ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Kamis, 29 Maret 2012

murid setia SUNAN KALIJAGA ,

Posted by Unknown On 19.00 | No comments
Murid Setia Sunan Kalijaga
NAMA asalnya adalah Raden Mas Cokrojoyo atau ‘Pangeran Bunnabrang’. Ketika masih kecil hingga dewasa, Ki Cokrojoyo dikenal sebagai tukang peras air nira kelapa yang kemudian diolahnya menjadi gula. Anehnya, sebelum memanjat pohon nira, ia selalu menembangkan lagu ‘Kelontang-kelantung, wong nderes buntute bumbung, apa gelem apa ora?’ (Kelontang-kelantung, orang tukang peras, ekornya bumbung/bambu, apa mahu apa tidak?). Lagu ini kononnya sebagai ‘jampi’ untuk mendapatkan nira yang lebih banyak. Memeras air nira dilakukan oleh Ki Cokrojoyo kerana latar belakang keluarganya yang miskin. Dia tinggal di tengah hutan, di kampung Bedhug, Tanah Bagelen (sekarang telah menjadi daerah Bagelen, wilayah Purworejo), berada di bantaran aliran Sungai Watukura/Bagawanta. Dikatakan kerana miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmelarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertarikat hingga menjadi luhur budinya dan “sakti” ilmunya. Kerananya, Ki Cokrojoyo di-”tua”-kan di wilayahnya. Dalam paparan buku Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen karya Radix Penadi disebutkan bahawa ketika suatu hari Ki Cokrojoyo akan memanjat pohon nira dan siap dengan jampi-jampinya, datanglah seorang yang perwatakannya kelihatan alim menghampirinya. “Kenapa setiap kali kau memanjat batang nira selalu mengucapkan kalimat tadi?”
“Itulah ‘jampi’ agar hasilnya melimpah,” jawab Ki Cokrojoyo. “Ah, tapi yang kau ucapkan itu salah dan kurang tepat”. “Salah dan kurang tepat? Tuan rupanya belum kenal aku. Akulah Ki Cokrojoyo, tukang ambil air nira yang aku lakukan sejak kecil. Itu merupakan ilmu warisan keturunanku dan jampi-jampi itupun bukan sembarang jampi!” “Betul kata-katamu. Tapi aku ada jampi yang lebih unggul, yang akan boleh menghasilkan lebih banyak dari jampimu itu,” kata lelaki alim tersebut dengan penuh yakin. “Buktikanlah!” pinta Cokrojoyo. “Baiklah, izinkanlah aku melihat caramu mengolah air nira itu.” Ki Cokrojoyo lalu mengajak lelaki tadi ke rumahnya dan mengajarinya. Si tetamu kemudian mengambil gula nira tersebut. Gula itu diserahkan pada Ki Cokrojoyo seraya berpesan agar jangan dibuka sebelum dirinya keluar dari kampung Bedhug. Setelah lelaki itu keluar dari kampungnya, Ki Cokrojoyo segera membuka gula tersebut. Matanya terbelalak kerana isinya bukan lagi gula, melainkan segenggam emas yang berkilauan. Ki Cokrojoyo tersedar bahawa tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar lelaki tersbeut. Dia akhirnya berhasil juga mengejar dan menemukan lelaki misteri itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Songo yang termasyhur di kalangan rakyat jelata.
Dorongan dari rasa ghairahnya itu, Ki Cokrojoyo minta diajarkan “bacaan jampi” dengan bersedia menjadi muridnya. Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan kalimat syahadat. Sejak saat itu, Cokrojoyo selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah lain sambil menyebarkan dakwah Islam.

Digelari Sunan Geseng
Sunan Geseng adalah murid yang sangat patuh dan setia terhadap semua perintah Sunan Kalijaga. Pada suatu hari, Sunan Kalijaga ingin menguji kesetiaan Sunan Geseng dengan ujian yang cukup berat. Sunan Geseng yang waktu itu masih bernama Ki Cokrojoyo diminta untuk menjaga dan memegangi tongkat yang ditancapkan di sebuah bukit di wilayah Bagelen. Sunan Kalijaga berpesan agar Ki Cokrojoyo tidak meninggalkan tempat itu sampai dia kembali. Ki Cokrojoyo duduk bersila memegangi dan menjaga tongkat yang ditinggalkan Sunan Kalijaga. Hujan, panas, dingin dan ancaman binatang buas selama menunggui tongkat gurunya tak sejengkal pun membuat Ki Cokrojoyo bergerak dari tempat duduknya. Ia tetap tak berganjak dari tempat duduknya, meski hanya sesaat. Hari demi hari, bulan terus berganti, tahun demi tahun tak terasa Ki Cokrojoyo telah duduk bersila memegangi dan menjaga tongkat gurunya selama ‘7 tahun’. Setelah 7 tahun itulah Sunan Kalijaga kembali ke tempat itu untuk menemui muridnya, Ki Cokrojoyo. Namun, apa yang terjadi di luar dugaan? Muridnya tak terlihat lagi di tempat itu. Bukti tempat di mana Ki Cokrojoyo memegangi dan menjaga tongkat Sunan Kalijaga sudah berubah menjadi sebuah hutan yang sangat lebat. Sunan Kalijaga dengan keadaan terpaksa membakar tempat itu untuk mengetahui tempat si murid yang ditinggalkan sendirian selama ‘7 tahun’ tersebut. Dengan keadaan hutan yang sangat menyeramkan, hati Sunan Kalijaga tak yakin apakah Ki Cokrojoyo masih bertahan di tempat itu. Setelah tiga perempat bahagian hutan itu habis terbakar, di sanalah kelihatan Ki Cokrojoyo duduk bersila dalam keadaan sama seperti ketika ditinggalkan dulu. Tubuhnya hitam terpanggang api sambil memegangi erat tongkat Sunan Kalijaga yang ditancapkan di tanah. Bahagian tubuh Ki Cokrojoyo kelihatan ‘terbakar’ akibat terpanggang api, namun dirinya tak berganjak sedikitpun dari tempat duduknya. Hati Sunan Kalijaga terharu saat itu. Dia belum pernah menemui kesetiaan dan ketaatan yang sangat luar biasa dari seorang muridnya itu sebelumnya. Melihat pengorbanan sedemikian besar, maka sejak itu Ki Cokrojoyo dinilai telah lulus dan layak memiliki ilmu setingkat dengan ilmu seorang ‘wali’. Lantas Ki Cokrojoyo pun diberi gelar dengan panggilan Sunan Geseng.

Monggo DI ILMUNI

Posted by Unknown On 18.41 | No comments
PERBEDAAN SYARIAT, THORIQOH, HAQIQAH DAN MA’RIFAT

oleh : Ust. Umar Bin Sholeh AlHamid



Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :

Syariat Thariqah Haqiqah Ma’rifah

1. Syariat :

Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.

Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

2. Thariqah :

Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

Thariqah ada 2(dua) macam :

Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )

Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )

“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :

1. Umariyah 23. Usysyaqiyyah

2. Naqsyabandiyah 24. Bakriyah

3. Qadiriyah 25. Idrusiyah

4. Syadziliyah 26. Utsmaniyah

5. Rifaiyah 27. ‘Alawiyah

6. Ahmadiyah 28. Abbasiyah

7. Dasuqiyah 29. Zainiyah

8. Akbariyah 30. Isawiyah

9. Maulawiyah 31. Buhuriyyah

10. Kubrawiyyah 32. Haddadiyah

11. Sahrowardiyah 33. Ghaibiyyah

12. Khalwatiyah 34. Khodiriyah

13. Jalwatiyah 35. Syathariyah

14. Bakdasiyah 36. Bayumiyyah

15. Ghazaliyah 37. Malamiyyah

16. Rumiyah 38. Uwaisiyyah

17. Sa’diyah 39. Idrisiyah

18. Jusfiyyah 40. Akabirul Auliya’

19. Sa’baniyyah 41. Subbuliyyah

20. Kalsaniyyah 42. Matbuliyyah

21. Hamzaniyyah 43. TIJANIYAH

22. Bairumiyah 44. Sammaniyah.

3. Haqiqah

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.

Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

4. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.

Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.
PERBEDAAN SYARIAT, THORIQOH, HAQIQAH DAN MA’RIFAT

oleh : Ust. Umar Bin Sholeh AlHamid



Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar istilah-istilah agama yang kadang-kadang pengertian masyarakat masih rancu, istilah tersebut antara lain :

Syariat Thariqah Haqiqah Ma’rifah

1. Syariat :

Adalah hukum Islam yaitu Al qur’an dan sunnah Nabawiyah / Al Hadist yang merupakan sumber acuan utama dalam semua produk hukum dalam Islam, yang selanjutnya menjadi Madzhab-madzhab ilmu Fiqih, Aqidah dan berbagai disiplin ilmu dalam Islam yang dikembangkan oleh para ulama dengan memperhatikan atsar para shahabat ijma’ dan kiyas. Dalam hasanah ilmu keislaman terdapat 62 madzhab fiqh yang dinyatakanmu’tabar (Shahih dan bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya) oleh para ulama. Sedangkan dalam hasanah ilmu Tuhid (keimanan), juga dikenal dengan ilmu kalam. Ahirnya ummat Islam terpecah menjadi 73 golongan / firqah dalam konsep keyakinan. Perbedaan ini terdiri dari perbedaan tentang konsep konsep, baik menyangkut keyakinan tentang Allah SWT, para malaikat, kitab kitab Allah, para Nabi dan Rasul, Hari Qiamat dan Taqdir.

Namun dalam masalah keimanan berbeda dengan Fiqih. Dalam Fiqh masih ada toleransi atas perbedaan selama perbedaan tersebut tetap merujuk pada Al Qur’an dan Sunnah, dan sudah teruji kebenarannya serta diakui kemu’tabarannya oleh para ulama yang kompeten. Akan tetapi dalam konsep keimanan, dari 73 golongan yang ada, hanya satu golongan yang benar dan menjadi calon penghuni surga, yaitu golongan yang konsisten / istiqamah berada dibawah panji Tauhidnya Rasulullah SWA dan Khulafa Ar Rasyidiin Al Mahdiyyin yang selanjutnya dikenal dengan Ahlu As Sunnah wal Jamaah. Sedangkan firqah / golongan lainnya dinyatakan sesat dan kafir. Jika tidak bertaubat maka mereka terancam masuk dalam neraka. Na’udzubillah.

2. Thariqah :

Adalah jalan / cara / metode implementasi syariat. Yaitu cara / metode yang ditempuh oleh seseorang dalam menjalankan Syariat Islam, sebagai upaya pendekatannya kepada Allah Swt. Jadi orang yang berthariqah adalah orang yang melaksanakan hukum Syariat, lebih jelasnya Syariah itu hukum dan Thariqah itu prakteknya / pelaksanaan dari hukum itu sendiri.

Thariqah ada 2(dua) macam :

Thariqah ‘Aam : adalah melaksanakan hukum Islam sebagaimana masyarakat pada umumnya, yaitu melaksanakan semua perintah, menjauhi semua larangan agama Islam dan anjuran anjuran sunnah serta berbagai ketentuan hukum lainnya sebatas pengetahuan dan kemampuannya tanpa ada bimbingan khusus dari guru / mursyid / muqaddam.

Thariqah Khas : Yaitu melaksanakan hukum Syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam. Bimbingan lahir dengan menjelaskan secara intensif tentang hukum-hukum Islam dan cara pelaksanaan yang benar. Sedangkan bimbingan batin adalah tarbiyah rohani dari sang guru / Syeikh / Mursyid / Muqaddam dengan izin bai’at khusus yang sanadnya sambung sampai pada Baginda Nabi, Rasulullah Saw. Thariqah Khas ini lebih dikenal dengan nama Thariqah as Sufiyah / Thariqah al Auliya’.Thariqah Sufiyah yang mempunyai izin dan sanad langsung dan sampai pada Rasulullah itu berjumlah 360 Thariqah. Dalam riwayat lain mengatakan 313 thariqah. Sedang yang masuk ke Indonesia dan direkomendasikan oleh Nahdlatul Ulama’ berjumlah 44 Thariqah, dikenal dengan Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyah dengan wadah organisasi yang bernama Jam’iyah Ahlu Al Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah.

Dalam kitab Mizan Al Qubra yang dikarang oleh Imam Asy Sya’rany ada sebuah hadits yang menyatakan :

ان شريعتي جا ئت على ثلاثما ئة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا .(ميزان الكبرى للامام الشعرني : 1 / 30)

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqah (metoda pendekatan pada Allah), siapapun yang menempuh salah satunya pasti selamat”. (Mizan Al Qubra: 1 / 30 )

Dalam riwayat hadits yang lain dinyakan bahwa :

ان شريعتي جائت على ثلاثمائة وثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة ( رواه الطبرني )

“Sesungguhnya syariatku datang membawa 313 thariqah (metode pendekatan pada Allah), tiap hamba yang menemui (mendekatkan diri pada) Tuhan dengan salah satunya pasti masuk surga”. (HR. Thabrani)

Terlepas dari perbedaan redaksi dan jumlah thariqah pada kedua riwayat hadits diatas, mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus percaya akan adanya thariqah sebagaimana direkomendasi oleh hadits tersebut. Kalau tidak percaya berarti tidak percaya dengan salah satu hadits Nabi SAW yang Al Amiin (terpercaya dan tidak pernah bohong). Lalu bagaimana hukumnya tidak percaya pada Hadits Nabi yang shahiih?

Dari semua thariqah sufiyah yang ada dalam Islam, pada perinsip pengamalannya terbagi menjadi dua macam. Yaitu thariqah mujahadah dan Thariqah Mahabbah. Thariqah mujahadah adalah thariqah / mitode pendekatan kepada Allah SWT dengan mengandalkan kesungguhan dalam beribadah, sehingga melalui kesungguhan beribadah tersebut diharapkan secara bertahap seorang hamba akan mampu menapaki jenjang demi jenjang martabah (maqamat) untuk mencapai derajat kedekatan disisi Allah SWT dengan sedekat dekatnya. Sebagian besar thariqah yang ada adalah thariqah mujahadah.

Sedangkan thariqah mahabbah adalah thariqah yang mengandalkan rasa syukur dan cinta, bukan banyaknya amalan yang menjadi kewajiban utama. Dalam perjalanannya menuju hadirat Allah SWT seorang hamba memperbanyak ibadah atas dasar cinta dan syukur akan limpahan rahmat dan nikmat Allah SWT, tidak ada target maqamat dalam mengamalkan kewajiban dan berbagai amalan sunnah dalam hal ini. Tapi dengan melaksanakan ibadah secara ikhlash tanpa memikirkan pahala, baik pahala dunia maupun pahala ahirat , kerinduan si hamba yang penuh cinta pada Al Khaliq akan terobati. Yang terpenting dalam thariqah mahabbah bukan kedudukan / jabatan disisi Allah. tapi menjadi kekasih yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT. Habibullah adalah kedudukan Nabi kita Muhammad SAW. (Adam shafiyullah, Ibrahim Khalilullah, Musa Kalimullah, Isa Ruhullah sedangkan Nabi Muhammad SAW Habibullah). Satu satunya thariqah yang menggunakan mitode mahabbah adalah Thariqah At Tijany.

Nama-nama thariqah yang masuk ke Indonesia dan telah diteliti oleh para Ulama NU yang tergabung dalam Jam’iyyah Ahluth Thariqah Al Mu’tabarah Al Nahdliyah dan dinyatakan Mu’ tabar (benar – sanadnya sambung sampai pada Baginda Rasulullah SAW), antara lain :

1. Umariyah 23. Usysyaqiyyah

2. Naqsyabandiyah 24. Bakriyah

3. Qadiriyah 25. Idrusiyah

4. Syadziliyah 26. Utsmaniyah

5. Rifaiyah 27. ‘Alawiyah

6. Ahmadiyah 28. Abbasiyah

7. Dasuqiyah 29. Zainiyah

8. Akbariyah 30. Isawiyah

9. Maulawiyah 31. Buhuriyyah

10. Kubrawiyyah 32. Haddadiyah

11. Sahrowardiyah 33. Ghaibiyyah

12. Khalwatiyah 34. Khodiriyah

13. Jalwatiyah 35. Syathariyah

14. Bakdasiyah 36. Bayumiyyah

15. Ghazaliyah 37. Malamiyyah

16. Rumiyah 38. Uwaisiyyah

17. Sa’diyah 39. Idrisiyah

18. Jusfiyyah 40. Akabirul Auliya’

19. Sa’baniyyah 41. Subbuliyyah

20. Kalsaniyyah 42. Matbuliyyah

21. Hamzaniyyah 43. TIJANIYAH

22. Bairumiyah 44. Sammaniyah.

3. Haqiqah

Yaitu sampainya seseorang yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. di depan pintu gerbang kota tujuan, yaitu tersingkapnya hijab-hijab pada pandangan hati seorang salik (hamba yang mengadakan pengembaraan batin) sehigga dia mengerti dan menyadari sepenuhnya Hakekat dirinya selaku seorang hamba didepan TuhanNya selaku Al Kholiq Swt. bertolak dari kesadaran inilah, ibadah seorang hamba pada lefel ini menjadi berbeda dengan ibadah orang kebanyakan. Kebanyakan manusia beribadah bukan karena Allah SWT, tapi justru karena adanya target target hajat duniawi yang ingin mereka dapatkan, ada juga yang lebih baik sedikit niatnya, yaitu mereka yang mempunyai target hajat hajat ukhrawi (pahala akhirat) dengan kesenangan surgawi yang kekal.

Sedangkan golongan Muhaqqiqqiin tidak seperti itu, mereka beribadah dengan niat semata mata karena Allah SWT, sebagai hamba yang baik mereka senantiasa menservis majikan / tuannya dengan sepenuh hati dan kemampuan, tanpa ada harapan akan gaji / pahala. Yang terpenting baginya adalah ampunan dan keridhaan Tuhannya semata. Jadi tujuan mereka adalah Allah SWT bukan benda benda dunia termasuk surga sebagaimana tujuan ibadah orang kebanyakan tersebut diatas.

4. Ma’rifah

Adalah tujuan akhir seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah Swt. (salik) Yaitu masuknya seorang salik kedalam istana suci kerajaan Allah Swt. ( wusul ilallah Swt). sehingga dia benar benar mengetahui dengan pengetahuan langsung dari Allah SWT. baik tentang Tuhannya dengan segala keagungan Asma’Nya, Sifat sifat, Af’al serta DzatNya. Juga segala rahasia penciptaan mahluk diseantero jagad raya ini. Para ‘Arifiin ini tujuan dan cita cita ibadahnya jauh lebih tinggi lagi, Mereka bukan hanya ingin Allah SWT dengan Ampunan dan keridhaanNYa, tapi lebih jauh mereka menginginkan kedudukan yang terdekat dengan Al Khaliq, yaitu sebagai hamba hamba yang cinta dan dicintai oleh Allah SWT.

(syariah dan Thariqah) kita bisa mempelajari teori dan praktek secara langsung, baik melalui membaca kitab-kitab / buku-buku maupun melalui pelajaran-pelajaran (ta’lim) dan pendidikan (Tarbiyah) bagi ilmu Thariqah. Sedangkan Haqiqah dan ma’rifah pada prinsipnya tidak bisa dipelajarisebagai mana Syariah dan Thariqah karena sudah menyangkut Dzauqiyah.

Haqiqah dan ma’rifah lebih tepatnya merupakan buah / hasil dari perjuangan panjang seorang hamba yang dengan konsisten (istiqamah) mempelajari dan menggali kandungan syariah dan mengamalkanya dengan ikhlash semata mata karena ingin mendapatkan ridha dan ampunan serta cinta Allah SWT.

Perumpamaan yang agak dekat dengan masalah ini adalah : ibarat satu jenis makanan atau minuman ( misalnya nasi rawon ). Resep masakan nasi rawon yang menjelaskan bahan bahan dan cara membuat nasi rawon itu sama dengan Syariah. Bimbingan praktek memasak nasi rawon itu sama dengan Thariqah. Resep dan praktek masak nasi rawon ini bisa melalui buku dan mempraktekkan sendiri (ini thariqah ‘am ) sedangkan resep dan praktek serta bimbingan masak nasi rawon dengan cara kursus pada juru masak yang ahli (itu namanya Thariqah khusus). Makan nasi rawon dan menjelaskan rasa / enaknya ini sudah haqiqah dan tidak ada buku panduannya, demikian juga makan nasi rawon dan mengetahuisecara detail rasa, aroma, kelebihan dan kekurangannya itu namanya ma’rifah.

Ujian Pangeran Penatas Angin menjadi Murid Sunan Kalijaga

Tiga Materi Ujian dari Sunan Kalijaga.

Ringkas cerita pada waktu dan tempat yang telah ditentukan, Pangeran Natas Angin bersiap menjalani pendadaran atau ujian. Ada tiga macam ujian yang diberikan Sunan Kalijaga kepada Pangeran Natas Angin yang kesemuanya menurut intuisi penulis, mengandung makna filosofis yang sangat mendalam.

Ujian pertama, tentang Pengendalian Diri. Sunan Kalijaga menciptakan api yang berkobar-kobar, Pangeran Natas Angin diminta supaya bisa nyirep atau memadamkan api tadi sebelum merusak (membakar) sekeliling dan merugikan penduduk. Pangeran Natas Angin mohon izin kepada Kanjeng Sunan Kalijaga untuk menjawab ujian yang pertama. Kanjeng Sunan mengijinkan, kemudian dengan bemodalkan izin dari Guru, Pangeran Natas Angin berdoa memohon pertolongan dari Gusti Allah Yang Maha Kuasa. Seketika terjadi keanehan alam. Langit tiba-tiba mendung tebal, petir menyambar di angkasa, kemudian disusul turunnya hujan deras mengguyur api yang berkobar-kobar tadi. Api akhirnya padam, dan Pangeran Natas Angin dinyatakan lulus pada ujian yang pertama. Ujian yang pertama ini mengandung pelajaran hikmah yang menggambarkan, bahwa orang yang akan meraih keutamaan itu terlebih dahulu harus bisa mengendalikan hawa nafsu angkara murka. Nafsu angkara murka digambarkan api besar yang berkobar-kobar. Jika tidak disirep atau dikendalikan, salah-salah api tadi bisa membakar segala sesuatu, termasuk merusak diri sendiri.

Untuk dapat mengendalikan nafsu maka seseorang harus membersihkan hati, merasa kosong, lemah tak berdaya kecuali dengan pertolongan dari Allah Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan ketika seorang hamba sudah bisa mencapai keadaan kosong, maka datanglah keadaan isi berupa rahmat serta pertolongan dari Allah Tuhan Yang Maha Agung. Rahmat dan pertolonqan Allah digambarkan dengan turunya hujan deras mengguyur dan Memadamkan api yang menyala-nyala.

Ujian Kedua, tentang Kepemimpinan. Sunan Kalijaga mendatangkan lebah yang beribu-ribu ekor jumlanya. Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian meminta kepada Pangeran Natas Angin supaya merekayasa, dengan cara bagaimana agar ribuan ekor lebah tadi tidak membuat rusak dan menimbulkan kerugian bahkan syukur-syukur lebah itu bermanfaat bagi sekalian umat. Sebelum menjawab ujian kedua, Pangeran Natas Angin tidak lupa memohon izin kepada Kanjeng Guru Sunan Kalijaga. Setelah memperoleh restu, selanjutnya, Pangeran Natas Angin berdoa memohon pertolongan Allah Yang Maha Kuasa. Berkat pertolongan Allah. tiba-tiba di tempat tersebut bermunculan rumah lebah yang disebut tala sampai ratusan lempeng jumlahnya, Lempeng-lempeng tala tadi menempel di sela-sela pelepah pohon nyiur yang terdapat disekitar sekeliling arena pendadaran tersebut. Seketika ribuan lebah tadi terbang berduyun-duyun saling berebut tempat memasuki tala yang memang sudah selayaknya menjadi rumah lebah. Melihat kenyataan itu, puaslah hati Sunan Kalijaga. Pangeran Natas Angin dinyatakan lulus pada ujian yang kedua. Ujian yang kedua ini mengandung hikmah pelajaran bahwa utama-utamanya manusia itu adalah orang yang dapat menggunakan daya akal atau pikirannya agar menghasilkan karya yang membawa manfaat kepada umat. Menggunakan daya akal dan pikirnya untuk menata, memimpin, dan mengarahkan semua warga dengan baik, serta bisa menempatkan derajat kemanusiaan di tempat yang layak. Jika semua warga sudah bisa diopeni dengan baik, tentu mereka tidak akan membuat kerusakan, apalagi berbuat keonaran. Malah sebaliknya, warga akan bisa menghasilkan karya besar yang bermanfaat besar bagi kehidupan. Digambarkan seperti lebah yang istiqomah mendiami rumah tala, lama-lama akan menghasilkan madu yang suci, halal, dan banyak sekali manfaatnya.

Ujian ketiga, ujian yang terakhir tentang Keyakinan dan Kebersihan hati. Kanjeng Sunan Kalijaga melakukan besut sukma. Sukma Kanjeng Sunan Kalijaga naik ke angkasa bersembunyi di balik mega. Pangeran Natas Angin disuruh mencari dan menemukan sukma Kanjeng Sunan Kalijaga. Jika berhasil pada Ujian ini, Kanjeng Sunan Kalijaga berjanji akan menerima Pangeran Natas Angin sebagai murid yang paling dikasihi lahir dan batin, sejak di dunia sampai di akhirat. Mendengar janji Kanjeng Guru seperti itu, Pangeran Natas Angin merasa bergembira. Jauh di dalam lubuk hatinya tersimpan keyakinan, bahwa dengan berbekal restu Bapa Guru, pastilah Gusti Guru Yang Maha Pengasih akan memberi pertolongan. Pangeran Natas Angin pun segera mengheningkan cipta, membayangkan dirinya terbang ke angkasa selalu mengikuti kemana Kanjeng Sunan Kalijaga pergi. Setelah berhasil menciptakan bayangan seperti itu, lantas beliau pasrah bersandar pada kekuasaan Allah, sambil berdoa memohon pertolongan-Nya agar bisa melakukan besut sukma seperti halnya yang tadi dilakukan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga. Doanya terkabul, sukma pangeran Natas Angin meninggalkan raga naik ke angkasa, menerobos awan dan mega-mega, di dalam karsa ingin menemukan di mana sukma Sang Guru Sejati berada. Berkat petunjuk dan pertongan dari Gusti Allah, akhirnya sukma pangeran Natas Angin berhasil menemukan sukma Sunan Kalijaga. Selanjutnya, dengan bertempat di angkasa, Kanjeng Sunan Kalijaga memberikan wejangan kepada Pangeran Natas Angin tentang kemuliaan dan keutamaan ajaran agama lslam juga dengan bertempat di angkasa, Kanjeng Sunan Kalijaga menuntun Pangeran Natas Angin untuk memasuki gerbang agama Islam, yaitu dengan cara mengucapkan kalimat syahadatain. “ Asyhadu an laa ilaaha illallaah, wa asyhadu annaa Muhammadan rasulullah.” (Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah). Ujian ketiga ini mengandung dua macam pelajaran hikmah. Pertama, bahwa hubungan murid dengan guru harus tembus lahiriyah dan bathiniyahnya. Si murid harus mau dan berani bersusah payah demi memperoleh berkah ilmu dari guru, Sebaliknya si Guru harus suci lahir batinnya, memberikan ilmu kepada si murid hanya yang benar-benar haq dan dapat dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Kedua menggambarkan sakralnya kalimah syahadatain sebagai gerbang rnemasuki agama Islam, agama Yang paling mulia dan utama di hadapan Allah SWT. sehingga harus dilakukan ditempat yang tinggi (awang-awang).

Selesailah sudah ujian yang diberikan kepada Pangeran Natas Angin. Kanjeng Sunan Kalijaga bergembira di dalam hati karena calon muridnya lulus, dengan mulus tak ada kekurangan suatu apa. Selanjutnya pangeran Natas Angin diperintah Kanjeng Sunan Kalijaga supaya mengabdikan dirinya di Kasultanan Demak Bintoro dengan dasar rajin, dermawan dan ikhlas.

Kanjeng Sunan Kalijaga mengajarkan kepada Pangeran Natas Angin, bahwa ada kewajiban tiga perkara yang harus dijalankan supaya manusia berhasil menemukan kemuliaan hidup di dunia hingga di akherat. Pertama harus selalu taat kepada Gusti Allah, kedua harus taat kepada Rasulullah, dan ketiga harus taat kepada para pemimpin. Termasuk taat kepada pemimpin adalah taat kepada Guru. Taat ketiga-tiganya penerapannya harus berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kitab Al-Qur’an dan Al-Hadist itu merupakan sumber peraturan hidup yang harus dimengerti. Setelah dimengerti harus dijalani. Sebab tanpa guna orang yang ngalim kitab tanpa disertai ngalim laku. Kunci mabrurnya ngalim laku itu terletak pada dua sifat, yaitu Rajin dan dermawan (jawa : dhokoh dan loma). Siapa saja yang bisa menjalani dua sifat tadi dalam laku hidupnya, ya disitulah akan ditemukan jalan terdekat untuk bisa menjadi kekasih Allah (waliyullah), sebab sebenarnya para kekasih Allah itu memperoleh keluasan Rahmat dan Ridla dari Allah, bukan karena banyaknya ibadah yang dijalankan, tetapi karena keikhlasan hati dalam menjalani sifat dhokoh (rajin) dan loma (dermawan/pengasih) terhadap sesama manusia.

Menjadi orang dhokoh dan loma itu sangat berat cobaannya, sebab biasanya orang dhokoh (rajin) itu akan dijadikan kongkonan (suruhan) dan orang yang loma (dermawan/pengasih), biasanya akan dijadikan langganan. Dhokoh dan loma saja masih belum sempurna, jika belum disertai rasa Ikhlash, semata-mata karena merindukan keridlaan Allah. Demikianlah wejangan dasar yang diterima Pangeran Natas Angin dari Sunan Kalijaga. Selanjutnya Pangeran Natas Angin diperintahkan Sunan Kalijaga supaya mengabdi di Kerajaan Islam Demak serta menunjukkan darma baktinya bagi kejayaan Kesultanan Demak dengan dasar Dhokoh, loma dan iklas.

Rabu, 28 Maret 2012

Abu Kafa Billah

Posted by Unknown On 06.47 | No comments

Beberapa obyek wisata di Nganjuk adalah

Air Terjun Sedudo, yang terletak di lereng Gunung Liman,
Monumen Gerilya Jenderal Sudirman di Bajulan - Loceret dan Sawahan,
Air terjun Roro Kuning di Bajulan,
Candi Ngetos di Kecamatan Ngetos,
Jurang gatuk adalah sebuah jurang yang merupakan perpaduan dari lereng yang menyempit dan ada aliran air yang jernih juga ada kolam yang alami berada disana di kecamatan Pace, sengkolak di desa Gondang,
Candi Lor di desa Candirejo, Kecamatan Loceret yang dibangun oleh Mpu Sindok pada tahun 859 Caka atau 937 M sebagai Tugu Peringatan kemenangan atas peperangan melawan musuhnya dari Melayu. Di sini juga terdapat batu bertulis yang memuat sebutan (toponimi) yang sangat dekat sekali ucapannya dengan Nganjuk, yakni Anjuk Ladang. Candi Lor ini merupakan bukti sejarah tentang keberhasilan Mpu Sindok mengalahkan musuhnya, dan sekaligus menandai berdirinya Kota Nganjuk.
Mbah Raden di desa talang,kecamatan rejoso.terdapat makam mbah raden dengan pohon trembesi yang sangat besar dengan diameter sekitar 2 meter
Goa Margo Tresno di Ngluyu

MISTERI MAKAM TUA MBAH NGLIMAN


Ada sebuah makam tua di daerah Ngliman-Nganjuk yang konon disebut makam "Mbah Ngliman". Makam ini bercorak Sywa-Budha sehingga diperkirakan orang yang dimakamkan berasal dari jaman Majapahit. Adanya sebuah pohon bodhi yang ditanam di lokasi makam mengisyaratkan bahwa orang yang dimakamkan bukanlah orang sembarangan, pastilah dia orang yang besar di jamannya.

Dalam wewaler (pesan spiritual) yang dijaga kerahasiaannya selama 650 tahun terungkap bahwa makam tsb tidak lain adalah makam dari Patih Agung Majapahit yakni Gajah Mada. Selama ini masyarakat awam percaya bahwa Gajah Mada moksa (murca) di air terjun Madakaripura-Probolinggo dalam semedinya. Namun cerita ini lebih bernuansa mitos / legenda dan tidak ada bukti arkeologisnya.

Sedangkan proses pembuktian sejarah yang sedikit demi sedikit mulai dilakukan oleh segelintir budayawan kian mendukung kebenaran makam Mbah Ngliman ini. Walau harus diakui masih banyak misteri yang belum terungkap karena pro kontra tentang apakah sudah tiba atau belum habis masa wewaler. Konon bila wewaler diungkap sebelum waktunya akan mendatangkan celaka. Salah seorang budayawan senior Kota Nganjuk, Drs. Harmadi, dalam bukunya "Wewaler Ki Ageng Ngliman" dan "Misteri Mukso Mahapatih Gajah Mada", mengungkapkan bahwa sosok Ki Ageng Ngliman sebenarnya adalah sosok pahlawan legendaris dari Kerajaan Mojopahit yaitu Maha Patih Gajah Mada. Dalam kedua buku tersebut dipaparkan kajian historis dan arkeologis yang mendukung pernyataan tersebut.

Berdasarkan ilmu "gothak gathuk mathuk", kata Ngliman berasal dari kata Liman = Gajah. Sedangkan Patih Gajah Mada dikenal sebagai duda yang tidak kawin, sehingga nama Air Terjun di Ngliman dinamakan Seduda. Terlebih lagi dalam filsafat Surya Majapahit, daerah tsb dipercaya sebagai salah satu cakra penting tanah Jawa. Cakra di sini berarti pusat energi yang menjadi penyeimbang gerak alam. Hal ini saling bertalian dengan makam perabuan Prabu Hayam Wuruk yang ada di Candi Ngetos yang berdekatan dengan Nglman. Susunan cakra ini berhubungan erat dengan letak Gunung Wilis dan Keraton ganda Majapahit di Daha yang dari masa ke masa selalu menjadi penyeimbang Keraton Kahuripan di Trowulan.

Bila misteri mistik tempat ini diungkap luas, entah apa yang akan terjadi dengan Pulau Jawa. Hari-hari ini ada semacam persamaan banyak jangka (ramalan) Jawa Kuno yang jatuh masa klimaknya. Tepatnya akhir masa kaliyuga (kegelapan). Jadi apakah fenomena wewaler Mbah Ngliman ini ada hubungannya dengan janji Sabdo Palon, Jangka Jayabaya, dan Ronggowarsito? Belum diketahui pasti. Tentu penelusuran ini tidak cukup hanya mengandalkan metode formal, namun juga diperlukan suatu perjalanan spiritual yang dalam.

Pada awal tahun 2011, saya sempat berkunjung ke makam Mbah Ngliman untuk memberikan penghormatan pada tokoh besar ini. Berikut beberapa foto yang sempat saya abadikan dari kamera hp amatiran:
Pintu masuk makam "Mbah Ngliman". Tampak rangkaian anak tangga yang merupakan jalan masuk menuju makam Ki Ageng Ngliman. Sosok yang diduga tak lain dan tak bukan adalah Mahapatih Gajah Mada yang tersohor dari Kerajaan Majapahit.













Konon setiap orang yang melewati tangga tersebut tidak pernah dapat menghitung ulang dengan sama benar jumlah anak tangga yang ada (saya belum mencobanya karena naik tangga sebanyak ini cukup bikin nafas ngos-ngosan).









Akhirnya nyampek juga di depan gapura makam Ki Ageng Ngliman setelah meniti puluhan anak tangga. Sebenarnya ada dua makam Ki Ageng Ngliman, satunya Gedong Kulon, satunya Gedong Wetan (yang ada di foto ini).
Janggalnya, tidak ada catatan sejarah yang jelas mengenai Ki Ageng Ngliman Gedong Wetan ini. Saat saya tanya abdi dalem makam, siapa sebenarnya Ki Ageng Ngliman ini, beliau hanya tersenyum saja.

Tapi dilihat dari gaya gapura tampak jelas bahwa ada relief patung budha dan arca dwaralapa, menunjukkan bahwa tokoh yang dimakamkan di sini adalah tokoh besar dari jaman Kerajaan Majapahit (sebelum masa Kerajaan Demak Bintoro).

Wah saya tidak boleh mengambil foto makam Ki Ageng Ngliman (katanya kalau melanggar kena petaka), wah ngeri... manut aja deh! Setelah masuk ke dalam ada sebuah nisan dengan sebuah peti terbungkus kain kafan putih kumal, aroma bunga dan sesaji sungguh pekat, terlebih atmosfer mistik yg kuat. Beberapa orang tampak duduk bersila berdoa dengan kusuk, sambil membaca ayat-ayat Qur'an, walau saya tau mereka sebenarnya datang untuk "ngalap berkah" (pesugihan).

Saya hanya duduk diam mematung sambil mengamati makam di hadapan saya. Dalam hati terhenyak dalam heran: andaikan benar..... seorang tokoh besar dari jaman Kerajaan Majapahit Mahapatih Gajah Mada, mengasingkan diri dalam pertapaan di tempat sederhana dan dmakamkan tanpa nama dan asal-usul. inikah artinya MOKSA sesungguhnya??

Senin, 26 Maret 2012


Jokoting dan Jokowi



Jokoting adalah Joko Tingkir. Ia bernama asli Mas Karebet anaknya Ki Ageng Pengging atawa Kebo Kenanga. Dalam Babad Tanah Jawi diceritakan, ketika ia lahir Ki Ageng Pengging sedang menggelar pertunjukan wayang beber yang didalangi oleh Ki Ageng Tingkir. Kebetulan antara ayah Mas Karebet dengan Ki Ageng Tingkir ini murid Syekh Siti Jenar. Sepulang dari mendalang di kediaman saudara seperguruan itu, Ki Ageng Tingkir jatuh sakit dan meninggal dunia.

Syahdan, beberapa tahun kemudian Ki Ageng Pengging dihukum mati karena tidak mau tunduk kepada pemerintah Demak Bintoro. Ia merasa, Pengging adalah wilayah yang merdeka, bukan bawahan Demak Bintoro. Setelah kematian suaminya itu, Nyai Ageng Pengging pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal. Maka, Mas Karebet diambil sebagai anak angkat Nyai Ageng Tingkir. Dari sinilah nama Jokoting mulai populer.

Ada dendam pribadi pemuda Jokoting terhadap Demak yang telah mengeksekusi ayahnya. Diam-diam ia punya keinginan untuk merebut tahta Demak. Ia menyusun siasat, bagaimana supaya bisa masuk ke ring satu pemerintahan Demak. Entah ini ide konyol atawa brilian, penasihat spiritualnya menyarankan agar ia pergi ke Demak dengan cara menjadi pahlawan.

Pada siang itu, Sultan Demak sedang leyeh-leyeh di pendapa keraton sambil menikmati para prajuritnya yang sedang olah kanuragan di alun-alun kerajaan. Dari sudut alun-alun, Jokoting mendekati seekor banteng yang sedang merumput. Dengan hati-hati, ia elus banteng tersebut, lalu dengan cepat ia masukkan segenggam tanah ke dalam telinga banteng.

Tak lama, banteng menjadi gelisah karena ada benda asing yang masuk ke lubang telinganya. Semakin ia menggerakkan kepalanya, butiran tanah semakin masuk ke dalam lubang telinga. Singkatnya, banteng mengamuk. Menerjang apa saja yang ada di depannya. Termasuk memporakporandakan barisan para prajurit Demak yang sedang latihan militer.

Suasana gaduh dan kacau. Para prajurit yang mencoba menghentikan polahnya si banteng malah diseruduk, beberapa di antaranya luka parah. Sultan Demak tentu saja terkejut, namun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya was-was saja yang ia rasakan.

Melihat kekacauan makin tidak terkendali, Jokoting masuk arena. Ia hajar banteng tersebut. Tewas di tengah alun-alun. Sultan Demak terkesima oleh ulah Jokoting. Ia pun memanggil Jokoting, dan singkat cerita ia diterima sebagai prajurit Demak. Karena mempunyai kesaktian yang tinggi, karier militer Jokoting melesat cepat, bahkan Sultan Demak berkenan menerimanya sebagai mantunya.

Dengan berbagai intrik politik yang super rumit, Jokoting akhirnya bisa melengserkan sang Sultan Demak yang berkuasa saat itu dan bahkan mendirikan Kesultanan Pajang dan menobatkan diri sebagai Sultan Pajang dengan nama Hadiwijaya.

Lain lagi cerita tentang Jokowi, nama beken Joko Widodo yang saat ini menjabat sebagai Walikota Solo. Ini periode keduanya menjadi Walikota. Konon, masyarakat Solo bangga dipimpin oleh Jokowi. Prestasi-prestasi Jokowi bisa dibaca di berbagai media massa. Peristiwa paling fenomenal terkini yang menyangkut Jokowi adalah perkara mobil Esemka. Mobil yang digadang-gadang Jokowi menjadi mobil nasional itu telah menjelajah hingga DKI untuk dilakukan uji emisi.

Kini, giliran Jokowi-nya menjelajah ke DKI untuk mendapatkan kursi DKI-1, meskipun jabatan Walikota Solo belum juga dituntaskan.

Jokoting dan Jokowi sama-sama dari wilayah yang sama, Solo alias Surakarta Hadiningrat. Keduanya dari desa yang ingin menaklukkan ibukota.

Kalau Jokoting mengadu nasib ke Kerajaan Demak Bintoro dengan cara merekayasa kemarahan seekor banteng, sementara Jokowi menunggangi banteng gemuk bermoncong putih untuk dapat bertengger di puncak kekuasaan DKI. Mereka sama-sama memanfaatkan banteng untuk meraih kekuasaan.

Akankah publik Jakarta terpana dan memilih Jokowi, seperti halnya Sultan Demak yang tertambat hatinya kepada kesaktian Jokoting ketika meredakan kerusuhan di alun-alun Demak? Nekjika Jokoting bisa duduk sebagai Sultan, apakah Jokowi nanti perlu juga ngglibat-ngglibet dalam meraih kursi RI-1?

Atawa Jokowi pulang kampung dengan membawa kekalahan, seperti mobil Esemka yang tak lulus uji emisi?

Tunggu saja tanggal mainnya.

Blogroll

Blogger templates

About