuat, Raden Jinggo akhirnya terpental. Raden Jinggo benar-benar ketakutan. Raden Jinggo berkata jika, Sunan Sendang Duwur bisa menghentikan bencana ini, ia berjanji akan mengajak warga bertaubat dan mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Raden Jinggo berkata ia masih belum mau mati.

Tak lama kemudian Sunan Sendang Duwur berdoa. Sunan Sendang Duwur yang memang sudah dikenal sebagai Sunan yang sangat sakti mohon kekuatan pada Allah. Ia lalu menghentakkan Tombak Abirawa miliknya. Tak lama kemudian, angin perlahan redup dan suasana kembali tenang. Namun keadaan sudah porak poranda. Semua sesaji bertebaran ke mana-mana… (Catatan : Sunan Sendang Duwur memang memiliki sebuah senjata sakti yang disebut Tombak Abirawa, dengan panjang sekitar 6 meter. Pusaka berupa tombak itu, diyakini memiliki tuah, yaitu menghilangkan bencana atas seizin Allah SWT). Raden Jinggo yang terluka nampak kesakitan. Sunan berkata cobalah minta pertolongan pada Mbah Cokro agar sakitnya hilang. Raden Jingga tak mampu berbuat apa-apa karena tak mungkin. Sunan lalu minta agar Raden Jinggo bertaubat mohon pertolongan Allah dan menjelaskan bahwa orang yang meninggal itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi mana bisa memberi pertolongan pada keluarganya?

Akhirnya Raden Jinggo berkata ia memenuhi janjinya. Ia akan mengajak warga mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Kini warga desa Sarimbit berbondong-bondong mengaji pada Sunan Sendang Duwur dipimpin oleh Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata pada semua jamaahnya, Ojo demen-demen marang dunyo senengo marang sing nggawe donyo. Ojo gething-gething marang donyo sebab nduk jerone dunyo onok sing nggawe donyo. Jangan terlalu senang terhadap dunia senanglah terhadap yang membuat dunia. Jangan terlalu benci terhadap dunia sebab di dalam dunia ada yang membuat dunia. Betapa senangnya hati Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur pun berfikir untuk membuat masjid yang lebih besar agar bisa lebih banyak menampung Jamaah di Desa Sendang Duwur.

Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid. Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut dan akan membelinya dengan sejumlah uang. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu. Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Ia yakin Allah pasti akan membantunya. Sunan Drajad sang sahabat sekaligus gurunya muncul dan semakin menguatkan Sunan Sendang Duwur. Akhirnya ia semakin yakin. Bermalam-malam ia melakukan sholat Hajat. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur.

Betapa terkejutnya seluruh warga desa melihat kejadian itu. Dengan adanya masjid yang hanya dipindah dalam waktu semalam ternyata justru menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mengatakan Sunan Sendang Duwur adalah wali Allah, sebagian merasa itu sihir terbesar yang pernah ada.

Namun Sunan Sendang Duwur tetap tenang. Saat warga sedang berdebat, ia muncul dan berkata. Tidak ada sihir dalam agama Islam. Tapi ini karena karomah Allah. Jika sihir ia akan melakukan rital. Tapi ini adalah kekuatan doa. Warga masih tak percaya. Sunan Sendang Duwur menunjukkan bahwa Sunan Sendang Duwur tidak minta bantuan siapapun kecuali bantuan Allah SWT. Akhirnya Sunan Sendang Duwur berdiri di hadapan warga. Ia memegang sebuah batu yang sangat keras. Dengan kekuatannya, batu itu perlahan hancur dan menjadi pasir. Tak lama kemudian pasir itu berubah menjadi butiran emas. Semua warga jadi yakin. Sunan Sendang Duwur tidak memakai ritual apapun kecuali doa dan keyakinan pada Allah SWT. Ternyata apa yang dilakukan Sunan itu ada filosofinya. Hati manusia itu kadang seperti batu, tapi bisa dihancurkan dan jadi lembut, dan hati manusia bisa berkilau bila diasah dengan zikrullah dan keyakinan pada Allah. Semua kini makin paham...

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah).

Closing :

Raden Noer Rahmad atau Sunan Sendang Duwur akhirnya wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Sunan Sendang Duwur adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu….

SYEIK NUR RAHMAT sendangduwur

Posted by Unknown On 02.55 | No comments

Wali Songo "Sunan Sendang Duwur & Karomah Memindah Masjid Dalam Semalam"
1 2 3 4 5 (13 votes)
Tayang : Senin, 4 Oktober 2010, Pukul
"...Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (Q.S. Al-Mujaadalah : 11)

Malam tiba. Nampak Sunan Sendang Duwur sedang melakukan sholat Tahajud, sementara itu dua laki-laki (Taruna dan Taruni) nampak mengendap-endap akan mencuri di lumbung pagi milik Sunan Sendang Duwur. Dua laki-laki itu nampak sombong dan senang karena mereka sangat lihai sebagai maling. Ia tidak sadar jika Sunan Sendang Duwur menatap mereka dari jauh. Mereka keluar dari lumbung, namun saat membawa beras itu, kian lama mereka merasa kian berat dan berat. Dua pencuri nampak keberatan dan terjatuh. Mereka penasaran dan membuka dua karung mereka. Ternyata isinya adalah ular yang sangat banyak. Dua pencuri menjerit ketakutan.

Mendengar teriakan suara minta tolong, Warga berdatangan memukul kentongan dan mengepung Taruna dan Taruni. Warga nyaris menghakimi keduanya karena ternyata dalam POV warga, beras yang ada dalam karung itu. Taruna dan Taruni ngotot dalam beras itu adalah ular bahkan mereka sudah tergigit. Muncullah Sunan Sendang Duwur. Dengan tenang Sunan Sendang Duwur minta pada warga agar sabar. Sunan Sendang Duwur lalu bertanya pada Taruna dan Taruni apa benar mencuri. Taruna dan Taruni akhirnya mengaku. Dengan petuahnya, Sunan Sendang Duwur menyadarkan Taruna dan Taruni. Taruna dan Taruni sangat malu dan berjanji tidak akan mencuri lagi dan mau mengikuti segala ajaran Sunan Sendang Duwur, yang sudah menyelamatkan mereka dari kepungan warga. (Catatan : kisah aslinya Taruna dan Taruni adalah dari bangsa Jin yang di Islamkan oleh Sunan Sendang Duwur).

Sejak itu, padepokan Sunan Sendang Duwur nampak ramai dipenuhi warga yang ingin menuntut ilmu pada Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur mengajak warga makan ketupat dan memberikan filosofis dari ketupat itu. Sunan Sendang Duwur mengajarkan papat (empat hal) yang harus dijauhi yakni judi, zina, minuman yang diharamkan dan mencuri barang milik orang lain. Taruna dan Taruni nampak malu mendengarkan petuah tersebut. Kata Sunan Sendang Duwur, jika papat (empat) hal itu dilanggar, jangan salahkan, Allah pasti akan memberikan azab kepada warga atau daerah itu.

Ajaran Sunan Sendang Duwur yang dihapalkan oleh warga, ternyata membuat seorang Kepala Desa Sarimbit, bernama Raden Jinggo yang terkenal sombong penasaran. Raden Jinggo yang selama ini memberikan ajaran pada warganya bahwa hidup ini harus dinikmati dengan apapun karena hidup hanya sekali, berkata siapapun yang ikut ajaran Sunan Sendang Duwur, dia adalah orang bodoh. Untuk apa menyiksa diri hanya untuk beribadah? Sebaiknya hidup sekali ini untuk senang-senang saja. Raden Jinggo sangat benci pada warganya yang melalukan sholat karena merasa sholat itu ritual yang tidak ada untungnya. Raden Jinggo sangat membenci syiar Sunan Sendang Duwur. Setiap ada warga desa Sarimbit yang akan mengaji ke Desa Sendang Duwur, Raden Jinggo akan mencegat dan memaksa agar tidak meneruskan mengajinya. Raden Jinggo justru memaksa warga agar rajin ngalap berkah pada kuburan eyangnya, Mbah Cokroatmojo yang sudah meninggal. Raden Jinggo yakin, Mbah Cokroatmojolah yang selama ini memberikan desa mereka ketentraman dan kekayaan.

Raden Jinggo yang mengaku sakti setelah melakukan ngalap berkah dan minta kekuatan pada Mbah Cokro menunjukkan banyak kehebatannya. Saat ngalap berkah ia bisa menjadi seperti orang kesurupan, dan dari situ ia bisa menebak kejadian apapun. Banyak warga yang minta nomor pada Raden Jinggo untuk judi. Dan tebakan Raden Jinggo selalu benar hingga banyak yang percaya pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata, Mbah Cokro memang ampuh dan banyak memberikan petunjuk. Raden Jinggo juga bisa memberikan ilmu kekebalan seperti dirinya yang tahan dari bacokan benda setajam apapun. Banyak yang takjub dengan keskatian yang dimiliki Raden Jinggo. Kini Raden Jinggo dianggap seperti dewa gara-gara Mbah Cokro. Suatu ketika, Yu Tari menghadap pada Raden Jinggo karena anak gadisnya, Sutini belum juga kawin. Ia takut Sutini jadi perawan tua. Raden Jinggo Yu Tari minta agar Raden Jinggo mencarikan jodoh untuk anaknya.

Raden Jinggo minta agar Sutini dan Yu Tari semedi di kuburan Mbah Cokro tanpa peduli, siang dan malam. Tak lupa memberikan sesaji apapun yang diminta Mbah Cokro, lewat Raden Jinggo. Kata Raden Jinggo Mbah Cokro minta agar Yu Tari menyediakan air dari 7 sumur penduduk yang diambil tanpa ada yang tahu. Yu Tari menyanggupi demi anaknya agar tidak jadi perawan tua. Diam-diam Yu Tari lalu mengambil air dari 7 sumur itu. Namun naas, saat ia mengambil di sumur 7 milik Pak Cipto, warga melihat dan mengira Yu Tari adalah maling. Semua mengepung heboh. Yu Tari nangis-nangis dan menjelaskan pada ia lakukan ini karena petunjuk Raden Jinggo. Warga lalu membawa Yu Tari pada Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata benar, apapun petunjuk Raden Jinggo harus dijalankan dengan baik. Yu Tari dinasehati tetangga yang ngaji pada Sunan Sendang Duwur, yaitu Kang Jarwo dan istrinya. Kang Jarwo karena apa yang dilakukan Yu Tari itu bid'ah. Dengan tutur polos Kang Jarwo ngajak Yu Tari dan Sutini ngaji pada Sunan Sendang Duwur saja. Minta petunjuk yang sesuai Al Qur'an agar tidak menambah dosa. Akhirnya Yu Tari diam-diam ikut Kang Jarwo ngaji di padepokan Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur dengan prihatin menjelaskan semua yang dilakukan Raden Jinggo adalah musrik dan sirik! Sunan Sendang Duwur minta pada Yu Tari untuk bertaubat.

Sementara itu saat malam Jumat Kliwon saat sepeti biasa warga ngalap berkah bersama Raden Jinggo di kuburan Mbah Cokro, Raden Jinggo mencari Yu Tari yang tidak datang. Salah satu warga bilang, Yu Tari sekarang ngaji Yasinan di padepokan Sunan Sendang Duwur bersama Kang Jarwo dan istrinya. Selama ini Kang Jarwo memang selalu menolak jika ikut ritual ngalap berkah Raden Jinggo. Betapa marahnya Raden Jinggo begitu tahu ada warga yang menolak apa yang ia perintahkan. Suatu hari, ketika Yu Tari, Kang Jarwo dan istrinya akan ke Sendang Duwur, di tengah jalan Raden Jinggo mencegat keduanya. Saat itu, diam-diam anak Sutini melihat kejadian itu. Sambil menangis Sutini menceritakan apa yang terjadi. Betapa sedih dan kagetnya Sunan Sendang Duwur mendengar apa yang terjadi. Sunan Sendang Duwur berkata ia akan mendatangi Raden Jinggo.

Raden Jinggo sedang di kuburan Mbah Cokro, seperti biasa ia minta berkah pada eyangnya. Tak lupa ia memberikan sesaji semua kesenangan Mbah Cokro semasa hidup. Dari ayam ingkung sampai rokok klembak. Semua warga nampak memberikan sesaji sambil menyampaikan keinginan mereka. Ketika giliran Kang Jarwo dan istrinya diminta maju untuk menyampaikan apa keinginannya, Kang Jarwo menolak. Ia hanya akan minta pada Gusti Allah, bukan pada Mbah Cokro. Dengan marah Raden Jinggo menyuruh anak buahnya menyeret Kang Jarwo dan istrinya. Sampai di luar pekuburan Raden Jinggo bersiap akan memberikan hukuman pada keduanya karena dianggap sudah bersikap tidak hormat pada leluhurnya. Saat Raden Jinggo akan melayangkan pukulan, tiba-tiba ada yang menahannya. Dialah Sunan Sendang Duwur. Betapa kagetnya Raden Jinggo melihat siapa yang datang.

Dengan bijaksana Sunan Sendang Duwur menasehati Raden Jinggo bahwa apa yang dilakukan oleh Raden Jinggo adalah hal yang sangat salah. Kata Sunan Sendang Duwur, ngalap berkah ke kuburan-kuburan dan meminta-minta kepada orang yang telah mati adalah syirik akbar. Apabila orang tidak bertaubat dari kegiatan ini dan mati dalam keadaan demikian, maka Allah tidak akan mengampuninya, kekal di dalam neraka, Wal'iyadzu billah. Allah berfrrman : "Sesungguhnya Allah tidak mengampuni perbuatan dosa syirik kepada-Nya, dan Allah mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. (An-Nisa': 48).

Betapa marahnya Raden Jinggo mendengar nasehat Sunan Sendang Duwur. Apalagi Sunan Sendang Duwur berkata, jangan salahkan jika Allah Murka dan memberi bencana untuk menghapus kemusrikan itu. Raden Jinggo menantang. Jika benar, datangkan bencana saat itu juga. Dengan tenang, Sunan Sendang Duwur mengangkat tangannya. Saat itu juga, muncul angin besar menerjang desa itu. Semua nampak terbang. Suasana nampak kacau. Warga yang sedang melaksanakan ritual ngalap berkah kalang kabut ketakutan. Raden Jinggo juga nampak kebingungan. Tiba-tiba karena angin teramat kuat, Raden Jinggo akhirnya terpental. Raden Jinggo benar-benar ketakutan. Raden Jinggo berkata jika, Sunan Sendang Duwur bisa menghentikan bencana ini, ia berjanji akan mengajak warga bertaubat dan mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Raden Jinggo berkata ia masih belum mau mati.

Tak lama kemudian Sunan Sendang Duwur berdoa. Sunan Sendang Duwur yang memang sudah dikenal sebagai Sunan yang sangat sakti mohon kekuatan pada Allah. Ia lalu menghentakkan Tombak Abirawa miliknya. Tak lama kemudian, angin perlahan redup dan suasana kembali tenang. Namun keadaan sudah porak poranda. Semua sesaji bertebaran ke mana-mana… (Catatan : Sunan Sendang Duwur memang memiliki sebuah senjata sakti yang disebut Tombak Abirawa, dengan panjang sekitar 6 meter. Pusaka berupa tombak itu, diyakini memiliki tuah, yaitu menghilangkan bencana atas seizin Allah SWT). Raden Jinggo yang terluka nampak kesakitan. Sunan berkata cobalah minta pertolongan pada Mbah Cokro agar sakitnya hilang. Raden Jingga tak mampu berbuat apa-apa karena tak mungkin. Sunan lalu minta agar Raden Jinggo bertaubat mohon pertolongan Allah dan menjelaskan bahwa orang yang meninggal itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Semua sibuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama di dunia. Jadi mana bisa memberi pertolongan pada keluarganya?

Akhirnya Raden Jinggo berkata ia memenuhi janjinya. Ia akan mengajak warga mengaji pada Sunan Sendang Duwur. Kini warga desa Sarimbit berbondong-bondong mengaji pada Sunan Sendang Duwur dipimpin oleh Raden Jinggo. Raden Jinggo berkata pada semua jamaahnya, Ojo demen-demen marang dunyo senengo marang sing nggawe donyo. Ojo gething-gething marang donyo sebab nduk jerone dunyo onok sing nggawe donyo. Jangan terlalu senang terhadap dunia senanglah terhadap yang membuat dunia. Jangan terlalu benci terhadap dunia sebab di dalam dunia ada yang membuat dunia. Betapa senangnya hati Sunan Sendang Duwur. Sunan Sendang Duwur pun berfikir untuk membuat masjid yang lebih besar agar bisa lebih banyak menampung Jamaah di Desa Sendang Duwur.

Karena tidak mempunyai kayu, Sunan Drajad menyampaikan masalah ini kepada Sunan Kalijogo yang mengarahkannya pada Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono di Mantingan, Jepara, yang saat itu mempunyai masjid. Ratu Kalinyamat merupakan putri Sultan Trenggono dari Kraton Demak Bintoro. Suaminya bernama Raden Thoyib (Sultan Hadlirin Soho) cucu Raden Muchayat, Syech Sultan dari Aceh. Saat diangkat menjadi bupati di Jepara, R. Thoyib tidak lupa bersyiar agama Islam. Sehingga dibangun masjid megah di wilayahnya. Banyak ulama dan kiai saat itu kagum terhadap keindahan dan kemegahan masjid tersebut.

Setelah itu Sunan Drajat memerintahkan Sunan Sendang Duwur pergi ke Jepara untuk menanyakan masjid tersebut dan akan membelinya dengan sejumlah uang. Tapi apa kata Mbok Rondo Mantingan saat itu. Hai anak bagus, mengertilah, aku tidak akan menjual masjid ini. Tapi suamiku berpesan, siapa saja yang bisa memboyong masjid ini seketika dalam keadaan utuh tanpa bantuan orang lain (dalam satu malam), masjid ini akan saya berikan secara cuma-cuma.

Mendengar jawaban Mbok Rondo Mantingan, Sunan Sendang Duwur yang masih muda saat itu merasa tertantang. Ia yakin Allah pasti akan membantunya. Sunan Drajad sang sahabat sekaligus gurunya muncul dan semakin menguatkan Sunan Sendang Duwur. Akhirnya ia semakin yakin. Bermalam-malam ia melakukan sholat Hajat. Sebagaimana yang diisyaratkan padanya dan tentunya dengan izin Allah, dalam waktu tidak lebih dari satu malam masjid tersebut berhasil diboyong ke bukit Amitunon, Desa Sendang Duwur.

Betapa terkejutnya seluruh warga desa melihat kejadian itu. Dengan adanya masjid yang hanya dipindah dalam waktu semalam ternyata justru menimbulkan pro dan kontra. Sebagian mengatakan Sunan Sendang Duwur adalah wali Allah, sebagian merasa itu sihir terbesar yang pernah ada.

Namun Sunan Sendang Duwur tetap tenang. Saat warga sedang berdebat, ia muncul dan berkata. Tidak ada sihir dalam agama Islam. Tapi ini karena karomah Allah. Jika sihir ia akan melakukan rital. Tapi ini adalah kekuatan doa. Warga masih tak percaya. Sunan Sendang Duwur menunjukkan bahwa Sunan Sendang Duwur tidak minta bantuan siapapun kecuali bantuan Allah SWT. Akhirnya Sunan Sendang Duwur berdiri di hadapan warga. Ia memegang sebuah batu yang sangat keras. Dengan kekuatannya, batu itu perlahan hancur dan menjadi pasir. Tak lama kemudian pasir itu berubah menjadi butiran emas. Semua warga jadi yakin. Sunan Sendang Duwur tidak memakai ritual apapun kecuali doa dan keyakinan pada Allah SWT. Ternyata apa yang dilakukan Sunan itu ada filosofinya. Hati manusia itu kadang seperti batu, tapi bisa dihancurkan dan jadi lembut, dan hati manusia bisa berkilau bila diasah dengan zikrullah dan keyakinan pada Allah. Semua kini makin paham...

Dari masjid inilah Sunan Sendang Duwur terus melakukan syiar agama Islam. Salah satu ajaran yang masih relevan pada zaman sekarang adalah : "mlakuho dalan kang benar, ilingo wong kang sak burimu" (berjalanlah di jalan yang benar, dan ingatlah pada orang yang ada di belakangmu. Ajaran sunan ini menghimbau pada seseorang agar berjalan di jalan yang benar dan kalau sudah mendapat kenikmatan, jangan lupa sedekah).

Closing :

Raden Noer Rahmad atau Sunan Sendang Duwur akhirnya wafat pada tahun 1585 M. Bukti ini dapat dilihat pada pahatan yang terdapat di dinding makam beliau. Sunan Sendang Duwur adalah tokoh kharismatik yang pengaruhnya dapat disejajarkan dengan Wali Songo pada saat itu….

Sabtu, 31 Maret 2012

MINAK ANGGRUNG Padangan Bojonegoro

Posted by Unknown On 00.35 | No comments
Sampai saat ini belum diketemukan siapa istri mbah Sabil. Dari data tulisan tangan/prasasti mbah Kyai Ahmad Rowobayan, diketahui bahwa mbah Sabil mempunyai keturunan, 2 laki-laki dan 2 perempuan, diantaranya :
1) Kyai Saban
2) Nyai Samboe Lasem.
3) Moyo Kerti (Nyai Abdul Jabbar)
4) Kyai Abdurrokhim.

Dari anak pertama Kyai Saban, mbah Sabil menurunkan 4 cucu yaitu: Kyai Abdurrohman Klothok, Kyai Uju, Nyai Gedong, dan Kyai Wahid. Dari Kyai Uju inilah yang menurunkan mbah Kyai Ahmad Rowobayan, Kuncen, Padangan. Belakangan para cucu beliau menjadi tokoh penyebaran agama Islam di Desa Kuncen.

Sedangkan anak ke-dua yaitu Nyai Samboe Lasem. Tidak diketaui nama aslinya, yang jelas di panggil Samboe karena suaminya adalah: Kyai Samboe Lasem, Rembang atau yang disebut: Muhammad Syihabuddin dan lebih dikenal sebagai: Pangeran Syihabuddin Samboe Digda Diningrat. Makam mbah Sambu dan istrinya berada di sebelah utara makam Adipati Tejokusumo I. Makam mbah Sambu dan istrinya berada dalam cungkup yang berdenah bulat dan beratap kubah yang seluruhnya terbuat dari bata merah berlepa.

Di makam Mbah Sambu Lasem, Rembang, Jawa tengah, terdapat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban. Menantu mbah Sabil ini keturunan Sultan Hadiwijaya yang biasa dikenal dengan sebutan populernya “JAKA TINGKIR”. Seorang pemuda dari Tingkir, suatu desa yang terletak di tenggara Salatiga pada tahun 1568 M, putra dari Adipati Pengging Pangeran Handayaningrat/R. Kusen, sedangkan R. Kusen sendiri putra dari Harya Damar Adipati Palembang. Adipati Palembang ini putra Prabu Brawijaya Majapahit. Jaka Tingkir menjadi raja Pajang yang pertama dan terakhir dengan gelar Sultan Hadi Wijaya dan sukses meng-Islamkan daerah Pasuruan dan sekitarnya.

Karena kealimannya, beliau dinikahkan dengan putri Pangeran Trenggana, raja ke III di kerajaan Islam Demak. Maka lahirlah Pangeran Benawa yang selama hidupnya menjadi guru thoriqot dan menyepi di daerah Kudus, pernah sebentar menjadi Adipati Jipang-Panolan Cepu.

KH. Akhmad Shidiq merupakan salah satu dari keturunan Kyai Samboe Lasem, atau cucu langsung dari mbah Sabil, yang memimpin Pondok Pesantren “AS-SYIDDIQIYAH” Jember. Beliau pernah menjadi anggota DPR-RI disamping lama di jajaran Rois-Am PBNU Kramat Raya Jakarta.

Dari anak ke-tiga Moyo Kerti, yang diperisteri mbah Abdul Jabbar yang makamnya ada di Nglirip nJojogan Tuban, mbah Sabil menurunkan mbah Iskak Rengel yang haulnya diadakan setiap Jum’at setelah tanggal 20 dibulan As-Syura/Muharam. Mbah Iskak Rengel menurunkan mbah Sholeh Tsani, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan, Bungah, Gresik. Ditengah pondok inilah setiap tahunnya diselenggarakan haul terbesar di Jawa Timur pada bulan Robiul Awal setelah tanggal 20 guna memperingati meninggalnya mbah Sholeh Tsani.

Putra ke-empat Mbah Sabil yaitu Kyai Abdurrakhim Kaliwuluh Sambeng, yang diambil menantu putra wayah R. Rakhmad/Sunan Ampel Gading Surabaya.
Ponpes Mifthahul Falah, dimana temuan struktur bangunan kuno itu ditemukan, lebih dikenal sebagai Ponpes Bungkuk. Ponpes Bungkuk sendiri memang tak lepas dari sosok legenda, Mbah Chamimuddin. Mbah Chamimudin adalah eks laskar Pangeran Diponegoro yang tersisa dan lari ke daerah Malang Utara (Singosari dan sekitarnya). Perang Diponegoro antara tahun 1825 sampai 1830 memang membuat laskar Pangeran Diponegoro tercerai-berai di tahun 1830 seiring kematian Pangeran Diponegoro.

“Laskar-laskar Pangeran semburat dan tercecer di bagian selatan Jawa Timur seperti Malang, Trenggalek, Tulungagung bagian selatan. Makanya, jangan heran sampeyan banyak mengenal makam waliyullah di daerah Malang selatan seperti Gondanglegi ataupun Eyang Jugo di Gunung Kawi yang dikenal sebagai laskar Pangeran Diponegoro,” terang Dwi Cahyono, arkeolog Univ negeri Malang.

Dijelaskan Dwi, di tahun 1930 itu, ketika laskar tercerai berai, tidak berarti kekuatan memudar. “Laskar Pangeran Diponegoro tetap gerilya dan mencari dukungan penguasa-penguasa lokal, pesantren-pesantren, salah satunya adalah dukungan dari Kiai Maja. Kekuatan laskar Pangeran Diponegoro di Jawa Timur tidak melemah berbeda dengan di Solo atau Jogjakarta,” terang Dwi.

Lantas mengapa Chamimuddin memilih ke Malang utara? Ini tak lepas dari aura Singosari yang memiliki citra kuat sebagai kerajaan besar di masa lalu. “Setelah Majapahit berdiri, Kerajaan Singosari tetap diakui keberadaannya dan menjadi daerah fasal (semacam negara bagian) Kerajaan Majapahit. Tentu saja di situ beranak pinak keturunannya,” terang Dwi seraya mencontohkan sosok-sosok penting bagi Kerajaan Majapahit yang tinggal di Singosari.

“Sebut saja Bre Lasem, penguasa di Tumapel dan istrinya yang masih saudara Hayam Wuruk,” terang Dwi. Setelah Majapahit runtuh dan dikuasai Demak, otomatis status Singosari makin merosot terlebih di masa Mataram Islam. “Namun tetap, keberadaannya tetap berarti. Setelah itu, Singosari turun jadi Kadipaten Singosari, di barat Dwarapala itu ada kuburan yang dikenal dengan kuburan kadipaten,” terang Dwi.

Dengan berpulangnya Pangeran Diponegoro dan pasukannya tercerai-berai, Chamimuddin datang ke Malang dari arah selatan Malang. Kiai Chamimuddin masuk wilayah Singosari sekitar tahun 1830-1835. Tapi, menurut H. Munsyif, salah satu anggota keluarga Ponpes Bungkuk bahwa Kiai Chamimuddin mulai mendirikan pesantren dan langgar (musala) sekitar tahun 1850.

“Musala itu dari bambu biasa. Saat itu, tentu saja masih aneh kehadiran Mbah Chamimuddin di lingkungan yang masih banyak pemeluk agama Hindu dan abangan,“ terang H. Munsyif. Hal ini diamini oleh Dwi Cahyono. Menurutnya, saat itu tentu saja Mbah Chamimuddin tidak melakukan siar dengan cara langsung mendirikan pondok pesantren.

“Ia merintisnya sejak lama tentu saja dengan menetap dan melakukan pengajian kecil-kecilan. Datang ke rumah penduduk, siar Islam. Dan mungkin benar juga akhirnya ia mendirikan musala di tahun 1850 itu,” terang Dwi. Melihat santri Mbah Chamimuddin salat dengan gerakan membungkuk itulah, sehingga masyarakat Singosari di masa itu menyebutnya komunitas Bungkuk. Dan diwarisi turun temurun sampai ponpes itu disebut Ponpes Bungkuk.

Islam di zaman Mbah Chamimuddin masih berwajah Islam abangan. Mbah Chamimuddin yang menetap di Singosari kemudian diambil menantu oleh orang Singosari. “Agar Islamnya makin putih, Mbah Chamimuddin lantas menikahkan anak perempuannya dengan Kiai Tohir dari Bangil,” imbuh Dwi.

Hal ini juga dibenarkan H. Munsyif yang masih cucu langsung dari Mbah Tohir. “Beliau dikenal dan Mbah Chamimuddin menjadi kiai besar setelah mengambil mantu Kiai Tohir dari Bangil yang masih memiliki trah Ampel. Alhasil, waliyullah yang dikenal di Bungkuk dan sekitarnya sampai sekarang adalah Mbah Tohir,” terang H Munsyif.

Dengan demikian, maka Mbah Tohir disebut Dwi Cahyono sebagai embrional Ponpes Miftahul Falah dan Masjid At-Thohiriyah yang saat ini sedang direnovasi. Otomatis, setelah Mbah Chamimuddin berpulang, pemangku ponpes dan masjid adalah Mbah Tohir. “Masjid dan Ponpes Bungkuk sangat dikenal, sangat Nahdliyin, dan sangat diperhitungkan di Nahdlatul Ulama. Mereka juga bertarekat, Qodiriyah-Naqsyabandiah. Hal ini tak lepas dari sosok Kiai Tohir,” urai Dwi.

Menggantikan Mbah Chamimuddin, Mbah Tohir menikah dan memiliki lima orang anak. Salah satu putranya, Nahchowi Tohir yang menikah dengan M. Rukoiyah, memiliki sepuluh orang anak, dan salah satunya adalah H. Munsyif. Mbah Tohir berpulang tahun 1933, kini pemangku ponpes dipegang oleh Kiai Ahmad Hilmy, saudara Munsyif.


Pangeran Singosari

Dengan demikian, keberadaan Ponpes Bungkuk, juga penemuan kuno di sekitarnya alhasil mengisahkan islamisasi di Malang pada masa pemerintahan Mataram Islam, pemerintahan Belanda, hingga masa kemerdekaan. Pada tahun 1686, kawasan Malang menjadi ajang pertempuran antara kompeni Belanda yang membantu Amangkurat II melawan Untung Surapati. Ketika Untung Surapati berkuasa sebagai adipati di Pasuruan, selama 20 tahun kawasan Malang berada di bawah kekuasaannya (1686-1706)

Untung Surapati alias Wirabagara memiliki hubungan politis dengan Amangkurat III yang menyingkir ke Jawa Timur untuk bergabung dengan Untung Surapati. Kekuasaan Untung Surapati berakhir tahun 1706 setelah dikalahkan pasukan gabungan (VOC, Madura, dan Kartasura). Untung Surapati terbunuh di Bangil. Selanjutnya, putra-putra Untung Surapati bersama Amangkurat III melarikan diri ke Malang untuk melanjutkan perlawanan yang berlangsung 1706-1771.

Hal yang sama juga terjadi pada Trunajaya yang membangun benteng pertahanan di Ngantang, Malang sampai 1678. Trunajaya ditangkap di Karaeng Galengsong dan dimakamkan di lembah bukit Selakurung. “Sementara pasukannya mengungsi ke desa-desa di Malang. Boleh jadi beberapa tokoh pesiar Islam di Malang Barat dan Batu adalah mantan prajurit Trunojoyo,” terang Dwi Cahyono.

Dengan demikian, Dwi pun menyimpulkan bahwa Malang memang cocok untuk menjadi terugvall basis yakni basis untuk melakukan konsolidasi kekuatan sebelum melakukan penyerangan lebih lanjut. Penyingkiran ke Malang terus berlanjut sampai masa laskar Pangeran Diponegoro.

Antara tahun 1757 hingga 1825 para pemberontak VOC yang masih tersisa, atau mereka yang ingin berjuang terus berusaha mencari perlindungan di Malang yang ketika itu masih dikuasai oleh sanak keturunan Surapati. Di antara mereka ada pangeran Singasari, yakni saudara Hamengkubuwana I dan paman Pakubuwana III.

Pangeran Singosari dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18. Tahun 1757 Pangeran Singosari melakukan pemberontakan. Sebelumnya Pangeran Singosari dahulu juga ikut bergabung dalam kelompok Mangkubumi dan Mas Said. Ia pun tetap melanjutkan pemberontakan dengan dukungan keturunan Untung Surapati di Malang. Pangeran Singosari tertangkap tahun 1768. Pengadilan menjatuhinya hukuman buang, tetapi ia lebih dulu meninggal dalam tahanan Surabaya.

Ketenaran Pangeran Singosari inilah yang membuat Mbah Chamimuddin datang ke Singosari. Dwi Cahyono tak bisa menjelaskan lebih jauh tentang sosok yang satu ini. “Saya hanya tahu sampai di situ, yang jelas ia masih keluarga Hamengkhubuwana I dan paman Pakubhuwana III. Yang jelas itu juga bukan nama sebenarnya,” terang Dwi.

Dijelaskan, nama Singosari memang berkait dengan daerah Singosari Malang. “Itu adalah nama yang menunjukkan tanah lungguh atau linggih, yakni tanah kedudukan,” terang Dwi. Dengan kenyataan-kenyataan ini, ada kemungkinan selain membentuk kekuatan di Singosari, Pangeran Singosari juga melakukan islamisasi. Kedua hal inilah yang diikuti Mbah Chamimuddin. Ponpes Bungkuk, dipastikan Dwi Cahyono sebagai komunitas tertua di Singosari.

Dwi, dalam sebuah makalahnya, bisa jadi warga kilalan (komunitas pedagang asing) yang ada di ibu kota vazal Majapahit di Singosari adalah pedagang yang beragama Islam. Dengan demikian komunitas muslim di Bungkuk sudah ada sebelum Mbah Chamimuddin datang. “Tapi itu perlu riset lebih jauh,” terang Dwi.

Komunitas muslim di Bungkuk memang sudah mengakar terlebih kini masjidnya direnovasi. Dua mantan menteri agama Indonesia juga merupakan santri di ponpes tua dengan santri yang makin lama makin berkurang. “Ada satu kebanggaan di masjid ini, yakni lubang yang dipakai oleh Mbah Tohir untuk melihat Kakbah di Makkah sana. Hanya ada dua di Indonesia,” tutur Sholeh, keturunan Mbah Tohir menutup cerita.*

Jumat, 30 Maret 2012

PANGERAN SAMBU LASEM

Posted by Unknown On 23.55 | No comments


Mbah Sambu Lasem

Sampai saat ini belum diketemukan siapa istri mbah Sabil. Dari data tulisan tangan/prasasti mbah Kyai Ahmad Rowobayan, diketahui bahwa mbah Sabil mempunyai keturunan, 2 laki-laki dan 2 perempuan, diantaranya :
1) Kyai Saban
2) Nyai Samboe Lasem.
3) Moyo Kerti (Nyai Abdul Jabbar)
4) Kyai Abdurrokhim.
Dari anak pertama Kyai Saban, mbah Sabil menurunkan 4 cucu yaitu: Kyai Abdurrohman Klothok, Kyai Uju, Nyai Gedong, dan Kyai Wahid. Dari Kyai Uju inilah yang menurunkan mbah Kyai Ahmad Rowobayan, Kuncen, Padangan. Belakangan para cucu beliau menjadi tokoh penyebaran agama Islam di Desa Kuncen.
Sedangkan anak ke-dua yaitu Nyai Samboe Lasem. Tidak diketaui nama aslinya, yang jelas di panggil Samboe karena suaminya adalah: Kyai Samboe Lasem, Rembang atau yang disebut: Muhammad Syihabuddin dan lebih dikenal sebagai: Pangeran Syihabuddin Samboe Digda Diningrat. Makam mbah Sambu dan istrinya berada di sebelah utara makam Adipati Tejokusumo I. Makam mbah Sambu dan istrinya berada dalam cungkup yang berdenah bulat dan beratap kubah yang seluruhnya terbuat dari bata merah berlepa.
Di makam Mbah Sambu Lasem, Rembang, Jawa tengah, terdapat prasasti marmer ukuran kecil dalam bahasa arab yang menyebutkan bahwa nama Mbah Sambu yang sebenarnya adalah Sayyid Abdurrahman bin Hasyim bin Sayyid Abdurrahman Basyaiban. Menantu mbah Sabil ini keturunan Sultan Hadiwijaya yang biasa dikenal dengan sebutan populernya “JAKA TINGKIR”. Seorang pemuda dari Tingkir, suatu desa yang terletak di tenggara Salatiga pada tahun 1568 M, putra dari Adipati Pengging Pangeran Handayaningrat/R. Kusen, sedangkan R. Kusen sendiri putra dari Harya Damar Adipati Palembang. Adipati Palembang ini putra Prabu Brawijaya Majapahit. Jaka Tingkir menjadi raja Pajang yang pertama dan terakhir dengan gelar Sultan Hadi Wijaya dan sukses meng-Islamkan daerah Pasuruan dan sekitarnya.
Karena kealimannya, beliau dinikahkan dengan putri Pangeran Trenggana, raja ke III di kerajaan Islam Demak. Maka lahirlah Pangeran Benawa yang selama hidupnya menjadi guru thoriqot dan menyepi di daerah Kudus, pernah sebentar menjadi Adipati Jipang-Panolan Cepu.
KH. Akhmad Shidiq merupakan salah satu dari keturunan Kyai Samboe Lasem, atau cucu langsung dari mbah Sabil, yang memimpin Pondok Pesantren “AS-SYIDDIQIYAH” Jember. Beliau pernah menjadi anggota DPR-RI disamping lama di jajaran Rois-Am PBNU Kramat Raya Jakarta.
Dari anak ke-tiga Moyo Kerti, yang diperisteri mbah Abdul Jabbar yang makamnya ada di Nglirip nJojogan Tuban, mbah Sabil menurunkan mbah Iskak Rengel yang haulnya diadakan setiap Jum’at setelah tanggal 20 dibulan As-Syura/Muharam. Mbah Iskak Rengel menurunkan mbah Sholeh Tsani, pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin Sampurnan, Bungah, Gresik. Ditengah pondok inilah setiap tahunnya diselenggarakan haul terbesar di Jawa Timur pada bulan Robiul Awal setelah tanggal 20 guna memperingati meninggalnya mbah Sholeh Tsani.
Putra ke-empat Mbah Sabil yaitu Kyai Abdurrakhim Kaliwuluh Sambeng, yang diambil menantu putra wayah R. Rakhmad/Sunan Ampel Gading Surabaya.
MASJID JAMI' LASEM DAN MAKAM ADIPATI TEJOKUSUMO I
Adipati Tejokusumo I sebagai Bupati Lasem dari generasi ke-empatsetelah Bupati Santi Puspo, pada tahun 1585 dan menempatkan pusat kekuasaannya di Soditan. Tiga tahun setelah menjadi adipati, dengan membangun Masjid Jami' Lasem tahun 1588 berada di sebelah barat alun-alun. HIngga kini masjid ini masih megah setelah mengalami pemugaran-pemugaran. Adipati Tejokusumo meninggal pada tahun 1632.
Untuk selanjutnya, karena jabatan adipati di Lasem kosong maka Sultan Agung dari Mataram mengangkat Cik Go Ing sebagai adipati dengan gelar Tumenggung Mertoguno. Setelah meninggal, Adipati Tejokusumo I dimakamkan disebelah barat Masjid Jami' Lasem yang sekarang terletak di dusun Kauman, desa Karangturi, kecamatan Lasem. Disebelah barat laut masjid juga terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat setempat disebut dengan nama makam Mbah Sambu yang dikatakan merupakan seorang Cina yang menyebarkan agama islam di derah ini pada masa Tejokusumo I. Makam Tejokusumo I terletak di sebuah halaman yang dikelilingi oleh tembok bata.
Di dalam areal tembok bata tersebut terdapat tiga makam yang berderet dari barat ke timur. Makam Adipati Tejokusumo I terletak di bagian paling barat. Dua makam lainnya tidak dikenal hingga kini. Jirat makam Tejokusumo I terbuat dari batu bata yang disusun secara bertumpuk semakin ke atas semakin mengecil. Pada setiap sudut dan bagian tengah dari masing-masing sisi jirat terdapat hiasan dengan motif simbar. Adapaun nisan pada makam ini terbuat dari batu andesit yang dibentuk kurawal dengan hiasan medalion pada bagian tengah. Adapun makam Mbah Sambu dan istrinya yang berada di sebelah utara makam Adipati Tejokusumo I. Makam Mbah sambu dan istrinya berada di dalam cungkup yang berdenah bulat dan beratap kubah yang seluruhnya terbuat dari bata merah berlepa. Kemungkinan besar makam ini sudah dipugar. Di sebelah utara masjid terdapat bangunan terbuka yang terdapat makam-makam yang tidak dikenali identitasnya. Dengan melihat pada nisan-nisannya, tampak dengan jelas bahwa kompleks kuburan ini juga sudah cukup tua. Nisan-nisan yang bisa dilihat di situ sebagian terbuat dari batu andesit dengan bentuk kurawal dan gada.
Lasem: Merajut Pesona Klasik Yang Memudar
Tak seperti halnya kota2 kecil lainnya di Jawa, Lasem mempunyai sejarah panjang dan catatan penting dan menarik untuk diikuti dan dikuliti. Sbg sebuah kota kecamatan, secara fisikal tampak lebih berkilau.
Denyut perekonomian lebih berkembang dibanding kecamatan2 lainnya di penjuru kabupaten Rembang. Bahkan sampai pada dekade 90′an lasem nampak lebih mempesona dibanding Kota Rembang itu sendiri. Jadi tak heran warga lasem jaman dulu atau bahkan sampai sekarang lebih bangga mengaku warga Lasem daripada warga Rembang.
Akar Budaya Tionghoa-Islam
Memasuki kota Lasem anda akan dibuat takjub dg bangunan2 super tua gaya arsitek tionghoa bertebaran disisi jalan utama. Apalagi jika anda mau “blusukan” di gang2 atau jalan2 kecil ke arah kanan atau kiri jalan sultan agung, untung suropati atau jalur selatan menuju jatirogo/bojonegoro yakni jalan eyang sambu, anda seolah berada di cina tempoe dulu. Dgn tembok putih setinggi 3-4 meter dan gaya pintu khas cina menciptakan perkampungan pecinan yang eksotis.
Aura kecina2an semakin tak terbantahkan dg bangunan 3 buah klenteng sbg bukti eksisitensi mereka masih terjaga sampai skrg. Julukan china town memang layak disandang kota ini, jejak kedatangan orang2 cina di lasem termasuk gelombang pertama orang2 cina masuk bumi jawa. Yakni sekitar abad 14 masehi. Di samping tembok2 menjulang tinggi di kawasan kota, anda juga bisa mendapati komunitas jawa (baca: islam). Ada belasan pondok pesantren bertebaran di kota yang pernah menjadi setting film “ca bau kan” ini.
Sejarah islam juga cukup mengakar, ini bisa diruntut dari kiprah sunan bonang yang dipercaya pernah hidup lama sampai wafatnya di desa bonang 3 km arah utara kota lasem. Di sini terdapat rumah beliau, masjid, makam dan petilasan (semacam tempat khalwat) beliau. Makam istri sunan bonang keturunan cina (putri campa) juga dapat ditelusuri jejaknya. Memang banyak versi ttg dimana sunan bonang dikebumikan.
Dalam buku2 sejarah perkembangan islam di jawa yg selama ini saya pelajari, selalu saja menyebutkan beliau seolah menetap dan hidup di wilayah tuban. Padahal situs2 peninggalan beliau tumpleg-bleg ada di desa bonang dan sekitarnya. banyak cerita2 yang beredar tentang keberadaan beliau di wilayah bonang. cerita perkelahian antara sunan bonang dan saudagar cina dampo awang di pantai binangun dekat bonang salah satunya.
Kapal sang saudagar karam jangkarnya terdampar di Rembang (jangkar raksasa ini sampai skrg msh bs anda saksikan di komplek Taman Rekreasi Pantai Kartini). Dan layarnya mendarat di bukit pantai binangun (masyarakat menyebut bukit tsb dgn watu layar). ada pula kisah tentang bendi becak, asal usul lontong tuyuhan, dan lain sebagainya yg disandarkan pada sosok sunan boning.
Tapi menurut sebagian masyarakat lainnya, meski percaya sunan bonang pernah tinggal dan wafat di bonang-lasem tapi makamnya tetap mereka anggap berada di tuban. Sebagai seorang ulama, murid beliau menyebar di penjuru nusantara. Ketika beliau wafat di bonang, murid2nya dari daerah madura/bawean mencoba membawa jasad sunan untuk disemayamkan di daerahnya. Namun, santri2 dr tuban merasa berhak juga atas jasad kanjeng sunan.
Walhasil, pertempuran di perairan tuban tak bisa dihindarkan. Dan murid2 tuban dpt mendaratkan jasad beliau dan di kebumikan di komplek masjid agung tuban kota. Jadi jangan heran jika di tiap tahunnya haul sunan yang punya nama asli maulana malik makdum ini diselenggarakan di 3 tempat yang berbeda, yakni: Di bonang Lasem, Tuban dan bawean.
Batik Tulis Lasem
Ada banyak keistimewaan lain dari kota yang punya latar belakang 2 etnis ini (tionghoa-jawa). Salah satunya adalah batik tulis hasil karya perpaduan budaya yang sarat dg cita rasa khas dan bermotif sangat nglasemi (pesisir). Singkronisasi 2 unsur budaya cina dan jawa yg saling “ngeloni” satu dgn yg lainnya menghasilkan maha karya yang waskito dan unik. Cara pengerjaannya terbilang lebih rumit dibanding batik2 dr daerah solo, jogja ataupun pekalongan.
Wisata kuliner
Bicara ttg kota lasem memang tak ada matinya, coba rasakan kedahsyatan selera lidah anda. Sajian khas lontong tuyuhan akan memberi sensasi lain. Lontong berbentuk segitiga dg bungkus daun pisang ini disajikan dg kuah opor plus potongan ayam kampung yang pedasnya lumayan nonjok. Apalagi jk dinikmati di areal komplek warung lontong di desa tuyuhan, dg parkir luas dan tempat yang nyaman disertai latar blkg hamparan sawah dan bukit dan gunung lasem semakin menambah gayeng makan sore anda. Mau mencoba menu lain? Ada mangut khas lasem, sayur mrica, kue gedumbeg, atau sate serepeh.
Wisata Rohani
Tak hanya budaya dan wisata kuliner bisa anda temukan di kota ini. Wisata religi juga dapat anda rasakan auranya. Seperti disebutkan sebelumnya, 3 klenteng di lasem bisa jadi rujukan jika ingin mengetahui lbh jauh ttg ajaran konghucu dan adat cina peranakan. Bahkan di salah satu klenteng digambarkan dg jelas perjuangan warga cina dan pribumi lasem yg bersatu padu melawan penjajah belanda yang dipimpin oleh 2 tokoh orang tionghoa dan 1 tokoh orang pribumi yang gugur pada tahun 1700an.
Wisata religi lainnya yg tak kalah masyhurnya tentunya peninggalan Sunan Bonang di Bonang, seperti rumah peninggalan beliau, masjid tempat menggembleng murid2nya, pasujudan di atas bukit, tongkat yang di pajang di sisi jalan raya pantura, makam dan sebagainya. Selain itu, anda juga bisa berziarah di komplek pemakaman disebelah utara masjid jami’ Lasem terdapat banyak makam ulama. Tercatat nama mbah sambu atau nama lengkapnya sayyid abdurrahman basyaiban.

Blogroll

Blogger templates

About