ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Sabtu, 04 Februari 2017

Sejarah Magetan

Posted by Unknown On 15.21 | No comments

Asal Usul Magetan | Komunitas Anak Lawu Magetan https://anaklawumagetan.wordpress.com/2011/05/28/asal-usul-magetan/?_e_pi_=7%2CPAGE_ID10%2C8203715222 -- dibagikan oleh UC Mini


Asal Usul MagetanMei 28, 2011 7:19 amPada tahun 1645 Sultan Agung Hanyokrokusumo Raja Mataram wafat. beliau digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Amangkurat Iyang menduduki tahta kerajaan Mataram. tahun 1646-1677 berbeda dengan mendiang ayahnya Sultan Amangkurat Ibersifat lemah terhadap VOC,bahkan mau bekerja sama dengan kompeni belanda itu, sehingga menimbulkan rasa kecewa dari banyak pihak, terutama kaum ulama’ serta daerah-daerah manca negara. di sana sini banyakpihak yang memberontak.Pada suatu ketika Basah Gondokusumo atau Basah Bibit, yakni kerabat keraton Mataram beserta pangeran Nrang Kusumo Patih Mataram diusir oleh sultan Amangkurat I karena dituduh bersatu dengan pemberontak. Basah Gondokusumo dijatuhi hukuman pengasingan di Semarang, di tempat kediaman kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat. Sedangkan Pangeran Nrang Kusumo kemudian pergi bertapake daerah sebelah timur Gunung Lawu. Akhirnya Basah Gondokusumo bersama-sama dengan basah suryaningrat pergi ke sebelah timur Gunung Lawu mencari tempat pemukiman yang baru. disini oleh Ki Ageng Mageti yang cikal bakaldaerah ini beliau berdua diberi sebidang tanah untuk bermukim. setelah mapan suryoningrat mewisuda cucu beliau yakni Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru ini dengan gelar “Yosonegoro”, yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro yakni pada tanggal 12 Oktober 1675, sedang tanah baru itu diberi nama “Magetian” karena tanah tersebut sebagai jasa pemberian Ki Ageng Mageti.Peristiwa penobatan sebagai bupati pertama ini ditandatangani dengan Warsa Sangkala ‘MANUNGGALING RASA SUKO HAMBANGUN”, daerah Magetan merupakan suatu daerah yang perbatasannya sebelah barat dengan gunung lawu menuju ke barat daya merupakan deretan Sidaramping, Gunung Jabolarang dan Gunung Kukusan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, di sebelah utara merupakan daratan yang bergelombang naik mengarah ke timur sampai dengan barat ke kaki Gunung Lawu berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, sebelah selatan merupakan dataran rendah berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Sungai yang memotong daerah Magetan menjadi dua bagian mulai dari pangkal sumber di bawah Cemorosewu, Gunung Kendil dan Gunung Sidoramping adalah Sungai Gandong yang merupakan jalur bersejarah penuh dengan misteridan ditaburi dengan makam-makam jaman kuno, di Kabupaten Magetan banyak ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa petilasan bangunan-bangunann purbakala maupun petilsan bekas pusat pemerintahan.Misalnya: Petilasan makam Empu Supo di Dukuh Mandang Desa Plumpung Kecamatan Plaosan. peninggalan purbakala terbuat dari batu andesit di Dukuh Sadon Desa Cepoko Kecamatan Panekan berupa candi yang diberi nama Candi Sadon. Petilasan Pengger di Dukuh Pengger DesaBedagung Kecamatan Panekan. di puncak Gunung Lawu terdapat petilasan Pawon Sewu (Punden Berundak), Argo Dalem, Sendang Drajat dsb. Yang diperkirakan dari akhir Majapahit.petilasan berupa sumur dan masjid kuno bersejarah yang dikelilingi tembok bekas pusat pemerintahan Kabupaten Purwodadi berada di atas tanah lebih kurang seluas 4 hektar dengan bekas gapuro Magetan.Makam leluhur Magetan (Patih Nrang Kusumo dan Patih Ngariboyo II) di Dukuh Njelok Desa Bulukerto Kota Magetan dan makam Kanjeng Adipati Purwodiningrat, mertua Hamengku Buwono di Desa Pacalan Kecamatan Plaosan juga merupakan bukti sejarah.Makam Astana Gedhong di Kelurahan Tambran Kecamatan Kota Magetan terdapat makam Adipati Yosonegoro yang erat hubungannya dengan sejarah babad Magetan. di makam Sasonomulyo Dukuh Sawahan Desa Kapolorejo Kota Magetan terdapat makan-makan bupati Magetan dan masih banyak lagi makam-makam yang tersebar di daerah -daerah yang sampai sekarang masih keramat.Ditinjau dari letaknya Magetan merupakan daerahperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur maka bahasa sehari-hari, adat istiadat maupun kebudayaannya banyak mendapat pengaruh dari daerah Jawa Tengah yakni daerah Solo/Surakartadan sekitarnya daripada daerah-daerah di Jawa Timur lainnya. lebih-lebih jalur tembus antara Kabupaten Magetan dengan Kabupaten Karanganyar di Jawa Tengah melewati Cemorosewu lereng sebelah barat daya Gunung Lawu dan melalui hutan-hutan, erat hubungannya dengan jalan bersejarah dari abad ke abad. Bagaimana sampai dapat mewujudkan suatu daerah yang disebut Magetan? berikut sejarahnya:Sampai dengan tahun 1645 Sultan Agung Hanyokrokusumo wafat, kemudian Amangkurat I menggantikan kedudukan beliau sebagai raja Mataram pada tahun 1645-1677. Berbeda denganayahnya yang bersukap tegas mengusir kompeni Belanda, Amangkurat I sangat lemah dan mau bekerja sama dengan kompeni belanda (VOC).Pada tahun 1646 Amangkurat Imengadakan perjanjian dengan kompeni belanda yang amat merugikan Mataram. Isi perjanjian itu antara lain adalah Mataram mengakui kedudukan VOC di Batavia (Jakarta), Sedangkan Mataram bebas berdagang dimana saja kecuali di pulau Ambon, Bansa dan Ternate. Sebab pulau-pulau tersebut kaya akan rempah-rempah. dengan diakuinya kedudukan VOC di Batavia maka Batavia bebas dari ancaman Mataram semakin berkurang. perdagangan Mataram tidak lagi seperti seida kala. Pelayaran perdagangan dibatasi oleh kompeni sehingga kerajaan Mataram tidak berwibwa lagi dan kawulo Alit menjadi sengsara. Kebijaksanaan Amangkurat I tersebut menyebabkan timbulnya rasa kecewa dari banyakpihak terutama daerah-daerah mancanegara.Pangeran Giri yang berpengaruh di daerah pesisirutara pulau Jawa berisap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram. Beliau amat kecewa atas tindakan raja Mataram ini. Demikian pula seorang pangeran dari pulau Madura yang bernama Trunojoyo yang tidak tahan lagi melihat pamannya pangeran Tjakraningrat II terlalu mengabaikan Madura dan hanya turut bersenang-senang di pusat pemerintahan Mataram, segera melancarkan pemberontakan terhadap Mataram (1674). pemberontakant tersebut akhirnya didukung oleh orang-orang Makassar. Perang antara prajurit Mataram dan Trunojoyo pun tak dapat dihindarkan, hingga banyak memakan korban dari kedua belah pihak.Pada saat kerajaan dalam keadaan kalut seperti ini seorang kerabat keraton Mataram bernama Basah Gondokusumo atau terkenal dengan sebutan basah bibit bersama seorang patih Mataram bernama nrang kusumo dituduh bersatudengan kaum oposisi dan kaum pemberontak yang menentang kebijakan Amangkurat I. Atas tuduhan itu Basah Gondokusumo dijatuhi hukuman pengasingan di Semarang di tempat kediaman kakeknya yakni Basah Suryoningrat. Sedangkan Patih Nrangkusumo meletakkan jabatannya sebagai patih kemudian bertapa di gunung Lawu sebelah timur. beberapa waktu kemudian basah suryoningrat mengajak cucunya (Basah Gondokusumo) pergi menyingkir ke arah timur gunung Lawu. beliau memilih tempat tersebut karena menerima bahwa di sebelah timur gunung Lawu sedang dilaksanakan babat hutan yang dipimpin oleh sorang bernama Ki Buyut Suro yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Orang-orang itu sangat patuh dan rajin melaksanakan babat hutan. Demikian juga Ki Buyut Suro dengan sabar mendampingi mereka yang bekerja penuh semangat babat hutan itu dilaksanakan atas perintah Ki Ageng Mageti yang cikal bakal daerah ini. Ki Ageng Mageti adalah seorang putra Magetan yang memiliki banyak kelebihan. Beliau adalah sosok yang arif, bijaksana, berbudi luhur, berperilaku sholeh serta memiliki kawaskithan. apa yang dipunyai itu semua semata-mata hanya untuk kepentingan kawulo, baik kawasan Magetan maupun kawulo njaban rangkah. karena sifat yang demikian agung itulah maka Ki Ageng Mageti sangat disegani serta dapat dijadikan suri teladan bagi kawulo dan sesamanya.Kemudian Basah Suryoningrat dan Basah Gondokusumo menjumpai Ki Buyut Suro yang sedang babat hutan.keduanya bermaksud minta sebidang tanah untuk bermukim.karena yang menguasai kawasan hutan ini adalah Ki Ageng Mageti, maka untuk memperoleh sebidang tanah ini Basah Suryoningrat dan Basah Gondokusumo diajak Ki Buyut Suro bertemu dengan Ki Ageng Mageti di tempat kediaman beliau di daerah Gandong Kidul (dukuh Gandong Selatan) tepatnya di sekitar alun-alun Magetan sekarang ini,Pertemuan antara Basah Suryoningrat dengan Ki Ageng Mageti yang akrab ini dilanjutkan dengan perdebatan sengit terhadap suatu pernyataan.sandi yang diberikan oleh Ki Ageng Mageti kepada Basah Suryoningrat. Setelah ia dapat menjawab dengan tepat dan benar pernyataan sandi keraton yang dilontarkan oleh KiAgeng Mageti, akhirnya Ki Ageng Mageti yakin bahwa Basah Suryoningrat adalah bukan kerabat keraton tetapi merupakan sesepuh kerajaan Mataram. Akhirnya beliau diberi sebidang tanah untuk bermukim, terletak di sebelah utara sungai Gandong tepatnya di Desa Tambran sebagai tempat yang aman dan tenteram untuk pengayoman para leluhur Mataram. setelah mapan di tempat yang baru ini Basah Suryoningrat mengangkat cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru dengan gelar “Yosonegoro” kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro, bupati Magetan yangpertama kali.Wisuda Bupati Yosonegoro oleh Basah Suryoningrat ditandai dengan penyerahan sebuahkeris pusaka. Pesta syukuran wisuda bupati tersebut berlangsung secara sederhana. Syukuran ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Basah Suryoningrat diberikan kepada Yosonegoro dan dihadiri oleh masyarakat setempat. wilayah pemerintah tersebut dinamakan Magetan, karena peristiwa terjadinya kabupaten Magetan ini adalah atas pemberian tanah dari Ki Ageng Mageti maka daerah baru tersebut diberi nama Kota Mageti, mengalami penambahan “an” menjadi Magetian, akhirnya berubah nama menjadi Magetan sampai sekarang.


KH. HASAN GENGGONG

Posted by Unknown On 04.47 | No comments

Inilah Karomah Kyai Hasan Genggong | Islam Nusantara http://islamnusantara.com/inilah-karomah-kyai-hasan-genggong/ -- dibagikan oleh UC Mini


Suatu ketika, saat ada seorang haji mau sowan kepada Kiai Hasan. Pak haji ini menyewa mobil, kebetulan yang jadi sopirnya Ahli Bait (Habib/Syarif). Cuma haji ini tidak tahu kalau itu adalah Ahli Bait.Di dalemnya, Kiayi Hasan bilang sama anak-anaknya: tolong kamar tidur dirapikan kita mau kedatangan Habib. Habibnya siapa? Tanya putra kiyahi Hasan. Nanti sayatunjukan kalau sudah datang, jawab kiyahi Hasan.Setelah haji itu tiba dirumah kiyahi Hasan, kiyahi Hasan bertanya pada haji itu, Haji supirmu dimana? Sopir kuleh asaren kiyai, Sopir saya tidur Kiyai, Jawab Haji. Kiyahi balik bertanya, e’ka’emmah (dimana)? Di Mobil Kiyahi, jawab Haji. Saya mau dekati dia boleh ya, kiyahi meminta ijin.Yik bungoh Yik (Habib bangun Bib). Sopir itukaget, karena seumur-umur tidak ada yang manggil sayyid, atau Habib. Ternyata sang sopir bermarga al Jufri.Kiyahi Hasan ditanya: darimana tahu sopir itu Habib? Dari bau keringatnya, bau keringat kangjeng Nabi, kata kiyai Hasan. Ituhebatnya ulama-ulama kita dahulu, sejauh itu pandangannya, dari hormatnya pada AhliBait Nabi. Dan tokoh-tokoh itu bukan satu dua, Imam Subki, Qadhi Iyadh tahu bagaimana kedudukan Ahli Bait an Nabi danjuga ulama-ulama lain, ujar Al Habib M. Lutfibin Ali Yahya.


Jumat, 03 Februari 2017

Urip Di gawe Seneng Mawon

Posted by Unknown On 20.10 | No comments


Seng sakniki lagi susah nopo
sumpek nopo seneng...
Monggo pinarak mriki guyonan
kaleh kulo...he he..
Susah niku duso... Molakne ojo di
kulinakne susah... Susah niku
duso...
Susah niku mboten enak...
Susah niku berarti mboten ridho....
Susah niku berarti mboten setuju
kaleh takdir allah...
Susah niku garakne sakit...
Mangkane katah tiang sakit mergo
atine susah...
Gusti allah pesen> LAA TAKHOF
WALA TAHZAN.... Ojo wedi ojo
susah...
KULO lan njenengan niki di kenken
seneng....
Seneng niku enak...
Seneng niku berarti ridho...
Seneng niku berarti setuju kaleh
takdir allah...
Seneng niku berarti syukur neng
gusti allah...
Seneng niku sehat...
Mangkane katah tiang seng sehat
mergo atine seneng....
Ojo susah.... Kulo Lan njenengan
niki turunan nabi adam....
Lha nabi adam niku rojone
malaikat....
Dadi Kulo Lan Njenengan mboten
angsal....
Ojo susah geh.... Turunan rojo kok
susah..... He he he.


Waktu Mustajab Untuk Do'a

Posted by Unknown On 02.22 | No comments

*DOA-DOA MUSTAJABAH.*
Oleh : Ahmad Zainuddin Bad.

Hadist ke 22, dari Kitab Mukhtar Hadist Syarif susunan al Habin Umar bin Hafidz. Pengajian Jumat Pagi Bakda subuh 3 - Februari - 2017.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :
اَلدُّعَاءُ بَيْنَ الَاذَانِ وَالْاِقَامَةِ مُسْتَجَابٌ فَادْعُوْا.

رواه ابو يعلى

Doa diantara adzan dan iqomah Mustajabah maka senantiasalah berdoa. ( HR. Abu Ya'la )

Makna Hadist.
Hadist ini menerangkan tentang waktu waktu mustajabnya dalam berdoa', akan tetapi juga didalam berdoa  disyaratkan hadirnya hati, khusyu', dan merasa hina dihadapan Allah, mendahulukan taubat sebelum berdoa, dalam keadaan suci tidak berhadast.

Para sahabat bertanya, apa yang semestinya kita minta wahai Rasulullah ?
Mintalah kepada Allah Al-afiyah  di dunia dan akherat.

Faedah Hadist.
1. Menerangkan bahwasanya diantara adzan dan iqomah ada waktu-waktu mustajabah.
2. Menganjurkan kita untuk
Memantau waktu-waktu mustajabnya doa.

Didalam keterangan lain al Mausuah al Fiqhiyah Saat-saat yang diduga kuat waktu ijabah

١ - الدُّعَاءُ بَيْنَ الأَْذَانِ وَالإِْقَامَةِ وَبَعْدَهَا 
٢ - الدُّعَاءُ حَال السُّجُودِ 
٣ - الدُّعَاءُ بَعْدَ الصَّلاَةِ الْمَفْرُوضَةِ
٤ - حَال الصَّوْمِ وَحَال الإِْفْطَارِ مِنَ الصَّوْمِ : 
ه - الدُّعَاءُ بَعْدَ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَبَعْدَ خَتْمِهِ 
٦ - دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ 
٧ - الدُّعَاءُ عِنْدَ الْقِتَال فِي سَبِيل اللَّهِ 
٨ - حَال اجْتِمَاعِ الْمُسْلِمِينَ فِي مَجَالِسِ الذِّكْرِ : 
٩ - دُعَاءُ الْمُؤْمِنِ لأَِخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ 
١٠ - دَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ وَعَلَيْهِ 
١١ - دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُضْطَرِّ وَالْمَكْرُوبِ 
١٢ - الدُّعَاءُ عِنْدَ نُزُول الْغَيْثِ 
١٣ - دَعْوَةُ الْمَرِيضِ 
١٤ - حَال أَوْلِيَاءِ اللَّهِ 
١٥ - حَال الْمُجْتَهَدِ فِي الدُّعَاءِ إِذَا وَافَقَ اسْمَ اللَّهِ الأَْعْظَمَ 

1. Doa diantara adzan dan Iqaamah dan setelahnya 
2. Doa dikala sujud
3. Doa setelah shalat lima waktu
4. Doa disaat menjalani puasa dan ketika berbuka
5. Doa setelah membaca alQuran dan menghatamkannya
6. Doanya orang bepergian
7. Doa saat perang sabilillah
8. Doa saat kaum muslimin berkumpul dalam sebuah majlis adz-dzikri
9. Do'a seorang muslim terhadap saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya
10. doa orang tua kepada anaknya
11. Orang yang teraniaya, tertindas dan orang kesusahan
12. Doa saat turun hujan
13. Doa orang sakit
14. Doa saat menjadi kekasih allah
15. Doa saat ia bersungguh-sungguh, sebelum berdoa di dahului penyebutan asma-asma Allah yang Agung.
Almausuu’ah al-Fiqhiyyah 39/225-233.

Dan ketika kita berdoa dengan mantap belum juga diberi, maka jangan sampai putus asa, berkata Imam Ibnu Athoillah As Sakandary:

لا يكن تأخر أمد العطاء مع الإلحاح في الدعاء - موجبا ليأسك ؛ فهو ضمن لك الإجابة فيما يختاره لك لا فما تختار لنفسك وفي الوقت الذي يريد ، لا في الوقت الذي تريد .
Janganlah engkau putus asa karena tertundanya pemberian, padahal engkau telah mengulang-ulang doa. Allah menjamin pengabulan doa sesuai dengan apa yang Dia pilih untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilih sendiri, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini.

Jadi tetap semangat dan terus berdoa, Tuhan tidak kesulitan menjadikan lombok berwarna hijau berubah menjadi merah, menjadikan bumi tanpa tiang, apalagi cuma mengabulkan doa-doa panjenengan.

Salam Takdzim
Ahmad Zain Bad.
Website : annur2.net
FB : facebook.com/annur2malang.


Kamis, 02 Februari 2017

PANGERAN DIPONEGORO

Posted by Unknown On 15.06 | No comments

PANGERAN DIPONEGORO
(BANGGA JADI SANTRI)

Santri pondok pesantren itu ampuh. Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) Belanda adalah santri dan tarekat (thariqah).

Ada seorang santri yang juga penganut thariqah, namanya Abdul Hamid. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro.

Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH. Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang.

Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yang satu KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan satunya lagi KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo.

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M.

Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur.

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. Menjadi nama di Kodam Jawa Tengah. Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro.

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri.

Nama aslinya Abdul Hamid. Nama populernya Diponegoro.
Adapun nama lengkapnya adalah Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.

Maka jika Anda pergi ke Magelang dan melihat kamar Diponegoro di eks-Karesidenan Kedu, istilah sekarang di Bakorwil, ada 3 peningalan Diponegoro: al-Quran, tasbeh dan Taqrib (kitab Fath al-Qarib).

Kenapa al-Quran? Diponegoro adalah seorang Muslim. Kenapa tasbih? Diponegoro seorang ahli dzikir, dan bahkan penganut thariqah.

Habib Luthfi bin Ali bin Yahya Pekalongan mengatakan bahwa Diponegoro seorang mursyid Thariqah Qadiriyyah. Selanjutnya yang ketiga, Taqrib matan Abu Syuja’, yaitu kitab kuning yang dipakai di pesantren bermadzhab Syafi'i.

Jadi Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka, karena bermadhab Syafi’i, Diponegoro shalat Tarawih 20 rakaat, shalat Shubuh memakai doa Qunut, Jum’atan adzan dua kali, termasuk shalat Ied-nya di Masjid, bukan di Tegalan (lapangan).

Saya sangat menghormati dan menghargai orang yang berbeda madzhab dan pendapat. Akan tetapi, tolong, sejarah sampaikan apa adanya.

Jangan ditutup-tutupi bahwa Pangeran Diponegoro bermadzhab Syafi’i. Maka 3 tinggalan Pangeran Diponegoro ini tercermin dalam pondok-pondok pesantren.

Dulu ada tokoh pendidikan nasional bernama Douwes Dekker. Siapa itu Douwes Dekker? Danudirja Setiabudi.

Mereka yang belajar sejarah, semuanya kenal. (Leluhur) Douwes Dekker itu seorang Belanda yang dikirim ke Indonesia untuk merusak bangsa kita.

Namun ketika Douwes Dekker berhubungan dengan para kyai dan santri, mindset-nya berubah, yang semula ingin merusak kita justeru bergabung dengan pergerakan bangsa kita.

Bahkan kadang-kadang Douwes Dekker, semangat kebangsaannya melebihi bangsa kita sendiri.

Douwes Dekker pernah berkata dalam bukunya:
“Kalau tidak ada kyai dan pondok pesantren, maka patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”

Siapa yang berbicara? Douwes Dekker, orang yang belum pernah nyantri di pondok pesantren.

Seumpanya yang berbicara saya, pasti ada yang berkomentar: "Hanya biar pondok pesantren laku."

Tapi kalau yang berbicara orang “luar”, ini temuan apa adanya, tidak dibuat-buat. Maka, kembalilah ke pesantren.

Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat) itu adalah santri.
Tidak hanya Diponegoro anak bangsa yang dididik para ulama menjadi tokoh bangsa.

Diantaranya, di Jogjakarta ada seorang kyai bernama Romo Kyai Sulaiman Zainudin di Kalasan Prambanan.
Punya santri banyak, salah satunya bernama Suwardi Suryaningrat.

Suwardi Suryaningrat ini kemudian oleh pemerintah diangkat menjadi Bapak Pendidikan Nasional yang terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Jadi, Ki Hajar Dewantara itu santri, ngaji, murid seorang kyai.
Sayangnya, sejarah Ki Hajar mengaji al-Quran tidak pernah diterangkan di sekolah-sekolah, yang diterangkan hanya Ing Ngarso Sun Tulodo,

Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Itu sudah baik, namun belum komplit. Belum utuh.

Maka nantinya, untuk rekan-rekan guru, mohon diterangkan bahwa Ki Hajar Dewantara selain punya ajaran Tut Wuri Handayani, juga punya ajaran al-Quran al-Karim.

Sayyid Husein al-Mutahhar adalah cucu nabi yang patriotis.
Malah-malah, ketika Indonesia merdeka, ada sayyid warga Kauman Semarang yang mengajak bangsa kita untuk bersyukur.

Sang Sayyid tersebut menyusun lagu Syukur. Dalam pelajaran Sekolah Dasar disebutkan Habib Husein al-Mutahar yang menciptakan lagu Syukur.

Beliau adalah Pakdenya Habib Umar Muthahar SH Semarang. Jadi, yang menciptakan lagu Syukur yang kita semua hafal adalah seorang sayyid, cucu baginda Nabi Saw. Mari kita nyanyikan bersama-sama:

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karuniaMu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Ke hadiratMu tuhan.

Itu yang menyusun cucu Nabi, Sayyid Husein Muthahar, warga Kauman Semarang. Akhirnya oleh pemerintah waktu itu diangkat menjadi Dirjen Pemuda dan Olahraga.

Terakhir oleh pemerintah dipercaya menjadi Duta Besar di Vatikan, negara yang berpenduduk Katholik.

Di Vatikan, Habib Husein tidak larut dengan kondisi, malah justeru membangun masjid. Hebat.

Malah-malah, Habib Husein Muthahar menyusun lagu yang hampir se-Indonesia hafal semua.

Suatu ketika Habib Husein Muthahar sedang duduk, lalu mendengar adzan shalat Dzuhur.

Sampai pada kalimat hayya 'alasshalâh, terngiang suara adzan. Sampai sehabis shalat berjamaah, masih juga terngiang.

Akhirnya hatinya terdorong untuk membuat lagu yang cengkoknya mirip adzan, ada “S”nya, “A”nya, “H”nya. Kemudian pena berjalan, tertulislah:

17 Agustus tahun 45
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka Nusa dan Bangsa
Hari lahirnya Bangsa Indonesia
Merdeka
Sekali merdeka tertap merdeka
Selama hayat masih dikandung badan
Kita tetap setia, tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap setia
Membela Negara kita.

Maka peran para kyai dan para sayyid tidak sedikit dalam pembinaan patriotisme bangsa.

Jadi, Anda jangan ragu jika hendak mengirim anak-anaknya ke pondok pesantren.

Malahan, Bung Karno, ketika mau membaca teks proklamasi di Pegangsaan Timur Jakarta, minta didampingi putra kyai.

Tampillah putra seorang kyai, dari kampung Batuampar, Mayakumbung, Sumatera Barat. Siapa beliau?

H. Mohammad Hatta putra seorang kyai. Bung Hatta adalah putra Ustadz Kiai Haji Jamil, Guru Thariqah Naqsyabandiyyah Kholidiyyah.

Sayang, sejarah Bung Hatta adalah putra kyai dan putra penganut thariqah tidak pernah dijelaskan di sekolah, yang diterangkan hanya Bapak Koperasi.

Mulai sekarang, mari kita terangkan sejarah dengan utuh. Jangan sekali-kali memotong sejarah.

Jika Anda memotong sejarah, suatu saat, sejarah Anda akan dipotong oleh Allah Swt.
Akhirnya, Bung Hatta menjadi wakil presiden pertama.

Pesan Penting Bagi Santri, Belajar dari Mbah Mahrus Aly.

Maka, jangan berkecil hati mengirim putra-putri Anda di pondok-pesantren.

Santri-santri An-Nawawi di tempat saya, saya nasehati begini:
“Kamu mondok di sini nggak usah berpikir macam-macam, yang penting ngaji dan sekolah. Tak usah berpikir besok jadi apa, yang akan menjadikan Gusti Allah."

Ketika saya dulu nyantri di Lirboyo, tak berpikir mau jadi apa, yang penting ngaji, nderes (baca al-Quran), menghafalkan nadzaman kitab dan shalat jamaah.

Ternyata saya juga jadi manusia, malahan bisa melenggang ke gedung MPR di Senayan. Tidak usah dipikir, yang menjadikan Gusti Allah.

Tugas kita ialah melaksanakan kewajiban dari Allah Swt. Allah mewajibkan kita untuk menuntut ilmu, kita menuntut ilmu.

Jika kewajiban dari Allah sudah dilaksanakan, maka Allah yang akan menata. Jika Allah yang menata sudah pasti sip, begitu saja. Jika yang menata kita, belum tentu sip.

Perlu putra-putri Anda dalam menuntut ilmu, berpisah dengan orangtua.

KH. Mahrus Aly Lirboyo pernah dawuh:
“Nek ngaji kok nempel wongtuo, ora temu-temuo.”
(Jika mengaji masih bersama dengan orangtua, tidak akan cepat dewasa).

Maka masukkanlah ke pesantren, biar cepat dewasa pikirannya.

Itu yang ngendiko (berkata) Kyai Mahrus Lirboyo, Kediri.

(Kiriman: Usroh)


Habib Gus Dur

Posted by Unknown On 15.00 | No comments

Gus Dur, Keturunan Nabi ke-33?

Gus Dur, keturunan nabi? banyak orang yang tidak percaya bahwa Gus Dur yang terkenal kontroversial ini adalah keturunan nabi, namun dalam kenyataannya, silsilah gus dur menyambung ke rasullulah SAW.


Dapat dibuktikan dari sebuah Al-kitab Talchis karangan Abdulloh Bin Umar Assathiri. Sumber ini diklaim telah diteliti dan direstui Rois Aam Jam’iyah Ahlith Thoriqoh Al Muktabaroh An Nahdliyyah KH. Habib Lutfi Ali Yahya, Pekalongan.

Berikut petikan silsilah Gus Dur sampai ke Nabi Muhammad SAW:
1. Muhammad Salallahu Alaihi Wailaihi Wasalam,

2. Sayyidina Fatimatus Zahro dengan Sayyidina Ali,

3. Sayyidina Husen Bin Ali,

4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin,

5. Sayyidina Muhammad Al-Baqir,

6. Sayyidina Ja’far Shodiq,

7. Sayyidina Ali AL-Uroidi,

8. Sayyidina Muhammad Annaqib,

9. Sayyidina Sayyidina Isa Arrumi,

10. Sayyidina Ahmad Al-Muhajir Ilallah.

11. Sayyidina Ubaidillah,

12. Sayyidina Alawi,

13. Sayyidina Muhammad,

14. Sayyidina Alawi Muhammad,

15. Sayyidina Ali Choli’ Qosam,

16. Sayyidina Muhammad Shohibul Mirbath,

17. Sayyidina Alawi,

18. Sayyidina Amir Abdul Malik,

19. Sayyidina Abdulloh Khon,

20. Sayyidina Ahmad Syah Jalal,

21. Sayyidina Jamaludin Khusen,

22. Sayyidina Ibrohim Asmuro,

23. Sayyidina Ishak,

24. Sayyidina Ainul Yaqin (Sunan Giri),

25. Sayyidina Abdurrohman (Jaka Tingkir),

26. Sayyidina Abdul Halim (P. Benawa),

27. Sayyidina Abdurrohman (P. Samhud Bagda),

28. Sayyidina Abdul Halim,

29. Sayyidina Abdul Wahid,

30. Sayyidina Abu Sarwan.

31. Sayyidina KH. As’ari,

32. Sayyidina KH. Hasyim As’ari

33. Sayyidina KH. Abdul Wahid Hasyim

34 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

——————————

Mudah2an Allah memuliakan Rosulullah, Keluarga besarnya, termasuk Gus Dur, dan umatnya di belahan dunia manapun ..

Wassalamu’alaikum

Wallahua'lam bis Shawab....

Sumber: https://generasipkb.wordpress.com/2008/05/07/gus-dur-keturunan-nabi-ke-34/


SHOLAWAT BADAR

Posted by Unknown On 14.57 | No comments

KISAH LAHIRNYA SHOLAWAT BADAR

Oleh: Anto Djiebriel – Ajieb & Ponpes Nurul Hidayah Kal-Tim

KH Ali Mansur Siddiq terinspirasi dari sebuah Kitab yang berjudul “MANDZUMAH AHLUL BADAR ALMUSAMAH JALIYATUL KADAR FII FADOIL AHLUL BADAR” yang di susun oleh AL IMAM ASSAYYID JA’FAR ALBARJANZI.

Dan sebelum menulis Syair Sholawat Badar KH Ali bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih bersorban hijau

Dan pada malam yang sama istri beliau bermimpi bertemu dengan Rosululloh ……
dan esok harinya KH Ali menemui Al Imam AlHabib Hadi AlHaddar Maula Banyuwangi dan menceritakan mimpinya kepada Habib Hadi dan Habib Hadi mengatakan “Bahwa orang orang yang datang di mimpimu itu adalah para Ahlul Badar”

Dari Dua mimpi yang teramat mulia di malam yang bersamaan pula dan dengan penjelasan dari seorang Arifbillah yaitu Habib Hadi AlHadar yang membuat keyakinan beliau untuk menulis Syair Ahlul Badar.

Dan di malam Harinya Kiai Ali memulai menulis Syair Demi Syair berkenaan Ahlul badar yang di kemudian hari lebih mashur dengan nama Sholawat Badriyah

Esok harinya banyak para tetangganya dan orang orang kampung yang mengirimi bahan makan mulai dari beras, daging, sayur-mayur dan lain-lain.

Kiai Ali merasa heran dan bertanya kepada mereka yang mengirimi bahan makanan tersebut dan jawaban mereka semua:
“pada Subuh tadi datang orang berjubah putih memberitahukan bahwa di rumah Kiai Ali akan ada Acara besar”

Merasa heran dan penuh tanda tanya itu yang terjadi dalam diri Kiai Ali dan mengherankan lagi ada orang yang tidak dikenal ikut juga mempersiapkan acara tersebut.

Di pagi-pagi sekali Rombongan AlHabib Ali bin Abdurrahman AlHabsyi dari kwitang datang kerumah Kiai Ali dan ternyata inilah jawaban atas rasa penasaran beliau, betapa senangnya KH Ali mendapat kunjungan Ulama besar yang dikagumi oleh Umat Islam Indonesia dan merupakan hal yang teristimewa kejadian tersebut terhadap Kiai Ali atas kunjungan AlHabib Ali dan Rombongannya.

Didalam kunjungan tersebut tercatat dalam buku kecilnya Kiai Ali, beliau disana menyatatkan kejadian tersebut pada Hari Rabu pagi tanggal 26 September tahun 1962 jam 8 pagi.

Pada kesempatan itu dibacakan Maulidul Azab dan Ceramah agama, diantara yang memberikan ceramahnya adalah:
• AlHabib Ali AlHabsyi kwitang
• AlHabib Muhammad bin Ali AlHabsyi
• AlHabib Salim bin Jindan

Didalam rombongon tersebut ikut diantaranya AlHabib Ali bin Husein AlAthas, AlHabib Ahmad bin Ghalib AlHamid Surabaya,AlHabib Umar Assegaf Semarang dan banyak lagi yang lainnya para pembesar Ulama pada waktu itu.

Setelah usai acara AlHabib Ali AlHabsyi Kwitang menanyakan prihal Sholawat yang ditulis oleh Kiai Ali dan Kiai Ali mema’lumi hal itu karena memang Habib Ali dikenal luas sebagai Waliyulloh dan Kiai Ali langsung mengambil kertas berisi Syair yang ditulisnya dan membacakan di hadapan para Habib dengan suara indahnya yang memang Kiai Ali dikenal memiliki suara yang merdu.

Alunan Sholawat Badar yang indah didengar oleh para Habaib dengan penuh kekhusyuan sampai seluruhnya meneteskan air mata karena terharu dan setelah selesai Habib Ali berbicara meminta agar Sholawat tersebut di jadikan munajat untuk melawan Fitnah PKI.

Dan setelah itu Habib Ali mengundang Kiai Ali dalam Majlisnya di Jakarta pada Hari minggu yang dihadiri banyak para Alim Ulama dan Habaib serta beribu-ribu umat Islam dalam undangan tersebut.

KH Ali Mansur Siddiq didampingi oleh paman beliau yaitu KH Ahmad Qusairi. Di waktu itu pula Habib Ali meminta Kepada KH Ali untuk membaca Sholawat Badar susunannya di hadapan jamah yang hadir dan membuat Sholawat Badar menjadi Mashur tersebar luas dimana mana apalagi Sholawat tersebut selalu dibaca di awal Majlisnya Habib Ali AlHabsyi kwitang.

Setelah itu Habib Ali meminta kepada para murid muridnya untuk mencetak Teks Sholawat tersebut dan dibagi bagikan kepada para Jama’ahnya dan dicetak pertama kali di percetakan AlAidrus Jakarta.
Dan hingga saat ini Sholawat Badar berkembang pesat di tengah tengah masyarakat di Jakarta,di Pulau Jawa, di Nusantara bahkan di penjuru Dunia

ROBBI FAN FA’NA BIBARKATIHIM
WAH DINAL HUSNA BIHURMATIHIM
WA AMITNA FII TORIQOTIHIM
WA MU’AFATIM MINAL FITANI

Mungkin hingga saat masih ada yang belum mengetahui tentang siapa penyusun Sholawat Badar, padahal dalam Buku Antologi NU jilid pertama dan Majalah langitan Edisi 54 di sana dijabarkan secara luas siapa penyusun Sholawat Badar, dalam Buku dan majalah tersebut keduanya saling menutupi sejarah yang kurang apalagi ditambah dengan Tulisan Tangan dari sang penyusun sendiri yang tidak lain adalah KH ALI MANSUR SIDDIQ dari Banyuwangi.

“Ya Akhi mari kita lawan genjer genjernya PKI dengan Sholawat Badar”

Teks Sholawat Badar

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ
صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ
تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ
وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ
وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِى نَجِّـنَا وَاكْـشِـفْ جَـمِيْعَ اَذِ يـَّةٍ وَا صْرِفْ
مَـكَائـدَ الْعِـدَا وَالْطُـفْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى نَـفِّـسِ الْـكُـرَبَا مِنَ الْعَـاصِيْـنَ وَالْعَطْـبَا
وَ كُـلِّ بـَلِـيَّـةٍ وَوَبـَا بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَكَــمْ مِنْ رَحْمَةٍ حَصَلَتْ وَكَــمْ مِنْ ذِلَّـةٍ فَصَلَتْ
وَكَـمْ مِنْ نِعْمـَةٍ وَصَلَـتْ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ كَـمْ اَغْـنَيْتَ ذَالْعُـمْرِ وَكَـمْ اَوْلَيْـتَ ذَاالْفَـقْـرِ
وَكَـمْ عَافَـيـْتَ ذِاالْـوِذْرِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
لَـقَدْ ضَاقَتْ عَلَى الْقَـلْـبِ جَمِـيْعُ اْلاَرْضِ مَعْ رَحْبِ
فَانْـجِ مِنَ الْبَلاَ الصَّعْـبِ بِا َهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
ا َتَيـْنَا طَـالِـبِى الرِّفْـقِ وَجُـلِّ الْخَـيْرِ وَالسَّـعْدِ
فَوَ سِّـعْ مِنْحَـةَ اْلاَيـْدِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
فَـلاَ تَرْدُدْ مَـعَ الْخَـيـْبَةْ بَلِ اجْعَلْـنَاعَلَى الطَّيْبـَةْ
اَيـَا ذَاالْعِـزِّ وَالْهَـيـْبَةْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَ اِنْ تَرْدُدْ فَـمَنْ نَأْتـِىْ بِـنَيـْلِ جَمِيـْعِ حَاجَا تِى
اَيـَا جَـالِى الْمُـلِـمـَّاتِ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اغْفِـرِ وَاَ كْرِ مْنَـا بِـنَيـْلِ مـَطَا لِبٍ مِنَّا
وَ دَفْـعِ مَسَـاءَةٍ عَـنَّا بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
اِلهِـى اَنـْتَ ذُوْ لُطْـفٍ وَذُوْ فَـضْلٍ وَذُوْ عَطْـفٍ
وَكَـمْ مِنْ كُـرْبـَةٍ تَنـْفِىْ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ
وَصَلِّ عَـلَى النـَّبِىِّ الْبَـرِّ بـِلاَ عَـدٍّ وَلاَ حَـصْـرِ
وَالِ سَـادَةٍ غُــــرِّ بِاَ هْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

Asal Usul Sholawat Badar

Sholawat Badar adalah rangkaian sholawat berisikan tawassul dengan nama Allah, dengan Junjungan Nabi s.a.w. serta para mujahidin teristimewanya para pejuang Badar. Sholawat ini adalah hasil karyaKyai Ali Manshur, yang merupakan cucu KH. Muhammad Shiddiq, Jember. Oleh itu, Kyai ‘Ali Manshur adalah anak saudara atau keponakan KH. Ahmad Qusssyairi

( ulama besar dan pengarang kitab “”Tanwir al-Hija” yang telah disyarahkan dengan judul “Inarat ad-Duja“oleh ulama terkemuka Haramain, Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz al-Maliki al-Hasani.

Diceritakan bahawa karya ini ditulis oleh Kiyai ‘Ali Manshur sekitar tahun 1960, tatkala kegawatan umat Islam Indonesia menghadapi fitnah Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika itu, Kiyai ‘Ali adalah Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, juga menjadi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama di situ. Keadaan politik yang bercelaru saat itu dan kebejatan PKI yang bermaharajalela membunuh massa, bahkan ramai kiyai yang menjadi mangsa mereka, menyebabkan terlintas di hati Kiyai ‘Ali, yang memang mahir membuat syair ‘Arab sejak nyantri di Pesantren Lirboyo Kediri lagi, untuk menulis satu karangan sebagai sarana bermunajat memohon bantuan Allah s.w.t. Dalam keadaan sedemikian, Kiyai ‘Ali tertidur dan dalam tidurnya beliau bermimpi didatangi manusia-manusia berjubah putih – hijau, dan malam yang sama juga, isteri beliau bermimpikan Kanjeng Nabi s.a.w.
Setelah siang, Kiyai ‘Ali langsung pergi berjumpa dengan Habib Hadi al-Haddar Banyuwangi

dan menceritakan kisah mimpinya tersebut. Habib Hadi menyatakan bahawa manusia-manusia berjubah tersebut adalah para ahli Badar. Mendengar penjelasan Habib yang mulia tersebut, Kyai ‘Ali semakin bertekad untuk mengarang sebuah syair yang ada kaitan dengan para pejuang Badar tersebut. Lalu malamnya, Kyai ‘Ali menjalankan penanya untuk menulis karya yang kemudiannya dikenali sebagai “Sholawat al-Badriyyah” atau “Sholawat Badar“.
Apa yang mengherankan ialah keesokan harinya, orang-orang kampung mendatangi rumah beliau dengan membawa beras dan bahan makanan lainnya. Mereka menceritakan bahwa pagi pagi sekali mereka telah didatangi orang berjubah putih menyuruh mereka pergi ke rumah Kyai ‘Ali untuk membantunya karena satu kenduri akan diadakan di rumahnya. Itulah sebabnya mereka datang dengan membawa bahan makanan tersebut menurut kemampuan masing-masing. Tambah pelik lagi apabila malamnya, hadir bersama untuk bekerja membuat persiapan kenduri orang-orang yang tidak dikenali siapa mereka.
Menjelang keesokan pagi, serombongan habaib yang diketuai oleh Habib ‘Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi Kwitang

tiba-tiba datang ke rumah Kiyai ‘Ali. Tidak tergambar kegembiraan Kiyai ‘Ali menerima tetamu istimewanya tersebut. Setelah memulakan perbicaraan bertanyakan khabar, tiba-tiba Habib ‘Ali Kwitang bertanya mengenai syair yang ditulis oleh Kiyai ‘Ali tersebut. Tentu sahaja Kiyai ‘Ali terkejut kerana hasil karyanya itu hanya diketahuinya dirinya seorang dan belum dimaklumkan kepada sesiapa pun. Tapi beliau mengetahui, ini adalah satu kekeramatan Habib ‘Ali yang terkenal sebagai waliyullah itu. Lalu tanpa lengah, Kiyai ‘Ali Manshur mengambil helaian kertas karangannya tersebut lalu membacanya di hadapan para hadirin dengan suaranya yang lantang dan merdu. Para hadirin dan habaib mendengarnya dengan khusyuk sambil menitiskan air mata kerana terharu. Setelah selesai dibacakan Sholawat Badar oleh Kiyai ‘Ali, Habib ‘Ali menyeru agar Sholawat Badar dijadikan sarana bermunajat dalam menghadapi fitnah PKI.

”Ya akhi , mari kita perangi genjer –genjer PKI itu dengan sahalawat Badar ! ”kata Habib Ali kwitang mantap . setelah itu Habib Ali kwitang memimpin doa , lalu rombongan itu memohon diri .Maka sejak saat itu masyhurlah karya Kiyai ‘Ali tersebut.

Selanjutnya, untuk mempopulerkan shalawat badar , Habib ‘Ali Kwitang telah mengundang para ulama dan habaib ke Kwitang untuk satu pertemuan, termasuk dijemput ialah Kyai ‘Ali Manshur bersama pamannya KH. Ahmad Qusyairi. Dalam pertemuan tersebut, Kyai ‘Ali sekali lagi diminta untuk mengumandangkan Sholawat al-Badriyyah gubahannya itu. Maka bertambah masyhur dan tersebar luas Sholawat Badar ini dalam masyarakat serta menjadi bacaan popular dalam majlis-majlis ta’lim dan pertemuan.
Semoga Allah swt memberikan sebaik-baik ganjaran dan balasan buat pengarang Sholawat Badar serta para habaib tersebut….. al-Fatihah


Blogroll

Blogger templates

About