ASSALAMU`ALAIKUM DI BLOG KAMI "BOLO MANAKIB" GONDANG-NGANJUK SEMOGA DAPAT DIAMBIL HIKMAHNYA, BERMANFAAT DAN MEMBAWA BERKAH. AMIIN...

Rabu, 04 April 2012

Posted by MBAH GAMPIL On 18.35 | No comments
Kayyisa Ghania Afrin = Wanita cantik yang cerdik dan bijaksana juga beruntung
Kayyisa : Wanita cerdik dan bijaksana
Ghania : Cantik
Afrin : Yang beruntung

Selasa, 03 April 2012

Kerajaan Sulaiman fana

Dikisahkan, bahwa Sulaiman bin Dawud as berjalan dengan pasukan besarnya, bangsa burung menaunginya, sementara hewan jinak, hewan buas, hewan ternak, jin, manusia dan seluruh hewan berada di sebelah kanan dan kirinya. Dalam perjalanan, Sulaiman melihat soerang ahli ibadah Bani Israil, lalu ahli ibadah berkata: “Hai Putra Dawud, Allah sungguh telah memberimu kerajaan yang besar”. Sulaiman mendengar ucapan itu, lalu bersabda: “Sungguh satu tasbih dalam lampiran mukmin, lebih baik daripada apa yang diberikan kepada Putra Dawud, sebab apa yang diberikan kepada Putra Dawud fana, sedangkan tasbih itu kekal dan baka”.

Sebagian ulama melantunkan syair:

Jika kau bukan raja yang ditaati

Maka jadilah hamba yang taat kepada Pemiliknya

Jika kau tidak menguasai seluruh dunia

Maka lepaskanlah dunia ini seluruhnya

Keduanya adalah kerajaan dan ibadah

Yang membuat pemuda meraih keluhuran

Barangsiapa merasa cukup dengan dunia selain keduanya

Maka dia hidup rendah hina

BIOGRAFI WALIYULLOH SIMBAH SANUSI

“Bangsa yg besar adalah yg mengenal sejarah pejuangnya” kata bijak persiden RI pertama kali ini menyulut saya untuk menulis sejarah atau riwayat orang-orang yg berjasa di desa saya. Sebelum riwayat tentang mereka hilang, seiring hilangnya Shohibul Hikayat. Dan biografi yg akan saya tulis ini mengenai sejarah singkat waliyulloh Mbah Sanusi.

Pernah K. Muhammad bin KH Yasin meng-imlak-kan biografi Waliyulloh Simbah sanusi kemudian di catat oleh santri beliu, namun sayang manuskrip yg menyimpan tindak tanduk beliau yg mulia tsb hilang entah kemana. Hanya beberapa lembar saja yg masih tersisa, itupun menerangkan beberapa Keramatnya saja.

Beliau adalah KH. Sanusi yg dimakamkan diselatan Masjid Kauman Jekulo. Berasal dari desa Gili yg terletak disebelah barat distrik Tenggelas. Beliau dilahirkan dari pasangan Bapak Ya’qub dan Ibu Sarijah. Semasa hidupnya beliau lebih di kenal dengan sebutan H. Sanusi Ali, menurut keterangan lain nama Ali tsb bukan nama asli melainkan laqob atau nama panggilan yg berasal dari kata Sanusi Kulon Kali, kemudian anak-anak kecil sering menyebutnya dgn menyingkat Mbah Sanusi Kulon kali menjadi Mbah sanusi Ali. Karena memang beliau mempunyai dua rumah, yg satu di dukuh Kauman yg berada di timur sungai Logung dan yg satunya lagi berada di sebelah barat sungai Logung, tepatnya di utara pasar mbareng lama, dukuh Tambak jaya.

Seperti kebanyakan para wali lainnya, beliau memulainya dengan suluk dan riyadloh. Pada masa remaja, beliau melakukan riyadloh dengan bertapa selama 40 hari tanpa bekal di puncak Argo Jimbangan, salah satu puncak yg berada di gunung muria. Jika kita lihat dari bawah, Argo Jimbangan adalah Gugusan paling timur dari deretan gugusan gunung Muria. Di sanalah Mbah Sanusi melakukan riyadloh, untuk menemukan rasa ing jati, rasa ing rasa, iaitu makrifat kepada Allah dgn cara mengenali diri sendiri.

Selama Khalwat di puncak Argo Jimbangan, setiap lima waktu beliau selalu didatangi seekor Macan, tapi bukan hendak memangsa beliau, melainkan membawakan bumbung Bambu yg berisikan air untuk berwudlu. Pada hari terakhir beliau ditemui oleh Nabi Khidlir as. Oleh Nabi Khidlir, beliau diberi sebungkus nasi dan disuruh untuk menghabiskannya. Namun beliau hanya mampu memakannya separo saja. ketika disuruh lagi, beliau tetap tidak mampu menghabiskan nasi tsb. Maka setelah genap empat puluh hari beliau pun turun dan pulang kerumah. tatkala beliau pulang ini, ada cerita lucu. Tatkala itu, ibu mbah sanusi sedang menimba dgn menggunakan senggot, tiba-tiba saja senggot tsb terasa berat hingga ibu beliu tak mampu mengangkatnya, si ibu pun berteriak-teriak minta tolong. Mengetahui hal itu mbah sanusi pun menampakkan diri dan berkata, “aku seng ganduli mbok”, ternyata mbah sanusi yg tadi tidak menampakkan diri sambil memegangi senggot, bermaksud memamerkan kesaktian sekaligus bercanda dgn ibunya.

Sebagai seorang pemuka Agama di desa Jekulo dan sebagai rujukan Kyai setempat. Beliau juga mempunyai hubungan batin yg erat dgn Kiai Zubair Sarang Rembang. sebagaimana yg diceritakan oleh Bpk Ah. Saiq dari keterangan Kiai Muhammad. Bahwa Mbah Sanusi sering melakukan telekomunikasi batin dengan Kiai Zubair, namun mengenai yg dibicarakan mereka berdua tidak ada keterangan yg jelas. Tatkala KH. Hasyim As’ari hendak meminta ijin ke Habib Hasyim Pekalongan beliau juga bersinggah di Waliyulloh Mbah Sanusi, sebelum Akhirnya beliau mengantarkan Kiai Hasyim ke rumah Mbah Raden Asnawi Kudus. Dari cerita ini bisa ditarik kesimpulan bahwa beliau juga mempunyai hubungan yg erat dengan ulama-ulama di tanah jawa. Namun pada suatu ketika beliau ditanya oleh Kiai R. Asnawi, “mengapa NU tidak berkembang di Jekulo?” beliau tersenyum dan menjawab, “Jarke mawon. malah seng sae ngoten!”. Mungkin karena ucapan beliau inilah pada akhirnya Kiai-kiai di Jekulo jarang ikut Organisasi.

Keramat-Keramat Waliyulloh Mbah Sanusi

Seperti yg diriwayatkan oleh Almarhum Kiai Muhammad; Pernah suatu pagi Simbah Sanusi menyapu di depan langgar (Musholla), diam menunduk, hanya tangannya saja yg bergerak-gerak. tatkala KH Yasin yg merupakan murid beliau sowan, beliau berkata bahwa td Beliau itu sedang menolong seorang di Malang jawa timur.

Pada kesempatan lain, tatkala Kh Yasin sowan ke rumah Simbah Sanusi di pagi hari, KH Yasin disuguhi Nasi Samin yg masih hangat oleh Mbah Sanusi. Meliahat suguhan itu Kiai Yasin bertanya dgn dialek jawa, “Nasi Samin yg penuh Daging tsb berasal dari mana??” Mbah Sanusi menjawab dgn bahasa jawa, “Itu lho tadi Jam setengah enam pagi saya dapat undangan di Mekah” kemudian Kiai Yasin Menimpali, “waktu saya Haji, kebanyakan Nasi di mekah memang Nasi Samin”. Padahal pagi itu beliau masih di Jekulo.

Simbah Sanusi tergolong Auliya’ yg sering memperlihatkan Keramatnya. Sehingga keramat beliau terlalu banyak untuk dapat diceritakan. Seorang Kiai berkata bahwa keramat Mbah Sanusi tak ubahnya keramat Sheikh Abdul Qadir Al Jaelani, hanya saja yg membedakan, kalau Sheikh Abdul Qadir adalah Sulthonul Auliya’.

Diantara keramatnya lagi, Beliau pernah bepergian ke sebelah selatan baratnya kota Jogjakarta, iaitu di daerah Laut Selatan. Di laut tersebut terdapat Masjid Nabi Khidlir a.s yg terliahat oleh Simbah Sanusi. beliau memasuki Masjid tsb, kemudian Masjid tadi tenggelam ke dasar laut. Dan anehnya setelah keluar, tubuh beliau sama sekali tidak basah. Diriwayatkan, sebentar setelah kejadian tsb, beliau Simbah Sanusi mendapat Anugerah dari Allah berupa Kembang Jaya Sampurna, yg berupa kayu, dan barang siapa membawanya maka mempunyai kedudukan seperti para ratu. Maka tidak heran, ketika Bupati Kudus sakit, si bupati menyuruh abdi dalemnya untuk meminta Obat kepada Mbah Sanusi. Dan oleh Mbah Sanusi diberi satu keping uang godem. beliau menyuruh agar uang tsb diremdam dlm air, kemudian air tsb diminum. Setelah mengikuti anjuran beliau, alhamdulillah Allah menyembuhkan sakit si Bupati. Sebagaimana yg diceritakan Kiai Muhammadun Pondohan.

Kiranya cukup sedikit cerita tentang keramat beliau. Agar kiranya cerita tersebut dapat menambahkan keyakinan dalam hati kita. Sebagaimana firman Allah dalam surat Hud Ayat 120; wakullan Naqusshu ‘Alaika min Anbaai arrusuli ma nutsabbitu bihi fuadak, ila akhiril ayat. Imam Sya’roni berkata dlm kitabnya, “bahwasannya Iman terhadap keramat para wali adalah Wajib dan Haq. Setiap keramat para Auliya’ adalah bukti mukjizat para Nabinya. Maka keramat Auliya’ Muhammad Shalallah alaihi wa sallam adalah bagian dari Mukjizat yg menunjukkan kebenaran beliau dan sahnya Agama beliau saw”.

Adapun nasab Beliau adalah sebagai berikut ini:
:: Waliyulloh Mbah Sanusi
:: Bin Ky. Ya’qub di Makamkan di Gili Tenggeles :: Bin Raden Mas Hadi Kesumo (KH. Abdur Rohman makamnya di Ngembalrejo Kudus)
:: Bin Raden Mas Sumo Hadiwijoyo, makamnya di Mlati Kudus.
:: Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Hadi Kesumo Nengrat.
:: Bin Raden Mas Tumenggung Adipati Surya Kesumo Mejobo Kudus.
Nasab beliau Simbah Sanusai sampai kepada Waliyulloh Abdur Rahman Ba’abud yg lebih dikenal dengan nama Amangkurat Mas II, Tegal Arum. Raden Amangkurat Mas merupakan salah satu keluarga Kerathon Surakarta yg mengasingkan diri dari pemerintahan.

Guru beliau diantaranya adalah Habib Nuh Bin Muhammad Al Habsyi Singgapura, Kiai Iskandar Banyumas dan para Ulama di Mekah. Kami belum dapat keterangan yg lebih detail tentang Guru-guru beliau.

Diantara murid-murid beliau adalah KH. Yasir, KH Yasin dan KH Dahlan, ketiganya adalah Ulama’ setempat di daerah Jekulo. Juga KH. Muhammadun Pondohan Tayu Pati. Beliau KH Muhammadun ber-baiat Thariqah Naqsabandiyyah pada Simbah Sanusi dengan baiat khusus, dan oleh Simbah Sanusi KH Muhammadun dipesan agar tidak mengijazahkan kepada sembarang orang.

Begitulah kira-kira sepenggal Biografi tentang Waliyulloh Mbah Sanusi. Haul beliau diadakan pada Malam hari setelah Isya’ oleh Masyarakat dan keturunan beliau, setiap Tanggal 18 Syawal.

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, dan memasukkan beliau kedalam Surga bersama Syuhada’ Shalihin dan Anbiya’ di ‘Illiyyin, surga yg tinggi, dengan Anugerah dan RahmatNya. Dan semoga berkah beliau sampai juga kepada Kita semua. Amin

Senin, 02 April 2012

ilmu laduni dari nabi khidir

Posted by MBAH GAMPIL On 23.50 | 5 comments
Metode Bahasa Nabi Khidir
Metode Bahasa Nabi Khidir

SARANA memperdalam bahasa asing kini tersedia melimpah. Kursus bahasa Inggris, misalnya, sudah menjamur sampai ke pelosok kampung. Dari yang menyewa ruko hingga yang berkantor megah ber-AC dengan lapangan parkir nan luas.

Lembaga pelatihan bahasa yang bonafide seperti itu biasanya juga memasang iklan di Media cetak atau televisi. Di situ mereka mempromosikan fasilitas belajar, mulai kelas ber-AC, instruktur asing (native-speaker), video, dan diktat lengkap. Biayanya, ya, tergantung pilihan.

Ongkos kursus di tempat beken tentu mahal. Umumnya, ratusan ribu hingga jutaan rupiah untuk satu level program. Yang bertempat di ruko dengan kipas angin di tiap kelas bisa lebih murah. Kebanyakan orang perlu beberapa tahun untuk bisa mahir. Sudah begitu, kalau tidak aktif digunakan, Anda bisa kembali gagap.

Kini Anda bisa mencoba cara baru. Di Pondok Pesantren (Ponpes) Nurur Riyadhoh, Desa Alas Tengah, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Anda cuma perlu datang sekali. "Dijamin dalam tiga bulan bisa menguasai, dan tidak akan pernah lupa," kata KH Ahmad Shaleh, pendiri ponpes.

Pondok yang punya 150-an santri itu memperkenalkan apa yang disebut sebagai ilmu laduni. Menurut kiai yang biasa disapa Gus Shaleh itu, setiap orang sudah menguasai semua bahasa. Hanya, tidak bisa mengucapkannya, lantaran tak dibiasakan sejak kecil. "Ilmu laduni membantu menemukan kembali bahasa itu," kata lelaki 48 tahun itu.

Selama proses "pencarian" ilmu itu, tidak diperlukan alat Bantu apa pun. Baik video, kaset bahasa asing, laboratorium bahasa, apalagi native speaker. Sebagai gantinya, para santri bahasa (mereka yang datang hanya untuk menguasai bahasa asing) menjalani ritual. Menurut Gus Shaleh, seorang santri bahasa harus melakukan tiga macam ritual.

Pertama, tahap pembukaan dengan metode ijazah. Yakni pengisian ilmu oleh seorang kiai. Santri duduk bersila menghadap kiai. Kemudian sang kiai merapalkan doa tertentu. Tahap ini cuma butuh waktu lima menit. Setelah selesai, sang kiai memberikan selembar Kertas berhuruf Arab. "Ini bacaan salawat saja kok, ditambah beberapa doa," katanya.

Setelah mata Batin santri dibuka dengan ijazah, selembar kertas berisi salawat dan doa itu dibaca berulang-ulang selama kurang lebih dua jam. "Ini semua masih dalam prosesi pertama," ujar kiai berusia 48 tahun itu. Setelah itu, santri masuk tahap kedua, yakni penarikan bahasa yang dikehendakinya. Misalnya bahasa Inggris.

Pada tahap ini, santri dipancing oleh salah satu santri sang kiai dengan obrolan bahasa yang dikehendaki santri bahasa. Tujuannya, agar santri bahasa terbiasa mendengarkan bahasa yang diinginkannya. Berulang-ulang, sehingga terekam ke dalam memori dan mata batinnya.

Selama proses itu, pertanyaan kiai memang tidak dijawab. "Tapi mata batinnya bisa memahami," kata Zainullah, salah satu anak buah Gus Shaleh yang membantu proses itu. Setelah beberapa lama berjalan, prosesi masuk ke tahap akhir. Yakni pemisahan dan pencucian bahasa.

Tujuannya, agar santri Fokus pada pilihan bahasa yang dikehendaki. Selain itu, santri juga dibuka kemampuan menulisnya. Untuk sampai pada tahap ini, santri diminta mandi. Tentu tak sembarang mandi. Ada doa-doa yang dipanjatkan sang kiai. "Tujuannya, untuk mengunci dan mempercepat proses penguasaan bahasa dengan ilmu laduni," sang kiai menambahkan.

Untuk santriwati tidak harus mandi. Tetapi, jika santri itu tidak keberatan, bisa saja dimandikan. Hanya ditemani kerabatnya. Asal tahu saja, prosesi mandi ini dilakukan di kamar mandi dengan pintu terbuka. Seluruh proses itu hanya berlangsung beberapa jam. Setelah itu, santri bahasa bisa pulang.

Menurut Gus Shaleh, prinsipnya santri yang sudah melalui prosesi itu sudah menemukan bahasa yang dicari. Hanya, ia tidak otomatis mahir. Untuk mencapai tahap mahir, masih dituntut upaya lain. "Ya, si santri bahasa harus berlatih. Makin giat, ya, makin cepat menguasai," katanya. Sarana berlatih bisa buku, kaset, video, atau bicara dengan orang asing sekalian.

Untuk menyerap ilmu laduni, santri bahasa bisa memilih dua program: istimewa dan biasa. Untuk program pertama, santri dipungut ongkos (biasa disebut mahar), Rp 1 juta. Yang kedua cuma Rp 350.000. Kedua program itu sama-sama meliputi tiga prosesi tadi.

Hanya, ada sedikit Berbedaan perlakuan. Sayang, Gus Shaleh enggan berbagi rahasia. "Wah, tidak bisa disebutkan, Mas," katanya. Tapi, kabarnya, pada program istimewa, santri diberi tambahan doa-doanya yang tidak ada pada program biasa. Hasilnya sudah tentu berbeda pula.

Dengan upaya yang sama, santri dengan program istimewa bisa menguasai bahasa asing lebih cepat ketimbang program biasa. Dengan program istimewa, santri bisa menguasai bahasa asing dalam tempo dua pekan. Yang mengambil program biasa bisa sampai tiga bulan.

Dari hari ke hari, peminat program ini terus meningkat. Saat Gatra datang, tiga pekan lalu, hampir 20 orang antre menunggu giliran diberi ilmu laduni. Biasanya, peminat makin ramai pada akhir pekan. "Bisa sampai 30-50 orang per hari," kata Zainullah. Mereka datang dari pelbagai daerah di Jawa. Bahkan dari luar Jawa, seperti Sumatera dan Kalimantan.

Padahal, tidak ada publikasi apa pun tentang belajar bahasa asing dengan metode ilmu laduni itu. Kebanyakan santri bahasa datang setelah mendengar keberhasilan orang lain. Itu pula yang disampaikan dua santri bahasa yang ditemui Gatra di Ponpes Nurur Riyadhoh.

Seperti dituturkan Sarjono. Pemuda kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 29 tahun lalu itu datang jauh-jauh dari Bali. Di Pulau Dewata, ia bekerja di sebuah restoran. "Kebanyakan pelanggan restoran dari mancanegara, Mas. Saya ingin lancar meladeni mereka bicara," katanya. Maka, ia memilih bahasa Inggris, Mandarin, dan Jerman.

Anak bungsu pasangan Sukardjo dan Rukmini itu mengetahui informasi tentang kelebihan Ponpes Nurur Riyadhoh dari teman seprofesinya. Sebelumnya, si teman tak bisa berbahasa Inggris. Namun, setelah datang ke pondok tersebut, sekitar tiga bulan, ia sudah bisa cas-cis-cus.

Semula Sarjono tak yakin bahwa ilmu laduni bisa mengantarkan seseorang cepat menguasai bahasa asing. Tapi, setelah si teman membuktikannya, ia tak bisa membantah. Bahkan tergerak untuk membuktikannya pula. "Apa salahnya jika saya juga mencobanya, Mas," kata Sarjono.

Kisah itu agak mirip dengan pengalaman Andik Setyowibowo, 21 tahun. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer, Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada (UGM), mulai tertarik dengan Ponpes Nurur Riyadhoh setelah mendengar kisah sukses teman sekelasnya. Suatu kali, si teman menyodorkan sertifikat hasil tes TOEFL yang mencapai 500. "Wah, saya kaget. Saya tahu, dia tergolong gagap bahasa Inggris, tapi kok bisa," katanya.

Menurut si teman, ia berguru sehari di Nurur Riyadhoh. "Maka, saya pun menjajalnya," katanya. Tujuannya, untuk menunjang studinya di UGM. Sebab, dalam setiap materi perkuliahannya, referensi yang digunakan mayoritas berbahasa asing (Inggris). "Ya, hitung-hitung trial and error," ujarnya. Selain itu, mungkin dia bisa mendapatkan Beasiswa studi ke luar negeri.

Menurut Gus Shaleh, pengajaran ilmu laduni itu sudah dimulai sebelum Ponpes Nurur Riyadhoh berdiri, pada 1990-an. Awalnya dia hanya ingin membantu seorang temannya yang ingin belajar bahasa Jepang karena berniat jadi TKI. "Kebetulan saya punya ilmu laduni. Ya, saya bantu," katanya. Setelah dibantu, ternyata sukses.

Keberhasilan itu menjadi buah bibir. Mulanya, kemampuan Gus Shaleh hanya bergaung di seputar Probolinggo. Lama-kelamaan menyebar ke luar kota. Gus Shaleh mengaku mendapatkan ilmu laduni itu dari Nabi Khidir AS melalui ritual tirakat (lelaku, bertapa).

Tirakat dimulainya sejak usia tujuh tahun. Yang mengajarinya tirakat tak lain adalah ayahnya, KH Jauhari. Biasanya Gus Shaleh melakukan tirakat di tepi laut sambil mencari ikan. Pada usia sekitar 12 tahun, Gus Shaleh mengaku bertemu dengan Nabi Khidir AS di tepi laut.

Dalam pertemuan itu, menurut Gus Shaleh, wujud Nabi Khidir AS berupa seorang manusia yang mengenakan pakaian seperti rakyat biasa. Ia mengangkat Gus Shaleh sebagai muridnya. "Ada banyak ilmu diberikan. Salah satunya ilmu laduni," katanya.
Doa Sulthonul Auliya' Syaikh Abul Hasan Asy Syadzili


Dengan Menyebut Nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah memberi pertolongan kepada kami dan kamu pada apa yang Dia sukai dan Dia Ridhoi. Semoga Dia memilihkan untuk kami dan kamu apa yang Dia takdirkan dan Dia qodha’kan. Dan menjadikan kami dan kamu tergolong orang-orang yang menang di hari bertemu dengan-Nya.

Wahai Allah.....
Wafatkanlah kami sebagai orang muslim dan ikutkanlah kami bersama Muhammad dan golongannya atas Ridha dari-Mu dan mereka dengan iringan selamat dari rasa malu dan segan serta hina oleh sebab amal perbuatan yang campur aduk kami yang telah berlalu.

Wahai Allah.....
Maafkanlah kami dalam kebodohan kami, dan janganlah Engkau menuntut kami karena kelalaian kami terhadap-Mu, dan sebab kejelekan adab kami bersama-Mu dan bersama para malaikat pencatat yang mulia.

Wahai Allah....
Ampunilah dosa-dosa dan kelalaian kami, kebodohan kami terhadap nikmat-nikmat-Mu. Ampunilah kami yang sedikitnya rasa malu kami terhadap-Mu, dan sudilah kiranya Engkau menghadap kepada kami dengan Wajah-Mu, dan janganlah Engkau membiarkan kami difitnah oleh sesuatu dari makhluk-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah....
Ampunilah kami tentang apa yang sudah diketahui oleh manusia dari makhluk-makhluk-Mu dan ampunilah kami atas apa saja yang telah Engkau ketahui dan sudah ditulis oleh para malaikat-Mu, dan ampunilah kami atas apa yang telah kami ketahui dari diri kami sedangkan tidak seorangpun dari para makhluk-Mu yang mengetahui, dan ampunilah kami atas apa yang telah Engkau tentukan kepada kami dalam semua hukum-hukum-Mu, dan karuniakanlah kami kekayaan yang dengannya kami tidak lagi membutuhkan apa-apa dari semua makhluk-Mu dan disertai pula dengan terbukanya penutup antara kami dan antara-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Wahai Allah.....
Ampunilah kami dengan ampunan yang Engkau berikan kepada para kekasih-Mu yang tidak membiarkan sedikitpun keraguan dan tidak menyisakan bersamanya sesuatu celaan dan cercaan. Jadikanlah apa yang telah Engkau ketahui dalam diri kami dan dari diri kami sesuatu yang paling baik diketahui setelah dihapus dan ditetapkannya amal-amal. Sesungguhnya Ummul Kitab (Lauh Mahfudzh) ada di sisi-Mu.

Wahai Allah....
Ampunilah semua dosa-dosa kami baik yang kecial maupun yang besar, yang rahasia maupun yang nampak, yang pertama maupun yang terakhir. Dan ampunilah orang-orang yang kami cintai yang melakukan perjalanan jauh dari kami, perjalanan dunia maupun akhirat, jadikanlah gerak langkah mereka sebagaimana gerak langkah orang-orang yang taqwa dan kepulangan mereka sebagaimana kembalinya orang-orang yang memperoleh keuntungan. Dan Jadikanlah kita semua dengan Rahmat-Mu orang-orang yang diterima (permohonannya), sekalipun kami adalah orang-orang yang berjalan sombong, karena para penyanggah itu sesungguhnya bermurah hati meskipun mereka mengetahui, dan Engkau lebih utama terhadap yang demikian karena Engkau Maha Mulia dari siapapun pengasih. Segala Puji bagi Allah Tuhan semesta alam. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Wahai Allah....
Janganlah Engkau pulangkan kami dengan hampa sedang kami penuh berharap kepada-Mu. Janganlah Engkau tolak kami sedang kami berdo’a kepada-Mu. Kami benar-benar memohon kepada-Mu sebagaimana telah Engkau perintahkan kepada kami, maka kabulkanlah permohonan kami sebagaimana telah Engkau janjikan kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan kerendahan diri kami sesuatu yang tidak berarti bagi-Mu dan tidak diterima. Dan sebagaimana Engkau telah memudahkan kami untuk berdoa, maka mudahkan pula terkabulnya. Seungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

bolo manakib kab. nganjuk

Posted by MBAH GAMPIL On 23.27 | No comments
Bertemu Nabi Khidir ????


Sore itu sehabis adzan ashar tidak seperti biasanya supi’i pulang dari kerjanya, ia buru-buru untuk menghidupkan kendaraannya dan setelah itu dipacu dengan kecepatan sedang. Sebenarnya supi’i tidak tahu pasti kemana tujuannya untuk meninggalkan kantor tempat ia bekerja sebelum jam pulang kerjanya. Ia cuma menjalankan kendaraannya saja keliling-keliling kota, jalan, jalan dan jalan. Ia sendiri tidak tahu, kreteg dihatinya ia pingin pergi gitu aja. Ya sudah jadilah begini puter-puter nggak tahu artinya dan meng-ukur panjang jalan yang dilaluinya.

Tanpa sadar ia lihat arlojinya jam sudah menunjukkan pukul empat sore lebih, segera ia istighfar berkali-kali karena ia belum sholat ashar. Ia biasanya melakukan sholat ashar di kantornya. Kali ini supi’i sedikit sadar, segera ia berjalan lagi dan memacu kendaraannya dengan kecepatan yang sedikit lebih kencang dibandingkan tadi. Kali ini tujuannya jelas, ia harus mencari masjid untuk melakukan sholat ashar.

Hingga akhirnya ia sampai di pinggiran kota dan menemukan sebuah masjid tua. Masjid yang sederhana, tidak ada menara tetapi cuman kubah kecil yang diatasnya ada lafadz Allah. Sekilas memang nampak seperti rumah biasanya. Lafadz diatas kubah itulah yang menunjukkan bahwa itu sebuah masjid. Segera supi’i memarkir kendaraannya. Sekali lagi ia pandangi masjid itu dari tempat ia memarkir kendaraannya. Ia pejamkan matanya, aneh begitu damai supi’i rasakan. Ia merasakan begitu masjid itu sangat bercahaya.

“Bismillahir rohmannir rohiim”, mantap supi’i menuju masjid. Ia tata sandal terbalik seperti yang diajarkan di PETA (maklum Supi’i selalu teringat kata-kata yang ditulis ditembok depan Musholla PETA “Yen kepingin noto ati, totonen ...... sandal, baqiyak, sepatumu disik ; iki contone”). Ketika berdiri setelah menata sandal itu supi’i semakin terkejut dengan datangnya seseorang tua berpakaian putih dan bersarung hijau dari dalam masjid menuju serambi untuk menyambut dirinya. “Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Alhamdulillah nak supi’i sudah sampai. “wa wa wa alaikumus salam”, jawab supi’i kaget. Dalam hatinya ia bertanya-tanya siapakah beliau hingga tahu namanya segala. Sungguh supi’i sama sekali belum mengenal orang itu. Apalagi beliau seperti memang menunggu kedatangannya. “Ayo nak supi’i itu tempat wudlunya cepat wudlu entar keburu asharnya habis. Bapak tunggu didalam masjid ya”. “baik pak”, jawab supi’i.

Segera supi’i pergi ke tempat wudlu, tempat wudlunya pun sangat sederhana. Tidak ada kran air yang ada cuman kolam besar 3 kali 2 meter yang dipakai bersama-sama untuk berwudlu. Segera supi’i berwudlu dia berniat wudlu untuk menghilangkan hadas kecil karena Allah. Meskipun supi’i masih punya wudlu (Supi’i selalu mendawamkan batal wudlu ajaran PETA) tetapi supi’i selalu memperbarui wudlu ketika akan melakukan sholat.

Setelah berdo’a sehabis wudlu segera supi’i menuju ke dalam masjid untuk menghadap bapak tua itu. Tampak jelas sekali masjid itu sangat sederhana sekali. Dindingnya bercat putih sedikit kusam, lantainya bukan dari keramik apalagi pualam atau marmer tetapi dari ubin yang berwarna kuning, bahkan ada bagian lain ubinnya sudah hilang dan cuman di tambal dengan semen aja. Sambil berjalan supi’i pandangi bapak tua itu. “Subhanallah” dalam hatinya supi’i merasakan bapak tua itu wajahnya sangat bercahaya. Mungkinkah cahaya masjid ini berasal dari wajah bapak tua itu ?

“Silahkan nak supi’i sholat dulu disamping bapak, kalau bapak sih sudah sholat ashar tadi. Setelah Sholat ashar itu, bapak tua itu kemudian berkata, “Nak sekarang mari kita berdo’a dan nak Supi’i tinggal mengamini saja”. “baik pak” jawab supi’i. Setelah berdoa itulah kemudian bapak tua memegang dada supi’i sambil berkata “kamu harus sabar..., kamu harus sabar...., kamu harus sabar ya...., setelah itu bapak tua tadi meletakkan jempol tangan kanannya ke langit-langit mulut supi’i yang sebelumnya ditempelkan dari langit-langit mulutnya. Supi’i cuma bisa menurut saja apa yang dilakukan oleh bapak tua tadi terhadap dirinya. Setelah itu bapak tua tadi berdoa lagi dan supi’i pun turut mengamininya hingga selesai. Setelah itu bapak tua itu berkata kepada supi’i : “ kamu harus sabar ya...., istiqomah ya..., sekarang nak supi’i segera pulang karena hari sebentar lagi menjelang malam. “baik bapak terima kasih atas semuanya” sambil kemudian supi’i mencium tangan bapak tua itu untuk berpamitan. Terasa halus sekali tangan bapak tua itu seperti halusnya kulit bayi, guman supi’i. “assalamu’alaikum” kata supi’i. “Wa alaikumus salam warohmatullohi wabarokatuh” jawab bapak tua itu.

Supi’i pun segera berdiri untuk pulang, sesampainya di serambi masjid diapun kembali lagi karena penasaran dan pingin bertanya kepada bapak tua itu siapakah sebenarnya Beliau. Tetapi ketika dilihat sekeliling ruangan masjid dia tidak menemukannya, bahkan tidak ada seorangpun didalam masjid itu kecuali dia. Kemana perginya bapak tua itu dia gak tahu, datang tiba-tiba dan hilangnyapun tiba-tiba. Supi’i cuma bisa menerka-nerka bapak tua itu. Mungkinkan seorang waliyullah, atau mungkinkan malaikat, atau mungkin juga nabi khidir yang selalu ditawasulinya setiap hari minimal tiga kali ketika membaca aurod syadziliyah ? Wallahu ‘alam bishowab.

ASMAUL HAQ
APA ITU ASMAUL HAQ

Asmaul haq ialah suatu do’a amaliyah yang di ajarkan oleh Nabi Khidir a.s melalui proses ijazah (rekomendasi)

Nabi khidir a.s mengajari orang-orang yang sudah dipilih dengan ilmu kema’rifatannya,yaitu ilmu untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara berdo’a.

Orang yang diajari Nabi Khidir apabila telah mengerti dan faham ilmu kema’rifatan (Asmaul haq),maka orang tersebut harus mensyiarkan agama Islam tidak boleh lepas dari ajaran-ajaran (yang telah disyariatkan oleh Nabi Muhammad SAW) Melalui metode-metode yang termasuk dalam kriteria sifat-sifat wajib para Rasul Alaah yaitu:

Shiddiq artinya benar ,yaitu segala tuntunannya maupun ajaran-nya pasti benarnya dan datang dari Allah SWT.
Amanah artinya dipercaya, yaitu dengan penuh kejujuran dan keikhlasan melaksanakan apa-apa yang diperintahkanoleh Allah SWT kepadanya.
Tabligh artinya menyampaikan segala perintah ataupun larangan Allah diteruskan kepada ummatnya denagn tidak dikurangi ataupun ditambah walupun bagimana beratnya.
Fathonahartinya cerdas cermat, yaitu cerdas cermat menerima segala yang diwahyukan Allah.
Jadi 4 kriteria atau sifat-sifat tadi hendaknya difahami oleh pengamal Asmaul Haq, biar tidak salah arah atau salah tujuan .

Dalam memahami Asmaul Haq hendaknya lebih rinci atau teratur, contohnya saja dalam mengamalkan Asmaul Haq, Asmaul Haq diamalkan mengikuti sholat wajib, jadi dengan pemahaman sholat itu lambang syariat yang diajarkan Allah melalui Rasulullah,sedangkan Amaul Haq adalah do’a yang diamalkan setelah sholat, ini lambang dari hakekat untuk menuju kepada kemarifatan.

Maka untuk memahami ilmu Ma’rifah kita harus memahami ilmu Tauhid (Aqidah), Ilmu Syari’ah,ilmu hakikat, baru setelah itu kita akan paham yang namanya ilmu Ma’rifah.

Supaya kita bisa Ma’rifah kepada Allah,maka kita harus belajar Asmaul Haq dengan baik.

Karena tujuan Asmaul Haq itu ada 4 yaitu:

Tujunnya hanya kepada Allah (taqarrub/mendekatkan diri)
Memohon ridho Allah
Supaya dicintai Allah
Supaya bisa Ma’rifah kepada Allah (mengerti kebenaran Allah)

Asmaul Haq

PENGERTIAN ASMAUL HAQ

1.Menurut bahasa Asmaul Haq terdiri dari dua kata asma'dan al-Haq.Asma adalah kata jama'dari ismun yang berarti nama,sedangkan al-Haq adalah benar/kebenaran,Jadi Asmaul Haq adalah nama-nama kebenaran,atau seluruh asma- asma Allah terkumpul dalam lafadz Allah yang maha benar.

2.Menurut istilah pengertian "Asmaul Haq"adalah suatu amalan dengan membaca lafadz "Allah",menurut aturan-aturan dan syarat-syarat tertentu menuju Allah.

TUJUAN MENGAMALKAN ASMAUL HAQ

Para pengamal Asmaul Haq selalu membaca lafadz "Allah"sebagai latihan mengingat Allah agar menjadi orang-orang yang selalu mengingat Allah baik dalam keadaan berdiri,duduk atau baring atau selalu mengingat Allah dalam keadaan sepi maupun ramai.

Firman-firman Allah tentang hal ini :

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ

Artinya : Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.(Q.s.Al-Baqarah 152)




فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

Artinya : "Maka ingatlah (berdzikirlah) kamu kepada-ku diwaktu berdiri,diwaktu duduk dan diwaktu berbaring".(Qs.An-Nisa'103).

Dari Uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan mengamalkan asmaul haq ada 4,yaitu :

1.Agar selalu mendekatkan diri kepada Allah.

2.Agar selalu mendapatkan ridho dari Allah.

3.Agar menjadi orang yang dikasihi Allah.

4.Agar menjadi orang yang bisa ma'rifat kepada Allah.

Manfaat Asmaul Haq :

1.Untuk melindungi atau memagari diri/orang lain/segala sesuatu dari ganguan-ganguan fisik (orang-orang jahat) atau metafisik (jin-jin yang jahat).

2.Untuk membuang atau memindahkan gangguan dari tubuh atau sesuatu tempat ke tempat lain yang diinginkan.

3.Untuk mengambil khasiat-khasiat dari ayat-ayat Qur'an,do'a-do'a atau obat-obatan dan lain-lain,untuk diisikan pada badan atau benda-benda dengan tujuan-tujuan yang diiginkan.

4.Untuk menarik simpatik orang dalam usaha dagang,keharmonisan suami-istri atau dengan siapapun,upaya mendapatkan jodoh dan lain-lain.

5.Untuk mengistikhorohi/mendeteksi sesuatu,apakah sesuatu itu manfaat atau tidak,baik atau tidak,ada atau tidak,dan lain-lain.

HIKMAH MENGAMALKAN ASMAUL HAQ

Setelah amalan Asmaul Haq diamalkan dengan benar,difahami,dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maka akan benar-benar menjadi orang-orang yang selalu mengingat Allah dalam segala keadaan.

Dan hikmah-hikmah dibalik itu adalah :

1.Tercegah dari perbuatan keji dan mungkar

2.Berakhlak terpuji

3.Berhati lemah lembut dan mulia

4.Selalu Merasa tenang,tidak punya rasa takut dan sedih

5.dermawan

6.berjiwa pemaaf,bukan pedendam dan pemarah

7.Berlapang dada,mudah menerima kritik dan saran

8.Bertaqwa kepada Allah sehingga Allah memberi rizki dari arah yang tidak disangka-sangka dan memberi jalan keluar pada problem yang dihadapi

9.menggantungkan nasibnya hanya kepada Allah tidak kepada mahluk

10.Selalu berkeinginan agar dapat mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk memiliki Asmaul Haq.

11.Jika mengajari atau mengajak orang lain tidak takut tersaingi

12.Dan lain-lain,masih banyak lagi dari buah Dzikir kepada Allah,

Seberapa jauh hikmah tersebut dapat diraih adalah bergantung kepada seberapa jauh kwalitas iman dan dzikir kita kepada Allah.

ASMA'UL HAQ

Posted by MBAH GAMPIL On 22.50 | No comments
Silsilah keilmuan asma'ul haq:
-Muhammad saw
-syayyidina Khidir as
-syaikhi Ahmad Imam Rifa'i ra.
-syaikhi Ahmad Imam Subakri radliallohu anhu.
-kh. Jamhari Ghozali Anwar
Keilmuan Asma'ul haq adalah ilmu sepuh/tua, hati hatilah mencari guru yang mbabar keilmuan, biarlah dimana mana ada berdiri mursid, mujiz, ahli bai'at, robithoh, tapi di ponpes an-nur tampo trisono, babadan ponorogo satu satunya penerus yang haq kita ikuti sbg penerus dari guru besar aliran asma'ul haq penjenenganipun Kh. Jamhari Ghozali Anwar.
Kyai Jamhari dikala dapat mandat bai'at oleh guru sempat menolak sampai 3x. Akhirnya amanah disanggupi dengan permintaan:
1. Kyai jam sanggup bai'at bila gurunya sudah benar2 tidak mau mbai'at lagi.
2. Kema'rifatan dan Kemustajabahan ilmu murid2 dan penerus kyai jamhari bisa mencapai darojat sama dengan penjenenganipun syaik Rifa'i.
Akhirnya syaik Rifa'i berdo'a kyai jam mengamini. Seketika itu atap masjid seakan hilang tembus ke jagad raya bertabur bintang, dari timur terpancar cahaya putih memanjang memenuhi cakrawala, cahayanya melimputi ufuk timur dan barat. Subhanalloh.

Ada kisah lagi di tahun 90 an lalu seorang kyai jadab dari pasuruan jatim, beliau salah satu murid sayyidina khidir as. Mendapat mandat demi kesempurnaan ilmunya supaya ditutup dengan ilmu asma'ul haq disuruh berguru ke kyai jamhari ponorogo. Perjalanan berangkatnya harus mengikuti aturan umumnya, harus naik bus, ojek, mbayar administrasi dll. Sekembalinya terserah pake jalur yang ndak umum gpp sekejap langsng hilang dari pandangan. Subhanalloh. Disini jadi bukti bahwa sayyidina khidir memberi contoh yang benar babagan keilmuan dan peraturan bai'at asmaul haq. Padahal beliau sumber robithoh ilmu asmaul haq diatas syaik Rifa'i. Tapi beliau tidak mau bai'at sendiri sebab tahu siapa pemegang tongkat amanah bai'at yg haq berwenang.
Waktu sakitnya kyai jam sebelum wafat, pada hari jumat beliau bertanya pd pengurus yg kala itu mendampingi. "Hari ini ada bai'atan apa tdk?" dijawab "Tidak ada bai'at, panjenengan kan sakit." kyai sedih dan berkata"kenapa harus berhenti, teruskan saja, di pondok kan banyak yg bisa untuk mewakili saya, kan ada organisasi ada pengurusnya yang bisa mengaturnya. Jangan menunda juga menahan hidayah mereka yang mencari jalan kebenaran ilmu yang haq".
Disini jelas sekali kyai meridhohi dan mewakilkan babagan bai'at pada lingkungan pondok dan jajaran pengurus. Disitu lebih afdhol dan lebih dekat sumber ilmunya asmaul haq.
Tak dipungkiri waktu beliau kyai jam sugeng pernah ber amanah" besuk kalau sudah masanya, yang menggantikanku adalah putraku laki2 maksum singgih kusumo yudo, keilmuan kemakrifatan sudah kuajarkan semenjak masih dalam kandungan." Ta'zim dumateng kyai Jam.
wassalam .

KANJENG DJIMAT NGANJUK

Posted by MBAH GAMPIL On 22.42 | No comments
Joglo Masjid Yoni al-Mubarok Kanjeng Jimat Brebek Nganjuk



Masjid Al-Mobaroq di desa Berebek, dibangun pada tahun 1745 Waliulloh, kinerja Kanjeng Djimat, adalah juga penguasa pertama Nganjuk. Masjid Joglo ini dibangun oleh pelestarian budaya Hindunya nuansa Jawa yang lama. Apa jenis pendekatan untuk ornamen berbentuk kubah Kopiah Raja dengan agama Hindu.



Memadukan arsitektur Hindu dan Islam diperkuat dengan dekorasi di dinding setiap, khotbah-khotbah dari Ketua dan Bedug. Juga di pintu masjid bunga bentuk-bentuk yang berbentuk dikombinasikan dengan Batarakala.



Ini adalah budaya masyarakat saat ini untuk campuran, bahwa mayoritas Hindu dapat menerima keberadaan masjid joglo. Joglo ini mempunyai empat tiang penyangga utama / soko guru berbentuk lonjong, tidak persegi seperti pada rumah joglo pada umumnya.



Meskipun masjid al-Mubarok dilakukan pemugaran, akan tetapi tidak untuk mengganti bagian-bagian yang penting (bagian interior masjid masih asli). Dalam tinjauan arkeologi, Masjid yoni al-Mubarok ada 3 buah pintu, tetapi pintu yang asli yang di tengahnya berwarna putih. Ornamentasi pada masjid lainnya berbentuk tumpang, dengan tiga tingkatan yang mempunyai arti kurang lebih jika manusia mati meninggalkan tiga perkara yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah dan anak yang sholeh. Namun masyarakat mengenalnya dengan sebutan masjid wali.



Dinding Masjid berasal dari kayu jati asli yang di gunakan dalam pembangunan masjid berbeda dengan bahan yang dipakai oleh masjid modern. Masjid ini dibangun pada masa peralihan Islam. Pada dinding terdapat ventilasi yang juga bupati pertama Nganjuk. Dinding hanya berfungsi penutup bagian dari luar, bukan sebagai penyangga. Balok pada pintu terdapat ukiran lung-lingan berwarna putih perak dan dikedua sudut bagian atas dihias dengan bunga ceplok yang di susun dan diberi warna putih yang diatasnya terdapat pelipat berwarna merah sama dengan yang ada di candi, ini membuktikan adanya akulturasi dari kebudayaan hindu.
KH Hamim Djazuli (Gus Miek)

KH Hamim Djazuli atau akrab dengan panggilan Gus Miek lahir pada 17 Agustus 1940,beliau adalah putra KH. Jazuli Utsman (seorang ulama sufi dan ahli tarikat pendiri pon-pes Al Falah mojo Kediri),Gus Miek salah-satu tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan pejuang Islam yang masyhur di tanah Jawa dan memiliki ikatan darah kuat dengan berbagai tokoh Islam ternama, khususnya di Jawa Timur. Maka wajar, jika Gus Miek dikatakan pejuang agama yang tangguh dan memiliki kemampuan yang terkadang sulit dijangkau akal. Selain menjadi pejuang Islam yang gigih, dan pengikut hukum agama yang setia dan patuh, Gus Miek memiliki spritualitas atau derajat kerohanian yang memperkaya sikap, taat, dan patuh terhadap Tuhan. Namun, Gus Miek tidak melupakan kepentingan manusia atau intraksi sosial (hablum minallah wa hablum minannas). Hal itu dilakukan karena Gus Miek mempunyai hubungan dan pergaulan yang erat dengan (alm) KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Achmad Siddiq, serta melalui keterikatannya pada ritual ”dzikrul ghafilin” (pengingat mereka yang lupa). Gerakan-gerakan spritual Gus Miek inilah, telah menjadi budaya di kalangan Nahdliyin (sebutan untuk warga NU), seperti melakukan ziarah ke makam-makam para wali yang ada di Jawa maupun di luar Jawa.Hal terpenting lain untuk diketahui juga bahwa amalan Gus Miek sangatlah sederhana dalam praktiknya. Juga sangat sederhana dalam menjanjikan apa yang hendak didapat oleh para pengamalnya, yakni berkumpul dengan para wali dan orang-orang saleh, baik di dunia maupun akhirat.

ayah gus mik KH.Achmad djazuli Usman
Gus Miek seorang hafizh (penghapal) Al-Quran. Karena, bagi Gus Miek, Al-Quran adalah tempat mengadukan segala permasalahan hidupnya yang tidak bisa dimengerti orang lain. Dengan mendengarkan dan membaca Al-Quran, Gus Miek merasakan ketenangan dan tampak dirinya berdialog dengan Tuhan ,beliaupun membentuk sema’an alquran dan jama’ah Dzikrul Ghofilin.
gus miek selain dikenal sebagai seorang ulama besar juga dikenal sebagai orang yang nyeleneh beliau lebih menyukai da’wah di kerumunan orang yang melakukan maksiat seperti discotiq ,club malam dibandingkan dengan menjadi seorang kyai yang tinggal di pesantren yang mengajarkan santrinya kitab kuning. hampir tiap malam beliau menyusuri jalan-jalan di jawa timur keluar masuk club malam, bahkan nimbrung dengan tukang becak, penjual kopi di pinggiran jalan hanya untuk memberikan sedikit pencerahan kepada mereka yang sedang dalam kegelapan. Ajaran-ajaran beliau yang terkenal adalah suluk jalan terabas atau dalam bahasa indonesianya pemikiran jalan pintas.
Pernah di ceritakan Suatu ketika Gus Miek pergi ke discotiq dan disana bertemu dengan Pengunjung yang sedang asyik menenggak minuman keras, Gus Miek menghampiri mereka dan mengambil sebotol minuman keras lalu memasukkannya ke mulut Gus Miek salah satu dari mereka mengenali Gus Miek dan bertanya kepada Gus Miek.” Gus kenapa sampeyan ikut Minum bersama kami ? sampeyankan tahu ini minuman keras yang diharamkan oleh Agama ? lalu Gus Miek Menjawab “aku tidak meminumnya …..!! aku hanya membuang minuman itu kelaut…!hal ini membuat mereka bertanya-tanya, padahal sudah jelas tadi Gus Miek meminum minuman keras tersebut. Diliputi rasa keanehan ,Gus miek angkat bicara “sampeyan semua ga percaya kalo aku tidak meminumnya tapi membuangnya kelaut..? lalu Gus Miek Membuka lebar Mulutnya dan mereka semua terperanjat kaget didalam Mulut Gus miek terlihat Laut yang bergelombang dan ternyata benar minuman keras tersebut dibuang kelaut. Dan Saat itu juga mereka diberi Hidayah Oleh Alloh SWt untuk bertaubat dan meninggalkan minum-minuman keras yang dilarang oleh agama. Itulah salah salah satu Karomah kewaliyan yang diberikan Alloh kepada Gus Miek.
jika sedang jalan-jalan atau keluar, Gus Miek sering kali mengenakan celana jeans dan kaos oblong. Tidak lupa, beliau selalu mengenakan kaca mata hitam lantaran lantaran beliau sering menangis jika melihat seseorang yang “masa depannya” suram dan tak beruntung di akherat kelak.
Ketika beliau berda’wak di semarang tepatnya di NIAC di pelabuhan tanjung mas.Niac adalah surga perjudian bagi para cukong-cukong besar baik dari pribumi maupun keturunan ,Gus Miek yang masuk dengan segala kelebihannya mampu memenangi setiap permainan, sehingga para cukong-cukong itu mengalami kekalahan yang sangat besar. Niac pun yang semula menjadi surga perjudian menjadi neraka yang sangat menakutkan
Satu contoh lagi ketika Gus miek berjalan-jalan ke Surabaya, ketika tiba di sebuah club malam Gus miek masuk kedalam club yang di penuhi dengan perempuan-perempuan nakal, lalu gus miek langsung menuju watries (pelayan minuman) beliau menepuk pundak perempuan tersebut sambil meniupkan asap rokok tepat di wajahnya, perempuan itupun mundur tapi terus di kejar oleh Gus miek sambil tetap meniupkan asap rokok diwajah perempuan tersebut. Perempuan tersebut mundur hingga terbaring di kamar dengan penuh ketakutan, setelah kejadian tersebut perempuan itu tidak tampak lagi di club malam itu.
Pernah suatu ketika Gus Farid (anak KH.Ahamad Siddiq yang sering menemani Gus Miek) mengajukan pertanyaan yang sering mengganjal di hatinya, pertama bagaimana perasaan Gus Miek tentang Wanita ? “Aku setiap kali bertemu wanita walaupun secantik apapun dia dalam pandangan mataku yang terlihat hanya darah dan tulang saja jadi jalan untuk syahwat tidak ada”jawab Gus miek.
Pertanyaan kedua Gus Farid menayakan tentang kebiasaan Gus Miek memakai kaca mata hitam baik itu dijalan maupun saat bertemu dengan tamu…”Apabila aku bertemu orang dijalan atau tamu aku diberi pengetahuaan tentang perjalanan hidupnya sampai mati. Apabila aku bertemu dengan seseorang yang nasibnya buruk maka aku menangis, maka aku memakai kaca mata hitam agar orang tidak tahu bahwa aku sedang menagis “jawab Gus miek
Adanya sistem Da’wak yang dilakukan Gus miek tidak bisa di contoh begitu saja karena resikonya sangat berat bagi mereka yang Alim pun Sekaliber KH.Abdul Hamid (pasuruan) mengaku tidak sanggup melakukan da’wak seperti yang dilakukan oleh Gus Miek padahal Kh.Abdul Hamid juga seorang waliyalloh.
Tepat tanggal 5 juni 1993 Gus Miek menghembuskan napasnya yang terakhir di rumah sakit Budi mulya Surabaya (sekarang siloam). Kyai yang nyeleneh dan unik akhirnya meninggalkan dunia dan menuju kehidupan yang lebih abadi dan bertemu dengan Tuhannya yang selama ini beliau rindukan.

Abu Kafa Billah : KH. ABD. HAMID PASURUAN

Posted by MBAH GAMPIL On 22.26 | No comments
Salam dari malaikat Jibril (Kisah karomah Kyai Hamid Pasuruan)


Di dunia ini tidak sedikit orang yang beranggapan alam gaib itu tidaklah ada. Meski demikian, ada pula orang yang percaya, akan tetapi kepercayaan mereka cuma sekedar tahu saja, tidak ada pemantapan hingga seratus persen. Lain halnya dengan orang Islam yang memang benar-benar yakin dengan rukun iman yang nomor enam, yakni percaya kepada qodo’ dan qodar atau ketetapan-ketetapan Allah, baik yang buruk maupun yang baik. Memang sangat sulit sekali meyakini barang yang tidak ada wujudnya, tetapi kita sebagai umat Islam wajib hukumnya percaya seratus persen dengan adanya alam ghaib itu ada.
Dalam al-Qur’an dijelaskan:
“لا يعلم الغائب الا لل”"
Yang artinya: “Tidak ada yang mengetahui barang gaib kecuali Allah SWT”
Meskipun demikian, anda jangan terburu-buru dalam mengambil kesimpulan. Memang dalam ayat tersebut al-qur’an menjelaskan sedemikian rupa, akan tetapi para ulama ahli tafsir sepakat bahwa, ada orang-orang tertentu (kekasih Allah) di dunia ini yang memang di izini atau diberi tahu oleh Allah SWT dalam masalah kegaiban tersebut. Contohnya adalah cerita kiai Hamid.
Alkisah, dahulu ada santri yang bernama Ihsan, Ia adalah salah satu khadam (pembantu kiai) yang paling dekat dengan kiai Hamid. Bahkan setiap malam, Ihsan di suruh tidur di ruang tamu kiai Hamid.
Selain terkenal akan tawadhu’ dan kewaliannya. Kiai kelahiran kota Lasem tersebut juga terkenal akan keistiqomahan dalam ibadahnya. Setiap malam beliau tidak pernah meninggalkan qiyamu al-lail (shalat Tahajjud). Pada suatu malam tepatnya pukul 00.00 Istiwa’, setelah melakukan shalat Tahajjud kiai Hamid membangunkan Ihsan. “Ihsan…Ihsan… tangio nak!” ( Ihsan…Ihsan… bangunlah nak! ) begitulah cara halus kiai Hamid ketika membangunkan santrinya. Ihsan pun bangun, sambil mengucek-ucek matanya Ia berkata “Wonten nopo kiai?” (Ada apa kiai?) tanya Ihsan. “Awak mu sa’iki sembayango teros lek mari moco al-Fatihah ping 100, maringono lek wes mari awakmu metuo nang ngarepe gang pondok, delo’en onok opo nang kono.” (Sekarang kamu shalat, lalu sesudahnya kamu baca surat al-Fatihah sampai 100 kali, kalau sudah selesai kamu keluarlah ke gang pondok, lihatlah ada apa di sana.) Perintah kiai Hamid. “inggeh kiai” jawab singkat sang santri. Ia pun langsung pergi ke kamar mandi untuk berwudlu’.
Singkat cerita setelah Ihsan membaca surat al-Fatihah, ia lalu keluar dari gang pondok tepatnya di jalan Jawa, atau yang sekarang namanya berubah menjadi Jl. KH. Abdul Hamid. Pada waktu Ihsan keluar dari pondok, jarum jam kala itu menunjukkan tepat pukul 01.00 dini hari.
Nyanyian jangkrik senantiasa mengiri langkah kaki Ihsan. terangnya sinar rembulan menjadi penerang jalannya. Sesampainya di Jalan Jawa, Ihsan melihat ada mobil dari arah barat. Lalu mobil tersebut berhenti tepat di depannya. Kaca mobil tersebut terbuka, “Ihsan lapo bengi-bengi nang kene?” (Ihsan mau apa malam-malam kok di sini) begitulah suara yang keluar dari dalam mobil tersebut. Karena lampu dalam mobil tidak dihidupkan, Ihsan pun tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang berbicara dengannya. Ihsan pun masih tercengang dan kebingungan suara siapakah itu. Akhirnya pintu mobil itu pun terbuka dan yang keluar adalah Ibu Nyai Hj. Nafisah Ahmad, istri hiai Hamid. Ternyata yang ada di dalam mobil tersebut adalah rombongan Ibu Nyai Hj. Nafisah yang datang dari Jakarta. Ihsan masih belum menjawab pertanyaan yang tadi.
“Yo wes ketepaan lek ngono tolong gowokno barang-barange sing nang njero montor, mesisan ambek barange bojone Man Aqib.” (Ya sudah kebetulan, kalau begitu tolong bawakan barang-barang yang ada di dalam mobil, sekalian dengan barangnya istrinya Paman Aqib) perintah Ibu Nyai Nafisah. Tanpa pikir panjang Ihsan pun langsung menurunkan semua barang yang ada di dalam mobil.
Setelah semua barang sudah di bawa ke pondok, Ihsan lalu masuk ke dalam ndalem kiai Hamid. Tak lama kemudian kiai Hamid datang kepada Ihsan. “yok opo San? pas yo! Iku mau pas aku sembayang, malaikat Jibril teko nang aku nyampekno salam teko Allah. Ambek ngandani lek bojoku teko jam siji bengi. San, bener nang al-Qur’an dijelasno, lek gak ono sopo wae sing weroh ambek barang ghoib, yo contone koyok kejadian iku mau iku termasuk ghoib. Cuman Allah SWT iku ngidzini utowo ngewenehi weroh barang sing goib marang uwong sing dicintai ambek gusti Allah.” (Bagaimana San? Pas kan! Itu tadi waktu aku shalat, malaikat Jibril datang menyampaikan salam dari Allah, dan memberi tahu kalau istriku akan datang jam satu malam. San, benar di dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwasannya tidak ada siapa pun yang mengetahui tentang masalah gaib. Ya, contohnya kejadian tadi itu termasuk gaib. Cuma Allah SWT itu memberi idzin atau memberi tahu barang gaib kepada hamba yang dicintainya) jelas kiai Hamid. Setelah menjelaskan kejadian tersebut, kiai Hamid langsung masuk ke dalam. Sedangkan Ihsan masih tercengang dan merasa kagum kepada kiai Hamid.
Tidaklah ada kalimat yang pantas ketika kita melihat atau mendengar kejadian yang menakjubkan dari Allah SWT, malainkan kata “Subhanalloh…!” (zEn)
Sumber: KH. Ihsan Ponco Kusumo-Malang

MA AL KARIM GONDANG NGANJUK

Posted by MBAH GAMPIL On 17.46 | No comments
SEJARAH RADEN AYU NAWANGSIH DAN RADEN BAGUS RINANGKU DI DESA KANDANGMAS KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS
SEJARAH RADEN AYU NAWANGSIH DAN RADEN BAGUS RINANGKU DI DESA KANDANGMAS KECAMATAN DAWE KABUPATEN KUDUS
A. Latar Belakang Masalah
Dalam apa yang disebut Legenda Hutan Jati Masin, diceritakan betapa Sunan Muria mempunyai banyak murid, yang bukan hanya belajar ilmu agama, melainkan juga berkesenian dan olah kanuragan. Murid-muridnya datang ke Colo dari berbagai tempat seperti Tayu, Pati, dan Pandanaran yang kini disebut Semarang, dari daerah inilah datang berguru Raden Bagus Rinangku. Syahdan, karena sang pemuda tampan dan sakti, putrinya yang bernama Raden Ayu Nawangsih saling jatuh hati dengan pemuda tersebut. Adapun Sunan Muria ternyata tidak merestuinya, karena telah memilih Kyai Cebolek sebagai menantu. Sampai di sini, kita saksikan suatu manuver yang sering ditemukan dalam legenda Jawa: Sunan Muria menugaskan Bagus Rinangku untuk menumpas para perusuh, yang merampok dan membunuh di sekitar Muria, tentu maksudnya agar Bagus Rinangku perlaya di tangan mereka. Namun ternyata pemuda Pandanaran ini bukan hanya berhasil membasminya, melainkan juga membuat salah seorang di antaranya bertobat dan memperdalam ilmu agama. Kelak mantan perampok ini terkenal sebagai Kiai Mashudi.
Melihat dari sekulumit perjalanan di atas, maka penulis ingin memahami lebih dalam mengenai sejarah Raden Ayu Nawangsih dengan Raden Bagus Rinangku yang ada di Dukuh Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus.
B. Pembahasan
Sunan Muria adalah salah seorang anggota dari Walisongo yang menyebarkan agama Islam didaerah Kudus tepatnya di Desa Colo Kecamatan Dawe dan Colo juga dikenal dengan Lereng Gunung Muria. Sebagai seorang muballigh yang terkenal karena ilmu dan kesaktian yang dimiliki, maka beliau mempunyai banyak murid yang ingin berguru atau mencari ilmu (ngangsu kaweruh) kepada Sunan Muria.
Raden Bagus Rinangku adalah salah seorang dari murid Sunan Muria yang terkenal paling cerdas, cakap juga tampan rupanya, dan karena kelebihan yang dimiliki ini, Raden Ayu Nawangsih salah seorang putri Sunan Muria jatuh cinta kepada Raden Bagus Rinangku, bahkan mereka telah saling berjanji akan mengarungi hidup bersama meskipun halangan dan rintangan datang menghadang.
Sunan Muria mengetahui hal ini dan bermaksud untuk menggagalkan maksud dari dua muda-mudi yang sedang kasmaran ini, karena Sunan Muria telah berjanji pada seorang muridnya yang bernama Kyai Cebolek untuk menjodohkan Raden Ayu Nawangsih dengan dirinya. Untuk melaksanakan rencana ini, Sunan Muria menyiapkan berbagai tugas berat untuk Raden Bagus Rinangku dengan harapan dia gagal melaksanakan tugas itu dan mengurungkan niatnya untuk bersatu dengan Raden Ayu Nawangsih karena dia merasa malu kepada Sunan Muria.
Salah satu rencana dari Sunan Muria adalah dengan memerintah Raden Bagus Rinangku untuk membasmi geromblan pengacau atau perusuh yang sering merampok dan merampas harta penduduk, dan bila Raden Bagus Rinangku maka dialah justru yang menjadi korban keganasan perusuh dan matilah Raden Bagus Rinangku. Namun perkiraan Sunan Muria meleset karena Raden Bagus Rinangku berhasil melaksanakan perintah bahkan telah menyadarkan salah seorang anggota perusuh untuk bertobat.
Mengetahui rencananya gagal, Sunan Muria telah menyiapkan rencana yang lain. Tugas berat kedua yang diperintahkan Sunan Muria kepada Raden Bagus Rinangku adalah memerintahkan dia untuk menjaga burung (tunggu manuk) agar tidak memakan padi yang sudah menguning di sawah yang berada jauh dari Colo atau tepatnya di Dukuh Masin (sekarang Dukuh Masin masuk Desa Kandang Mas Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus).
Suatu hari Sunan Muria mengecek apakah Raden Bagus Rinangku telah melaksanakan tugasnya dengan baik, namun ternyata Raden Bagus Rinangku melalaikan tugasnya dengan membiarkan burung-burung bebas memakan padi yang sudah menguning dan yang lebih membuat Sunan Muria marah adalah karena Raden Bagus Rinangku tertangkap basah sedang memadu kasih dengan Raden Ayu Nawangsih.
Melihat hal ini Sunan Muria marah besar dan Raden Bagus Rinangku segera memohon maaf kepada Sunan Muria, dan berjanji sanggup mengembalikan padi-padi yang telah dimakan burung-burung tersebut pada keadaan semula. Dengan kesaktian dan ijin dari Tuhan, maka kembalilah padi-padi itu pada keadaan semula.
Sunan Muria semakin marah dengan apa yang dilakukan Raden Bagus Rinangku, karena telah memamerkan kesaktian yang dimilki kepada Gurunya. Karena merasa tersaingi, maka Sunan Muria menarik panahnya dan diarahkan ke Raden Bagus Rinangku dengan maksud untuk menakut-nakutinya, namun anak panah itu melesat dan menembus perut Raden Bagus Rinangku tembus sampai punggungnya, dan tewaslah Raden Bagus Rinangku.
Melihat kejadian ini, Raden Ayu Nawangsih menagis meraung-raung dan segera menubruk tubuh Raden Bagus Rinangku yang tertelungkup di tanah. Anak panah yang menembus punggung Raden Bagus Rinangku itu menembus pula perut Raden Ayu Nawangsih, dan tewaslah Raden Ayu Nawangsih di hadapan Ayahnya. Jenazah kedua muda-mudi ini pun dimakamkan diatas sebuah bukit di mana keduanya memadu kasih.
Kematian muda-mudi ini amat menggemparkan penduduk sekitar Masin. Para pelayat yang ikut mengantarkan jenazah kedua muda-mudi ini tertegun berdiri terpaku, keharuan mencekam mereka yang berduka ketika mendengarkan nasehat Sunan Muria. Setelah jenazah selesai dikuburkan, para pelayat masih meratapi nasib kedua muda-mudi itu, dan Sunan Muria berkata “ah bagaikan pohon jati saja engkau semua, berdiri terpaku tak bergerak dibukit”. Ketika itu pula semua pelayat berubah menjadi pohon jati. Hingga sekarang pohon jati itu masih ada dan pohon-pohon jati itu dikeramatkan oleh penduduk sekitar makam Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Nawangsih.
C. Analisis
Bentuk : Cerita Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Nawangsih disebarkan dari mulut ke mulut sehingga disebut sebagai cerita lisan atau dalam bahasa ilmiahnya disebut folklore lisan. Namun karena ada perhatian yang besar dari salah seorang penulis bernama Umar Hasim, maka cerita diatas telah ditulis dalam sebuah bab dalam buku yang berjudul “Sunan Muria” (Antara Fakta dan Legenda). Meskipun sudah ditulis dalam bentuk buku cerita diatas tetap merupakan folklore. James Danandjana menyatakan bahwa “Folklor tidak berhenti folklore apabila ia telah diterbitkan dalam bentuk cetakan atau rekaman (Danandjaja, 1986 : 5).
Fungsi : cerita diatas memiliki fungsi sebagai alat pendidikan, karena didalammya terdapat pesan moral yang sangat besar. Pertama, bahwa kita harus senantiasa menghormati guru kita, meskipun guru mempunyai maksud tersembunyi yang tidak ketahui terhadap keselamatan diri kita; Kedua, jangan sampai kita melanggar perintah guru karena guru merupakan orang tua kita kedua setelah orang tua kandung kita dirumah. Ketiga, bahwa kisah ini memiliki tendensi tertentu kepada Sunan Muria, dimana telah memojokkan Sunan Muria sebagai seorang pembunuh, padahal tidaklah mungkin seorang ulama besar bertindak demikian kecuali terpaksa, terbunuhnya Raden Bagus Rinangku adalah ketidaksengajaan karena Raden Bagus Rinangku telah berbuat dosa besar, yaitu berzina. Maksud ungkapan menjaga burung (Njaga manuk = bahasa jawa) itu adalah kelamin laki-laki, jadi Raden Bagus Rinangku diperintahkan untuk menjaga alat kelaminnya agar jangan sampai berbuat zina, namun Raden Bagus Rinangku telah lalai dan tertangkap basah oleh Sunan Muria sedang berbuat zina dengan Raden Ayu Nawangsih.
Sifat : cerita diatas juga bersifat mendidik, keagamaan dan sejarah. Bersifat mendidik karena cerita diatas membawa pesan moral kepada generasi muda sekarang yang cenderung hidup bebas tanpa memperhatikan nilai, norma dan etika dalam masyarakat, sehingga banyak terjadi kasus seks bebas dan hamil diluar nikah yang sungguh sangat memalukan dan mengerikan. Bersifat keagamaan, karena di sini membawa nama besar seorang Wali Songo yaitu Sunan Muria yang terkenal pandai dalam agama dan sakti mandra guna dan yang terpenting adalah bahwa adanya ajaran untuk dapat mengontrol diri dan nafsu melalui berbagai usaha mendekatkan diri kepada Tuhan YME, seorang pemuda yang taat kepada Tuhan YME akan menolak berzina sekalipun diajak oleh seorang wanita yang amat cantik, karena dia takut akan azab yang diberikan Tuhan YME. Bersifat sejarah karena cerita diatas telah menjadi bagian dari sejarah masyarakat desa Kandang Mas yang sangat menghormati Sunan Muria dan bersimpati bahkan empati kepada dua muda-mudi tersebut. Karena kesaktian yang dimiliki Sunan Muria, jadilah mereka (pelayat) pohon jati yang sampai sekarang masih dikeramatkan. Sampai sekarang juga dimakam Raden Bagus Rinangku dan Raden Ayu Nawangsih selalu saja ada pemuda atau pemudi yang datang untuk sekedar berziarah atau pun meminta berkah untuk mendapatkan jodoh.

KIsah Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel yang Meninggal Sembilan Kali

Sobat, bila ke Surabaya, mampirlah di kompleks Makam dan Masjid Sunan Ampel. Tempat ini banyak menyimpan sejarah Islam di tanah Jawa. Banyak kisah menarik di sini. Di antaranya kisah tentang Mbah Soleh, Murid Sunan Ampel. Kisah Mbah Soleh erat kaitannya dengan sembilan kuburan yang ada di sebelah timur Masjid Agung Sunan Ampel.

Bila Berziarah ke Makam Sunan Ampel, sungguh, jangan lupa, ziarahi juga makam Mbah Soleh.

Mbah Soleh, semasa hidupnya punya keistimewaan yang tak dipunyai lain-lain orang. Ia tukang sapu Masjid Ampel saat Sunan Ampel hidup. Kalau menyapu, bersih sekali. Orang yang sujud di masjid ini dan tak pakai sajadah merasa nyaman karena merasa bersih tanpa debu sama sekali.

Usia manusia, siapa yang tahu. Mbah Soleh wafat. Ia dikubur di depan masjid.

Kematiannya sangat ditangisi. Ia meninggalkan warisan amat penting: kerja adalah ibadah. Bila pekerjaan dilakukan dengan iklas, hasilnya memuaskan. Begitulah Mbah Soleh. Tak ada seorang pun yang sanggup menyamai hasil kerjanya. Semakin lama, masjid yang dulunya bersih terasa semakin kumuh dan kumuh. Sunan Ampel sangat prihatin. Sunan Ampel pun berkata," Bila Mbah Soleh masih hidup, pasti masjid ini selalu bersih."

Tiba-tiba yang hadir dikejutkan sosok Mbah Soleh kembali menyapu di dekat tempat Imam biasa memimpin salat. Wow, Mbah Soleh kembali hidup. Masjid pun kembali bersih.

Tapi lagi-lagi, Allah mencabut nyawa Mbah Soleh. Lantas Mbah Soleh pun dikubur di samping kuburannya dulu.

Sepeninggal Mbah Soleh, masjid kembali kotor. Sunan Ampel pun bicara seperti dulu: "Seandainya Mbah Soleh masih ada..."

Ajaib, Mbah Soleh kembali hidup dan bersih-bersih. Masjid kembali tak ditempeli debu. Dan, Mbah Soleh, sekali lagi meninggal dan dikubur di dekat kuburan yang pernah menguburnya. Masjid kotor kembali. Sunan Ampel kembali prihatin dan berucap bila Mbah Saleh hidup. Ya ampun, Mbah Saleh hidup kembali.

Peristiwa itu berulang terus sampai delapan kali. Berarti Mbah Soleh hidup lagi kali ke-delapan. Nah, pada kehidupan Mbah Soleh yang ini, Sunan Ampel wafat. Setelah Sunan Ampel wafat, Mbah Soleh menyusulnya, dan ia dikuburkan di dekat kuburannya dulu. Jadi, total kuburan Mbah Soleh ada sembilan. Kuburan terakhir di ujung paling Timur.

Jelawang, Towelo, Sigelap
Dalam legenda berikut ini, nama Sunan Muria terhubungkan dengan nama-nama tempat, seperti Jelawang, Towelo, dan Sige-lap, maupun dengan sebuah pintu gerbang di Rondole, Desa Muktiharjo, 15 kilometer di sebelah utara Pati, yang dipercaya berasal dari Trowulan, Majapahit.
Alkisah, Kebo Anabrang datang menghadap Sunan Muria dan mengaku sebagai anaknya. Sunan Muria tidak merasa mempunyai anak seperti Kebo Anabrang, tetapi pemuda itu mempunyai bukti yang diberikan ibunya. Menghadapi keadaan itu, Sunan Muria memerintahkan agar Kebo Anabrang mengambil pintu gerbang Majapahit dan membawanya ke Muria dalam semalam sebagai syarat pengakuan. Diceritakan betapa Kebo Anabrang nyaris berhasil, jika tidak dicegat oleh Raden Ronggo, putra Adipati Ronggojoyo dari Pati, yang tugasnya ternyata sama. Bedanya, tugas itu sebagai syarat pernikahannya dengan Roro Pujiwati, adik Roroyono tadi, artinya putri Ki Ageng Ngerang juga, yang ternyata selalu menyayembarakan anak-anak perempuannya.
Ronggo berangkat dengan semangat, apa daya di tengah jalan dilihatnya Kebo Anabrang sudah membawa pintu gerbang itu, dan sedang kebingungan karena ganjalnya jatuh entah di mana. Nah, ganjal pintu yang disebut ganjel lawang itu ternyata jatuh di tempat yang sekarang disebut Jelawang. Begitulah, berlangsung adu kesaktian nan seru antara Ronggo dan Anabrang memperebutkan pintu itu, sehingga terpaksa dipisahkan oleh Sunan Muria sendiri, yang mampu menyaksikan adu kesaktian (yang berbumbu gaib tentunya) secara kasatmata, yang dalam bahasa Jawa disebut ceto welo-welo, sehingga tempat pertarungan itu sekarang disebut Towelo.
Sunan Muria berujar, siapa yang mampu mengangkat pintu itu berhak membawanya. Ternyata Ronggo tidak kuat, jadi ia diberi palangnya saja dan dipersilakan balik ke Juwana. Namun karena hanya membawa palang saja, tentu ia tidak boleh mengawini Pujiwati, dan karena marah Ronggo mengayunkan palang itu ke kepala Pujiwati – saat itulah terdengar guntur dan Pujiwati pun raib.
Guntur dalam bahasa Jawa disebut gelap, maka tempat itu sekarang disebut Sigelap, begitu pula dengan jembatan yang ada di sana. Peristiwa itu konon terjadi tanggal 5 Sya’ban. Kini setiap tanggal 15 Sya’ban ketika bulan purnama, masih suka terlihat pasangan muda datang ke tempat yang terletak satu kilometer dari Juwana itu, seperti mau meminta berkah.
Tentang Anabrang, ia juga gagal, karena baru mau berangkat, ternyata ayam jantan sudah berkokok – artinya ia terlambat. Maka Sunan Muria menugaskan Kebo Anabrang yang merindukan seorang ayah agar menjaga pintu tersebut, sampai akhir hayatnya.
Cerita ini mempunyai versi kedua, bahwa Raden Ronggo itu putra Sunan Muria yang mau mengawini bibinya, yakni Pujiwati tersebut, adik Roroyono yang telah jadi istri Sunan Muria. Mungkin ini putra dari istri lain. Seperti biasa, untuk menggagalkannya ia diberi tugas berat oleh Sunan Muria, yakni mengambil pintu yang sama. Namun rupanya Kebo Anabrang, murid Sunan Muria sendiri, telah membawa pintu tersebut, dan dalam perebutan, Ronggo hanya mendapat palang – yang seperti versi sebelumnya, dipukulkan pula ke kepala Pujiwati, dengan alasan “saking cintanya” yang tentu tak bisa diterima sang empunya cerita, sehingga diraibkanlah Pujiwati dan lahirlah legenda.

Kanjeng Sunan Muria

Nama aslinya adalah Raden Umar Said. Beliau adalah putra Sunan
Kalijaga. Sunan Muria adalah penyokong kerajaan Demak dan ikut pula
mendirikan Masjid Demak.
Beliau lebih suka berdakwah dan bergaul dengan rakyat jelata. Daerah
operasinya adalah desa-desa yang jauh dari keramaian kota. Caranya berdakwah
ialah dengan memberikan ceramah atau kursus-kursus kepada para pedagang,
nelayan, pelaut, dan rakyat jelata.
Beliau mempertahankan gamelan sebagai satu-satunya kesenian Jawa
yang dapat dipergunakan sebagai media dakwah paling ampuh pada masa itu.
Beliau pula yang menciptakan gending Sinom dan Kinanti.
Salah satu cerita tentang Sunan Muria adalah sebagai berikut:
Ki Ageng Ngerang adalah seorang ulama yang sangat dihormati. Dia
adalah salah seorang guru. Sunan Muria dan Sunan Kudus juga terhitung murid
Ki Ageng Ngerang.
Pada suatu hari Ki Ageng Ngerang mengadakan syukuran atas usia
putrinya bernama Dewi Roroyono yang genap dua puluh tahun.
Pada acara syukuran itu datang juga murid-murid Ki Ageng Ngerang
lainnya yaitu Adipati Pathak Warak dari Jepara, Kapa dan adiknya, Gentiri.
Tak terkecuali Sunan Muria dan Sunan Kudus.
Malam itu Dewi Roroyono dan adiknya Dewi Roro Pujiwati berdandan
cantik sekali sehingga Adipati Pethak Warak yang terkenal brangasan
terpesona dan tergila-gila.
Karena dibakar nafsu yang menggelora sang Adipati lupa daratan, dia
berkata tidak senonoh dan mencolek-colek Dewi Roroyono, sehingga gadis
cantik itu merasa malu dan minuman yang dibawa di atas temanpan ditumpahkan.
Percikan air itu mengenai pakaian Adipati Pethak Warak sehingga laki-laki
itu wajahnya merah padam karena ditertawakan banyak orang.
Malam telah larut, semua tamu dari dekat telah pulang. Hanya tamu
dari jauh yang menginap di rumah Ki Ageng Ngerang. Semua tamu sudah tertidur
tapi ketika istri Ki Ageng Ngerang menengok kamar Dewi Roroyono, gadis itu
tidak ada alias lenyap. Setelah diusut-usut tahulah Ki Ageng Ngerang bahwa
yang menculik anaknya adalah Adipati Pethak Warak. Dewi Roroyono dibawa ke
Mandalika oleh Adipati brangasan itu.
Malam itu juga Ki Ageng Ngerang mengadakan sayembara, siapa yang
dapat mengambil anaknya dari Adipati Pethak Warak akan dijodohkan dengan
putrinya itu. Semua tamu tak ada yang unjuk jari, akhirnya Sunan Muria yang
menyatakan sanggup mencari dan mengambil Dewi Roroyono.
Dalam perjalanan ke Mandalika Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan
Gentiri. Kapa dan Gentiri adalah murid Ki Ageng Ngerang yang termuda. Mereka
menganggap Sunan Muria sebagai kakak seperguruan yang pantas dihormati dan
ditolong. Lalu terjadilah pembicaraan. Kapa dan Gentiri ingin menolong Sunan
Muria merebut Dewi Roroyono dari tangan Adipati Pethak Warak. Bila nanti
berhasil Sunan Murialah yang akan memperistri Dewi Roroyono.
Dalam memperebutkan Dewi Roroyono dari tangan Adipati Pethak Warak,
Kapa dan Gentiri mendapat bantuan dari seorang Wiku di Pulau Seprapat. Maka
berhasillah Kapa dan Gentiri merebut putri Ki Ageng Ngerang.
Dewi Roroyono jadi diperistri oleh Sunan Muria. Untuk menghargai
jasa Kapa dan Gentiri, keduanya diberi hadiah tanah Buntar. Keduanya berhak
menguasai daerah itu. Namun pada suatu hari Kapa dan Gentiri mempunyai
maksud jahat. Kapa bermaksud merebut Dewi Roroyono dari Sunan Muria.
Sesungguhnya secara diam-diam Kapa telah tertarik dan jatuh hati kepada Dewi
Roroyono. Cinta membuatnya gelap mata, tak ingat lagi bahwa Sunan Muria
adalah kakak seperguruan yang harus dijunjung tinggi.
Mula-mula Gentiri nekad datang ke Padepokan Muria. Dia bermaksud
menculik Dewi Roroyono, namun sayang sekali dia kepergok murid Sunan Muria
dalam perkelahian seru akhirnya Gentiri menemui ajalnya.
Mendengar kabar kematian adiknya, Kapa terus menyusul ke Muria.
Kebetulan saat itu Sunan Muria dan muridnya yang tertua sedang berdakwah di
lain desa. Kapa berhasil melukai murid-murid Sunan Muria yang muda dan
membawa lari Dewi Roroyono ke Pulau Seprapat.
Di Pulau Seprapat ternyata Kapa mendapat teguran keras dari Wiku
Lodhang Datuk yaitu gurunya sendiri. Sang Wiku tidak setuju atas perbuatan
Kapa menculik istri orang. Namun Kapa tidak mengindahkan peringatan gurunya,
malah dicaci makinya guru yang seharusnya dihormati itu.
Pada saat terjadi perdebatan itu datanglah murid Sunan Muria yang
tertua. Wiku Lodhang Datuk hanya diam saja ketika murid Sunan Muria
bertempur dengan Kapa untuk merebut Dewi Roroyono. Akhirnya Kapa tewas di
tangan murid Sunan Muria. Dewi Roroyono kemudian dibawa pulang ke Padepokan
Muria. Sedang Wiku Lodhang Datuk menguburkan jenazah muridnya sembari
bergumam penuh sesal, "Kapa, Kapa,... mengapa kau menjadi maling istri
orang. Sungguh menyesal aku mempunyai murid seperti kamu."

MAKAM BATU AMPAR MADURA

Posted by MBAH GAMPIL On 16.52 | No comments
KISAH BUJU’ BATU AMPAR, MADURA

Sejarah singkat Pesarean Buju’ Batu Ampar
Inilah kisah yang meluruskan tentang animo masyarakat akan kebenaran silsilah keturunan Auliya’ / Pemuka agama dilingkungan Buju’ Batu ampar. Semata-mata untuk mengembalikan kesadaran kita tentang nilai kebesaran Allah SWT. Seperti yang terdapat di Pesarean Buju’ Batu ampar ini adalah kekasih-kekasih Allah yang telah mendapatkan karomah atas kemurahan rahmat dan hidayah-NYA. Kisah ini semoga menjadi teladan serta penuntun bagi kaum muslimin dan muslimat dalam sebuah perjalanan menuju cita-cita mulia, guna menjadi INSAN KAMIL yang memegang teguh, menjaga serta memelihara kemurnian islam hingga hari yang dijanjikan ( kiamat ). Wallahu a’lam Bisshawab. KH.Ach.Fauzy Damanhuri.

Silsilah Auliya’ Batu Ampar, Madura

§ Sayyid Husein, berputra :

a. Syekh Abdul Manan / Buju’ Kosambi
b. Syekh Abdul Rohim / Buju’ Bire

§ Syekh Abdul manan / Buju’ Kosambi, berputra…

§ Syekh Basyaniah / Buju’ Tumpeng, berputra…

§ Syekh Abu Syamsudin ( Su’adi ) / Buju’ Latthong, berputra 3 :
a. Syekh Husein, berputra : ( ket. Dibawah )
b. Syekh Lukman berputra : Syekh Muhammad Yasin
c. Syekh Syamsudin, berputra : Syekh Buddih

§ Syekh Husein, berputra…

§ Syekh Muhammad Ramly, berputra..

§ KH. Damanhuri, berputra / putri 10 :

1. KH. Amar Fadli
2. KH. Mukhlis
3. KH. Romli
4. KH. Mahalli
5. KH. Kholil
6. KH. Abdul Qodir
7. KH.Ach. Fauzy Damanhuri
8. KH. Ainul Yaqin
9. Nyai Hasanah
10. Nyai Zubaidah

Sayyid Husein

Disuatu desa diwilayah Bangkalan, tersebutlah seorang pemuka agama Islam yang bernama Sayyid Husein. Beliau mempunyai banyak pengikut karena ketinggian ilmu Agamanya. Selain akhlaknya yang berbudi luhur, beliau juga memiliki banyak karomah karena kedekatannya dengan sang Kholiq.Beliau sangat dihormati pengikutnya dan semua penduduk disekitar bangkalan.Namun bukan berarti beliau lepas dari orang yang membencinya. Disebabkan karena mereka iri dengan kedudukan beliau dimata masyarakat saat itu.Hingga suatu hari ada seseorang penduduk yang iri dengki dan berniat buruk mencelakai dan menghancurkan kedudukan Sayyid Husein. Orang itu merekayasa cerita fitnah, bahwa Sayyid Husein bersama pengikutnya telah merencanakan pemberontakan dan ingin menggulingkan kekuasaan raja Madura. Alhasil cerita fitnah ini sampai ditelinga sang Raja. Mendengar kabar itu Raja kalang-kabut dan tanpa pikir panjang mengutus panglima perang bersama pasukan untuk menuju kediaman Sayyid Husein.Sayyid Husein yang saat itu sedang beristirahat langsung dikepung dan dibunuh secara kejam oleh prajurit kerajaan.Mereka melakukan hal itu tanpa pikir panjang dan disertai bukti yang kuat. Akhirnya Sayyid Husein yang tidak bersalah itu wafat seketika itu juga dan konon jenazahnya dikebumikan diperkampungan tersebut.

Selang beberapa hari dari wafatnya Sayyid Husein, Raja mendapat berita yang mengejutkan dan sungguh mengecewakan, serta menyesali keputusannya yang sama sekali tidak didasari bukti-bukti yang kuat. Berita tadi mengabarkan bahwa sebenarnya Sayyid Husein tidak bersalah, karena sesungguhnya beliau telah difitnah.Karena sangat menyesali perbuatannya, Raja Bangkalan memberikan gelar kepada beliau dengan sebutan Buju’ Banyu Sangkah ( Buyut Banyu Sangkah ). Dan tempat peristirahatan beliau terletak dikawasan Tanjung Bumi, Bangkalan.

Sayyid Husein wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Yang pertama bernama Abdul Manan dan yang kedua bernama Abdul Rohiim. Kedua putra beliau ini sepakat untuk pergi menghindari keadaan dikampung tersebut. Syekh Abdul Rohim lari menuju Desa Bire ( Kabupaten Bangkalan ), dan menetap disana sampai akhir hayat beliau. Dan akhirnya beliau terkenal sebagai Buju’ Bire ( Buyut Bire ).
Wallahu a’lam

Syekh Abdul Manan ( Buju’ Kosambi )

Lain halnya dengan Syekh Abdul Manan. Beliau pergi mengasingkan diri dan menjauh dari kekuasaan Raja Bangkalan. Hari demi hari dilaluinya dengan sengsara dan penuh penderitaan. Beliau sangat terpukul sekali kehilangan orang yang sangat dikasihinya.Hingga akhirnya beliau sampai disebuah hutan lebat ditengah perbukitan diwilayah Batu ampar ( Kabupaten Pamekasan ). Dihutan inilah akhirnya beliau bertapa / bertirakat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.Dalam melaksanakan hajatnya beliau memilih tempat dibawah Pohon Kosambi. Syahdan tapa beliau ini berlangsung selama 41 tahun. Saat memulai tapa itu beliau berumur 21 tahun. Hingga akhirnya beliau ditemukan anak seorang penduduk desa ( Wanita ) yang sedang mencari kayu dihutan.

Singkat cerita akhirnya Syekh abdul Manan dibawa kerumahnya. Dari hubungan tersebut, timbullah kesepakan antara orang tua si anak tersebut untuk menjodohkan Syekh abdul Manan dengan salah seorang putrinya. Sebagai tanda terima kasih, beliau memilih si sulung sebagai istrinya, walaupun dalam kenyataannya sisulung menderita penyakit kulit. Anehnya terjadi keajaiban di hari ke 41 pernikahan mereka.Saat itu juga sang istri yang semula menderita penyakit kulit tiba-tiba sembuh seketika. Dan bukan hanya itu kulitnya bertambah putih bersih dan cantik jelita, sampai-sampai kecantikannya tersiar kemana-mana.Dan konon kabarnya pula bahwa Raja Sumenep mengagumi dan tertarik akan kecantikan istri Syekh Abdul manan ini.

Dari pernikahan ini, beliau dikarunia seorang putra yang bernama Taqihul Muqadam, setelah itu menyusul pula puta kedua yang diberi nama Basyaniah. Setelah bertahun-tahun menjalankan tugasnya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan dua orang putra. Jenazahnya dimaqamkan di Batu Ampar dan terkenal dengan julukan Buju’ Kosambi. Dan putra pertama beliau juga saat wafat jenazahnya dikebumikan didekat pusaranya. Wallahu a’lam

Syekh Basyaniah ( Buju’ Tumpeng )

Putra kedua Syekh Abdul manan yang bernama Basyaniah inilah yang mengikuti jejak ayahanda. Beliau senang bertapa dan cenderung menjauhkan diri dari pergaulan dengan masyarakat. Dan beliau juga selalu menutupi karomahnya.Ketertutupan beliau ini semata-mata bertujuan untuk menjaga keturunannya kelak dikemudian hari agar menjadi insan kamil atau manusia sempurna dan sholeh melebihi diri beliau serta menjadi khalifah yang arif dimuka bumi.

Dalam menjalani hajatnya beliau bertapa dan memilih tempat disuatu perbukitan yang terkenal dengan nama Gunung Tompeng yakni suatu bukit sepi dan sunyi yang penuh dengan tanda-tanda kebesaran Illahi. Bukit tersebut terletak kurang lebih 500 m arah barat daya ( antara Barat-Selatan ) dari Desa batu Ampar.

Saat wafatnya beliau meninggalkan seorang putra yang bernama Su’adi atau terkenal dengan sebutan Syekh Abu Syamsudin dan mendapat julukan Buju’ Latthong. Sedang jenazah Syekh Basyaniah dikebumikan berdekatan dengan pusara Ayahanda. Beliau akhirnya mendapat julukan Buju’ Tumpeng. Wallahu a’lam

Syekh Abu Syamsudin ( Buju’ Latthong )

Kisah hidup putra tunggal Syekh Basyaniah ini tidak berbeda dengan perjalanan hidup yang pernah ditempuh oleh ayahanda dan buyutnya yakni gemar bertapa dan selalu menyendiri bertirakat serta selalu berpindah-pindah dalam melakukan tapanya.Misalnya salah satu tempat pertapaanya yang ditemukan didekat kampung Aeng Nyono’. Wilayah tempat tersebut ada ditengah hutan yang lebat. Karena seringnya tempat tersebut dipergunakan sebagai lokasi tirakat / bertapa, oleh penduduk setempat dinamakan Kampung Pertapaan.

Begitu juga bukit yang ada dikampung Aeng Nyono’ yang menjadi tempat bertapanya Syekh Syamsudin. Disana terdapat sebuah kebesaran Allah yang diperlihatkan kepada manusia sampai sekarang. Tepat disebelah barat tempat beliau bertapa terdapat sumber mata air yang mengalir ke atas Bukit Pertapaan. Konon Syekh Syamsudin mencelupkan tongkatnya sampai akhirnya mengalir ke atas bukit hingga kini. Masya Allah…sungguh merupakan karunia yang besar dan jauh diluar akal manusia. Atas dasar keajaiban itulah yang menjadi asal-usul nama kampung Aeng Nyono’ ( Bahasa Madura ) artinya air yang menyelinap/mengalir ke atas. Dan konon dengan air inilah beliau berwudhu dan bersuci.

Asal usul sebutan Buju’ Latthong

§ Keramat itu muncul karena disebabkan keluarnya sinar dari dada beliau. Apabila sinar itu dilihat oleh orang yang berdosa dan belum bertaubat, maka orang tersebut akan pingsan atau tewas.

§ Kisah lain menceritakan karena seorang yang berjuluk Buju’ Sarabe yang bertabiat buruk berniat menghabisi beliau. Banyak penduduk desa yang dibunuhnya. Tetapi ketika akan menghabisi Syekh Syamsudin, ketika Buju’ Sarabe dan anak buahnya mencabut senjata, mendadak senjata itu lenyap dan tinggal warangkannya.Setelah mengaku kalah dan memohon agar senjatanya dikembalikan, Syekh Syamsudin menunjukkan letak senjata tersebut yang berada dalam Latthong ( Bahasa madura yang berarti kotoran sapi ).

Sebab itulah karena khawatir tentang hal itu, maka beliau menutupi dadanya dengan cara mengoleskan Latthong disekitar dada beliau. Banyak sekali kisah kekeramatan beliau. Setelah cukup menjalani darma baktinya sebagai Khalifah, akhirnya beliau wafat dengan meninggalkan tiga orang putra. Dan dikebumikan di Batu ampar, madura. Wallahu a’lam

Syekh Husein

Sepeerti halnya pendahulunya, syekh Husein inipun senang menjalani laku tirakat. Selain itu beliau ini terkenal akan kecerdasan pikirannya. Beliau hapal Kitab Ihya Ulumuddin Imam Ghozaly. Bahkan hapalannya sedemikian akurat sampai titik dan baris dikitab itu beliau mengetahuinya. Masa bertapa Syekh Husein ini tidaklah selama pendahulunya. Disebabkan perobahan zaman, maka tempat tinggal dan daerah sekitar telah menjadi ramai oleh pendatang. Beliau banyak bergaul dan menjadi pemuka masyarakat dan tokoh agama yang disegani. Dan beliau adalah keturunan terakhir dari Sayyid Husein yang mempunyai kegemaran bertapa dan menjalankan laku tirakat. Keturunan sesudahnya cenderung untuk merantau dan mencari guru untuk menuntut ilmu. Wallahu a’lam

Syekh Muhammad Ramly

Putera tunggal Syekh Husein ini sejak kecil senang sekali menuntut ilmu. Hingga menjelang dewasannya beliau pergi menuntut ilmu dan menuju Kabupaten bangkalan. Disana beliau berguru dan menuntut ilmu kepada seorang Waliyullah yang bernama Syaikhona Kholil, Bangkalan. Setelah cukup menimba ilmu dengan sang Waliyullah, beliau menuju ke Saudi Arabia. Dan menetap disana selama 10 tahun.

Setelah cukup 10 tahun, akhirnya beliau kembali dan menetap ditanah asal, batu ampar. Beliau menjadi panutan masyarakat dalam kehidupan beragama. Setelah berkeluarga, beliau dikaruniai seorang putra yang diberi nama Damanhuri. Sayang sekali kehidupan beliau sangat singkat. Saat puteranya masih membutuhkan kaih sayangnya, beliau akhirnya wafat dan dimaqamkan dipesarean Batu ampar. Wallahu a’lam

Syekh Damanhuri

Semasa hidupnya Syekh Damanhuri tidak banyak mendapatkan belaian kasih sayang dari Ayahandanya. Hingga akhirnya beliau di asuh sendiri oleh sang kakek ( Syekh Husein ).Beliau mendapatkan bimbingan dan tuntunan beragama secara langsung dari Syekh Husein. Akhirnya setelah cukup umur, beliau pergi menuntut ilmu ditempat Ayahandanya dahulu belajar. Yaitu ditempat Syaikhona Kholil, Bangkalan.

Singkat cerita setelah cukup menimba ilmu di pesantren Syaikhona Kholil, beliau akhirnya kembali ke kampung halaman.Seperti halnya para pendahulu, beliaupun menjadi Tokoh masyarakat di batu Ampar. Syekh Damanhuri mempunyai 2 orang istri. Dari istri pertamanya dikaruniai 2 orang anak ( KH.Umar Fadli dan Nyai Hasanah ) dan bersama istri yang kedua dikaruniai 8 orang putra/putri ( KH.Romli, KH.Mahalli, KH.Ach.Fauzy, KH.Mukhlis, Nyai Zubaidah, KH.Kholil, KH. Abdul Qodir dan KH.’Ainul Yaqin )

Dan diantara putranya yang masih ada itulah, yang menjadi generasi penerusnya. Sebagai panutan dan pembimbing serta kholifah dimuka bumi ini demi terpeliharanya kesucian dan kemurnian Islam untuk masa yang kita tidak ketahui batasnya.

Demikianlah sekilas kisah Para Buju’ Batu Ampar. Semoga kisah ini bermanfaat bagi pembaca dan pewaris Ilmu-ilmu Raje. Jadikanlah beliau diatas sebagai teladan dan hikmah. Wallahu a’lam. Wassalamu’alaikum, wr.wb. Jazakumullah bi ahsanal jaza.
Wisata Religi Makam KH Ali Mas’ud Pagerwojo

- Setiap Kamis malam Jum’at, di kampung Pagerwojo, Kec. Buduran, dipastikan ratusan bahkan ribuan kaum muslimin, berjubel bergantian mengunjungi makam ulama kharismatik KH Ali Mas’ud atau biasa di sebut juga Mbah Ud.

Ziarah ke makam Ulama Mbah Ud
Di sekitar makam yang dikelilingi dinding papan berhias ukiran Jepara di bawah sebuah joglo ini, akan dijumpai orang-orang yang bersimpuh membaca Alquran dan berdoa ngalab berkah di makam Ulama ini.

Hampir semua warga Sidoarjo terutama generasi tua mengenal kisah Mbah Ud.

Beliau dinilai sebagai kiai yang mempunyai karomah, bahkan lazim masyarakat menganggapnya sebagai seorang waliyullah.

Makam Mbah Ud yang meninggal tahun 1979 dalam usia 46 tahun ini, termasuk salah satu makam yang dikeramatkan.

Orang berziarah untuk mengenang kealimannya dan tidak sedikit yang berdoa di makam itu untuk ngalab berkah.

“Beliau dikenal memiliki kharomah meskipun secara fisik Badannya kecil ngiyeyet, ,” ungkap Amir (77), penjaga makam dan masjid KH Ali Mas’ud.

Di masyarakat Pagerwojo sudah umum beredar kisah-kisah tuah Mbah Ud yang diceritakan tutur tinular.

Salah satu kisahnya seperti ketika diundang pejabat pemerintah dalam sebuah acara Mbah Ud tidak mau dijemput naik mobil.

Dia berangkat sendiri naik becak yang ternyata datang lebih awal dari mobil jemputannya.

Makamnya di RT 26 RW 6 Desa Pagerwojo, Kecamatan Buduran itu menjadi tempat ziarah banyak pelaku usaha dan politikus yang mengharapkan kesuksesan.

“Dulu pernah ada orang, sepertinya pengusaha dari Kalimantan. Begitu mendarat di Juanda langsung ke sini. Tujuannya, cuma ambil tanah makamnya Mbah Ud buat dibawa pulang,” cerita Amir.

Makam Mbah Ud sendiri memang gampang dicari. Dari Surabaya, traffic light pertama selepas jalan layang Jenggolo Kota Sidoarjo langsung belok ke kanan masuk Jl Raya Pagerwojo, persis di sebelah utara Sungai Pucang.

Kemudian lurus mengikuti jalan itu sampai bertemu lagi traffic light. Di sekitar traffic light itu ada papan penunjuk ke makam Mbah ‘Ud yang mengarahkan untuk berbelok ke kanan masuk jalan kampung yang lebarnya cuma sekitar 4-5 meter tapi beraspal mulus

MBAH SUNAN GESENG

Posted by MBAH GAMPIL On 16.21 | No comments

Murid Setia Sunan Kalijaga

NAMA asalnya adalah Raden Mas Cokrojoyo atau ‘Pangeran Bunnabrang’. Ketika masih kecil hingga dewasa, Ki Cokrojoyo dikenal sebagai tukang peras air nira kelapa yang kemudian diolahnya menjadi gula. Anehnya, sebelum memanjat pohon nira, ia selalu menembangkan lagu ‘Kelontang-kelantung, wong nderes buntute bumbung, apa gelem apa ora?’ (Kelontang-kelantung, orang tukang peras, ekornya bumbung/bambu, apa mahu apa tidak?). Lagu ini kononnya sebagai ‘jampi’ untuk mendapatkan nira yang lebih banyak. Memeras air nira dilakukan oleh Ki Cokrojoyo kerana latar belakang keluarganya yang miskin. Dia tinggal di tengah hutan, di kampung Bedhug, Tanah Bagelen (sekarang telah menjadi daerah Bagelen, wilayah Purworejo), berada di bantaran aliran Sungai Watukura/Bagawanta. Dikatakan kerana miskinnya, dia juga dipanggil “Ki Petungmelarat”. Meskipun demikian, orang mengenalnya sebagai seorang yang kuat bertarikat hingga menjadi luhur budinya dan “sakti” ilmunya. Kerananya, Ki Cokrojoyo di-”tua”-kan di wilayahnya. Dalam paparan buku Sunan Geseng: Mubaligh Tanah Bagelen karya Radix Penadi disebutkan bahawa ketika suatu hari Ki Cokrojoyo akan memanjat pohon nira dan siap dengan jampi-jampinya, datanglah seorang yang perwatakannya kelihatan alim menghampirinya. “Kenapa setiap kali kau memanjat batang nira selalu mengucapkan kalimat tadi?”
“Itulah ‘jampi’ agar hasilnya melimpah,” jawab Ki Cokrojoyo. “Ah, tapi yang kau ucapkan itu salah dan kurang tepat”. “Salah dan kurang tepat? Tuan rupanya belum kenal aku. Akulah Ki Cokrojoyo, tukang ambil air nira yang aku lakukan sejak kecil. Itu merupakan ilmu warisan keturunanku dan jampi-jampi itupun bukan sembarang jampi!” “Betul kata-katamu. Tapi aku ada jampi yang lebih unggul, yang akan boleh menghasilkan lebih banyak dari jampimu itu,” kata lelaki alim tersebut dengan penuh yakin. “Buktikanlah!” pinta Cokrojoyo. “Baiklah, izinkanlah aku melihat caramu mengolah air nira itu.” Ki Cokrojoyo lalu mengajak lelaki tadi ke rumahnya dan mengajarinya. Si tetamu kemudian mengambil gula nira tersebut. Gula itu diserahkan pada Ki Cokrojoyo seraya berpesan agar jangan dibuka sebelum dirinya keluar dari kampung Bedhug. Setelah lelaki itu keluar dari kampungnya, Ki Cokrojoyo segera membuka gula tersebut. Matanya terbelalak kerana isinya bukan lagi gula, melainkan segenggam emas yang berkilauan. Ki Cokrojoyo tersedar bahawa tamunya tadi bukanlah orang sembarangan. Diapun mengejar lelaki tersbeut. Dia akhirnya berhasil juga mengejar dan menemukan lelaki misteri itu, yang tidak lain adalah Sunan Kalijaga, salah seorang Wali Songo yang termasyhur di kalangan rakyat jelata.
Dorongan dari rasa ghairahnya itu, Ki Cokrojoyo minta diajarkan “bacaan jampi” dengan bersedia menjadi muridnya. Sunan Kalijaga kemudian mengajarkan kalimat syahadat. Sejak saat itu, Cokrojoyo selalu diajak Sunan Kalijaga mengembara dari satu daerah ke daerah lain sambil menyebarkan dakwah Islam.

Digelari Sunan Geseng
Sunan Geseng adalah murid yang sangat patuh dan setia terhadap semua perintah Sunan Kalijaga. Pada suatu hari, Sunan Kalijaga ingin menguji kesetiaan Sunan Geseng dengan ujian yang cukup berat. Sunan Geseng yang waktu itu masih bernama Ki Cokrojoyo diminta untuk menjaga dan memegangi tongkat yang ditancapkan di sebuah bukit di wilayah Bagelen. Sunan Kalijaga berpesan agar Ki Cokrojoyo tidak meninggalkan tempat itu sampai dia kembali. Ki Cokrojoyo duduk bersila memegangi dan menjaga tongkat yang ditinggalkan Sunan Kalijaga. Hujan, panas, dingin dan ancaman binatang buas selama menunggui tongkat gurunya tak sejengkal pun membuat Ki Cokrojoyo bergerak dari tempat duduknya. Ia tetap tak berganjak dari tempat duduknya, meski hanya sesaat. Hari demi hari, bulan terus berganti, tahun demi tahun tak terasa Ki Cokrojoyo telah duduk bersila memegangi dan menjaga tongkat gurunya selama ‘7 tahun’. Setelah 7 tahun itulah Sunan Kalijaga kembali ke tempat itu untuk menemui muridnya, Ki Cokrojoyo. Namun, apa yang terjadi di luar dugaan? Muridnya tak terlihat lagi di tempat itu. Bukti tempat di mana Ki Cokrojoyo memegangi dan menjaga tongkat Sunan Kalijaga sudah berubah menjadi sebuah hutan yang sangat lebat. Sunan Kalijaga dengan keadaan terpaksa membakar tempat itu untuk mengetahui tempat si murid yang ditinggalkan sendirian selama ‘7 tahun’ tersebut. Dengan keadaan hutan yang sangat menyeramkan, hati Sunan Kalijaga tak yakin apakah Ki Cokrojoyo masih bertahan di tempat itu. Setelah tiga perempat bahagian hutan itu habis terbakar, di sanalah kelihatan Ki Cokrojoyo duduk bersila dalam keadaan sama seperti ketika ditinggalkan dulu. Tubuhnya hitam terpanggang api sambil memegangi erat tongkat Sunan Kalijaga yang ditancapkan di tanah. Bahagian tubuh Ki Cokrojoyo kelihatan ‘terbakar’ akibat terpanggang api, namun dirinya tak berganjak sedikitpun dari tempat duduknya. Hati Sunan Kalijaga terharu saat itu. Dia belum pernah menemui kesetiaan dan ketaatan yang sangat luar biasa dari seorang muridnya itu sebelumnya. Melihat pengorbanan sedemikian besar, maka sejak itu Ki Cokrojoyo dinilai telah lulus dan layak memiliki ilmu setingkat dengan ilmu seorang ‘wali’. Lantas Ki Cokrojoyo pun diberi gelar dengan panggilan Sunan Geseng.

Minggu, 01 April 2012


"Sunan Muria & Karomah Secepat Kilat"

Sejak kecil, Raden Umar Said telah menunjukkan sifat-sifat yang utama. Ia saleh, cerdas, berbakti kepada kedua orang tua, rendah hati, dan suka membantu sesamanya. Pada usia sepuluh tahun, ia telah menghafal hampir seluruh isi Al Qur’an.

Hal ini tidaklah terlalu mengherankan. Umar Said merupakan putera dari manusia-manusia utama. Ayahnya adalah Sunan Kalijaga dan bundanya adalah Siti Saroh, murid Sunan Ampel dan adik Sunan Giri. Tentu saja, semua sifatnya itu diturunkan dari ayah bundanya.

Umar Said pun rupanya banyak mendapat ilmu dari beberapa walisongo. Dari Sunan Giri, ia dapat ilmu berlari cepat yang luar biasa. Dari Sunan Bonang ia mendapat ilmu cara memasang tiang utama mesjid hanya dengan dorongan tangan. Sunan Gunung Jati pun tidak mau kalah, ia memberi ilmu mengangkat air dengan kekuatan tenaga dalam. Tanpa direncanakan, Raden Umar Said telah menimba ilmu dari ketiga sunan tanpa sepengetahuan ayahnya. Tentu saja bocah kecil itu sangat gembira.

Di usia ketujuh belas, Umar Said telah mendapat tugas dari ayahnya untuk berdakwah. Awalnya, pemuda remaja itu sangat ragu. Ia merasa ilmunya belumlah sempurna. Namun ayahnya terus mendorong dan menyemangati. “Berdakwah dan mencari ilmu itu bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Berdakwah bukan berarti kita berhenti untuk mencari ilmu. Berdakwah justru semakin membuat kita bersemangat untuk mempelajari berbagai jenis ilmu,” kata ayahnya.

Dengan mantap, Umar Said pun pergi meninggalkan kampung halaman untuk menyebarkan keagungan Islam pada masyarakat. Dakwahnya dimulai dari kalangan anak-anak dan remaja. Ia menanamkan akidah mereka melalui aneka permainan anak-anak, seperti gasing misalnya. Namun kegiatan ini bukannya tidak ada hambatan. Karena di antara mereka ada juga yang tidak suka bila dinasehati dengan siraman rohani. Mereka biasanya langsung pergi.

Tapi di antara mereka ada juga yang kemudian mengajukan pertanyaan. Menghadapi hal ini maka Umar Said menjawabnya dengan lemah lembut. Suatu hari pernah karena Umar Said selalu menang kalau bermain maka anak-anak itu jadi tidak mau bermain lagi alias kapok. Tidak jarang pula mereka jadi dendam dan mengajak Umar Said bertaruh.

Namun Umar Said dengan lemah lembut menolak ajakan itu dan dia menjelaskan bahwa permainan yang berbau judi itu tidak baik dan dilarang oleh agama sambil menjelaskan ayat-ayat tentang judi. Karena musuhnya itu tidak terima maka dia mengundang teman-temannya untuk mengeroyok Umar Said. Umar Said yang sudah memiliki bekal kesaktian dari para gurunya di atas tentu saja tidak gentar menghadapi tantangan itu namun dia juga dia tidak mau pamer ilmu kanuragannya. Paling-paling dia hanya melindungi diri kalau diserang. Meskipun akhirnya musuhnya itu kalah setelah Umar Said diam-diam mengeluarkan ilmu tenaga dalamnya.

Demikianlah, seiring dengan bertambahnya pengalaman dalam dakwah, bertambah pula kematangan ilmunya. Tanpa terasa, Umar Said telah menjelajahi desa-desa di sekeliling Gunung Muria. Daerah yang selama ini belum tersentuh oleh dakwah Islam. Umar Said hanyut dalam denyut kehidupan para penduduk yang terdiri dari berbagai bidang profesi atau pekerjaan, seperti nelayan, pedagang, petani, dan rakyat jelata.

Kepada petani, Umar Said banyak memberikan pengetahuan cara bertanam padi yang baik dan bagaimana cara merontokan padi. Umar Said pun memberikan pengetahuan bagaimana cara membuat saluran pengairan/irigasi yang baik. Gara-gara masalah inilah Umar Said harus berhadapan dengan seorang juragan bernama Marto yang merasa dirugikan oleh tindakan Umar Said. Ya, Juragan Marto adalah tokoh informal di desa itu. Kekayaannya menyebar di mana-mana, dari mulai bidang pertanian, perdagangan sampai kelautan dia kuasai.

Namun sayang dia punya perangai yang buruk yakni jahat, suka memeras atau merampas hak orang lain, dan mau untung sendiri. Selama ini penduduk selalu dirugikan oleh sistim irigasi yang diatur oleh Juragan Marto. Penduduk pun tidak berani memprotesnya. Setelah Umar Said turun tangan barulah penduduk merasa ada membela. Umar Said nyaris celaka karena dikeroyok oleh anak buah Juragan Marto. Namun ternyata justru Umar Saidlah yang menang. Sejak itu Juragan Marto menaruh dendam pada Umar Said.

Di bidang perdagangan pun, Umar Said ikut ambil bagian dengan memberikan pengarahan kepada penduduk bagaimana berdagang yang benar. Dari mulai menentukan harga (mengambil keuntungan secara wajar), tidak aji mumpung ambil untung, jujur, terakhir cara membuat dagangan cepat laris yakni dengan doa-doa yang manjur kepada Allah SWT. Karena kepandaian Umar Said dalam berkomunikasi maka dalam waktu singkat banyak pedagang yang tertarik dan mau mengikuti ajaran Umar Said.

Sejak para pedagang bergabung dengan Umar Said, dagangan mereka di pasar memang mengalami kemajuan yang cukup lumayan. Namun lagi-lagi Umar Said harus berhadapan dengan Juragan Marto yang selama ini banyak memasok bahan dagangan kepada para pedagang. Namun belakangan para pedagang beralih kepada pemasok lain yang lebih murah harganya. Juragan Marto marah karena barang-barang dagangannya menumpuk nggak laku di gudang. Dia mengalami rugi besar-besaran. Setelah tahu bahwa biang keladinya adalah Umar said maka Juragan Marto pun berencana hendak membunuhnya. Jagoan-jagoan hebat pun disiapkan oleh Juragan Marto. Namun sayang ketika ketika para jagoan ini berhadapan dengan Umar Said maka yang terjadi adalah mereka mengaku takluk kepada Umar Said dan berniat mau belajar agama padanya. Disini rupanya Umar Said memberikan banyak butir-butir keimanan melalui cuplikan ayat-ayat Kitab Al-Qur’an.

Jumlah pengikut Umar Said makin bertambah. Selama ini mereka belajar agama dengan berpindah-pindah tempat, kadang memanfaatkan pelataran rumah ataupun kebun. Bagi Umar Said keadaan ini tentu tidak baik, sebab mereka sering kehujanan ataupun kepanasan. Karena itu terbesit di hati Umar Said untuk membuat sebuah padepokan yang permanen. Demikianlah, pada suatu hari Umar Said berhasil mengajak sejumlah muridnya membangun padepokan semi permanen di atas sebidang tanah milik salah seorang muridnya. Namun belum selesai bangunan itu dibuat tiba-tiba Juragan Marto beserta anak buahnya mendatangi mereka untuk melakukan protes sebab tanah itu diklaim sebagai tanahnya. Terjadi adu argumentasi. Juragan Marto menang karena pemilik awal tanah itu punya sangkutan hutang dengan Juragan Marto. Akhirnya bangunan itupun dihancurkan lagi. Dari kejadian ini Umar Said jadi tahu bahwa banyak tanah di wilayah itu dikuasai oleh Juragan Marto yang kafir itu.

Setelah pikir-pikir akhirnya pilihan jatuh pada lereng Gunung Muria. Bersama para muridnya Umar Said mendirikan sebuah padepokan/pesantren di sana, tepatnya Desa Cala. Menuju pusat pesantren dibangun tangga batu setinggi tujuh ratus lima puluh meter. Hal ini dimaksudkan agar para santri mempunyai jiwa yang kuat, juga mempunyai fisik yang sehat. Hal inilah yang membuat orang-orang di sekitar Gunung Muria menyebut Umar Said sebagai Sunan Muria.

Sangat banyak rakyat kecil yang tertarik pada dakwahnya. Apalagi ia menyertakan gamelan, tembang, dan wayang. Kesenian yang sangat digemari masyarakat pada masa itu. Sebelum ceramah dimulai, Sunan Muria dan para muridnya membunyikan gamelan dan mengalunkan tembang-tembang ciptaannya. Suara indah dan merdu itu mengundang banyak orang untuk datang. Setelah masyarakat banyak berkumpul, barulah dakwah yang sebenarnya disampaikan.

Di padepokannya, selain mengkaji Islam, Sunan Muria juga mengajarkan tata krama dzikir. Di bawah bimbingan tasawuf Sunan Muria, orang-orang membenamkan diri untuk dzikir kepada Alloh. Hatinya senantiasa ingat kepada Alloh sambil di lisankan oleh bibirnya yang tak pernah kering mengucapkan kalimat Thoyyibah dan kalimat Risalah: "La Ilaha Illa Alloh Muhammadur Rosululloh". Dengan tangan tak henti menghitung butiran-butiran tasbih kadang diiringi goyangan lirih badannya dari kanan ke kiri sebanyak hitungan dzikir yang dilisankan dengan suasana pelan dan syahdu.

Pada awalnya Sunan Muria mengajari santri-santrinya belajar ngaji diawali dengan menghafalkan huruf Hijaiyah setelah lancar, baru bisa melanjutkan Juz ‘ama, setiap malam beliau tak ketinggalan sholat malam dan wirid. Suatu malam Sunan Muria ketika melakukan wirid didatangi oleh 29 orang (Khadam) di depan sejadah tempat beliau ngewirid dan mengaku pemilik jurus Hijaiyah dari alif s/d ya. Dan beliau tertegun dan sempat kebingungan melihat kedatangan 29 orang tersebut, dan ke-29 orang tersebut meminta kepada Susan Muria untuk menjadikannya kemampuan masing-masing silat Hijaiyah untuk dijadikan ilmu beladiri silat untuk menyebarkan syiar islam. Setelah mengalami obrolan panjang akhirnya sunan pun menerima keinginan ke 29 orang tersebut untuk dijadikan silat Hijaiyah untuk syiar agama islam. Setelah memberi hadarah kepada pemiliknya sunan pun keesokan harinya membicarakan kepada wali songo tentang hal tersebut dan oleh dewan wali songo menyetujui untuk mempelajari silat Hijaiyah untuk tujuan syiar Islam pada masa itu. dalam prakteknya silat ini diambil dari huruf-huruf hijaiyah yang ada di Al-Qur'an yaitu alif s/d ya. Untuk tiap-tiap jurus terdiri dari kembangan an - in - dan un.

Kemudian agar pengembangan dakwah berjalan dengan baik, Sunan Muria meminta setiap desa untuk mengirimkan pemuda-pemuda terbaiknya ke Cala. Mereka belajar mengaji, lalu menyebarkan ilmunya ke daerah asal mereka masing-masing. Juragan Marto melarang para pekerja atau anak buah beserta keluarganya mengikuti anjuran itu. Juragan Marto juga mengancam akan membunuh bagi yang melanggarnya. Namun belakangan ada juga yang nekad melanggarnya. Saat orang tersebut hendak dihabisi nyawanya oleh anak buah Juragan Marto, maka Sunan Muria datang menolongnya. Sejak itu Juragan Marto seperti kehabisan akal lagi untuk mencegah ajaran Sunan Muria berkembang di wilayah itu.

Suatu hari, datang seorang lelaki, yang tiada lain adalah salah seorang guru Sunan Muria yakni Ki Ageng Ngerang. Kedatangannya selain untuk melihat kemajuan pesantren Sunan Muria juga mengundang Sunan Muria pada acara tasyakuran putri Ki Ageng Ngerang, Dewi Roroyono yang kedua puluh. Sunan Muria pun menyanggupi untuk datang pada acara tersebut.

Keesokan harinya Sunan Muria pun pergi ke tempatnya Ki Ageng Ngerang. Rupanya hal ini sudah diketahui oleh Juragan Marto yang selama ini menaruh dendam pada sunan. Maka Juragan Marto pun mengatur siasat. Mereka hendak menghadang sunan di tengah perjalanan caranya dengan pura-pura bekerja di sawah agar tidak mencolok.

Demikianlah, di suatu persawahan yang terlindung pepohonan yang lebat, Sunan Muria terhenti langkahnya karena mendengar suara “krubyuk-krubyuk” yaitu suara air yang disebabkan oleh gerakan tertentu. Sesungguhnya suara itu berasal dari langkah-langkah orang disawah yang berair. “Suara apakah yang krubyuk-krubyuk di malam sepi begini?” tanya Sunan Muria dalam hatinya. Sunan lalu mengeceknya sendiri.

Kemudian, diketahui bahwa suara itu berasal dari langkah-langkah Juragan Marto bersama para anak buahnya yang sedang pura-pura mencabuti bibit padi untuk di tanam di sawah keesokan harinya. “oh, kukira tadi suara bulus.” Kata Sunan Muria dengan lembutnya. Konon, kata-kata Sunan itu menjadi kenyataan. Juragan Marto dan para anak buahnya yang sedang mencabuti bibit padi itu berubah menjadi bulus atau kura-kura. Tentu saja mereka pun terkejut dan bersedih hati menyadari nasibnya yang malang itu.

Maka Juragan Marto yang kini telah menjadi seekor bulus itu memohon maaf kepada Sunan Muria dan minta dikembalikan kepada wujud aslinya.

Sesungguhnya hati Sunan Muria merasa terharu menyaksikan peristwa itu. Akan tetapi beliau pun tersenyum sambil berkata dengan lembutnya. “Wahai sanak kerabatku, aku sendiri ikut prihatin terhadap musibah ini, namun haruslah kukatakan bahwa semua ini sudah menjadi takdir Allah. Oleh karena itu terimalah dengan iklas dan bertawakallah kepada Sang Pencipta.” Lalu, Bulus Juragan Marto bilang bahwa sekiranya memang demikian takdir mereka, lantas bagaimana mereka memperoleh kehidupan?

Hati Sunan Muria semakin pilu mendengar permohonan itu. Setelah beliau bertafakur sejenak sesaat kemudian dengan tangkas menusukkan tongkatnya ke dalam tanah. Pada saat Sunan mencabut tongkatnya muncullah air yang jernih. Dalam waktu sekejap saja tempat itu telah menjadi kolam atau sendang. “Dengarlah wahai para bulus tempat ini telah menjadi sumber air abadi dan kelak akan mejadi desa yang ramai dengan nama Sumber. Bersabarlah kalian disini karena makanan apapun yang kalian inginkan akan datang sendiri.” Setelah berkata demikian bergegaslah Sunan Muria pergi meninggalkan tempat itu sehingga para bulus tak sempat menyampaikan terima kasihnya. Sejak itu orang-orang setempat menyaksikan sebuah kolam atau sendang yang banyak bulusnya. Sampai sekarang sendang sumber itu masih dikeramatkan.

Ternyata, kedatangan Sunan Muria ke tempatnya Ki Ageng Ngerang adalah rencana Allah untuk memberi hadiah bagi Sunan Muria. Ki Ageng Ngerang berniat untuk menjodohkan putrinya dengan Sunan Muria. Karena Dewi Roroyono adalah seorang putri yang salehah dan halus budi, Sunan Muria pun menyetujuinya.

Mendengar rencana itu maka membuat Pathak Warak cemburu berat. Maklum, Sewaktu menjadi cantrik atau murid Sunan Ngerang, yaitu ketika Pathak Warak belum menjadi Adipati, Roroyono masih kecil, belum nampak benar kecantikannya yang mempersona, sekarang, gadis itu benar-benar membuat Adipati Pathak Warak tergila-gila. Sepasang matanya hampir melotot memandangi gadis itu terus menerus.

Pada malamnya, timbul masalah. Dewi Roroyono hilang dari kamarnya. Ternyata, ia diculik oleh Adipati Pathak Warak. Kontan, itu membuat geger. Sunan Muria karena merasa bertanggung jawab maka dia segera pergi mencari Dewi Roroyono.

Tetapi, di tengah perjalanan Sunan Muria bertemu dengan Kapa dan Gentiri, adik seperguruan yang lebih dahulu pulang sebelum acara syukuran berakhir. Kedua orang itu merasa heran melihat Sunan Muria berlari cepat menuju arah daerah Keling. Sunan Muria pun menjelaskan permasalahannya. Kapa dan Gentiri sangat menghormati Sunan Muria sebagai saudara seperguruan yang lebih tua langsung menyatakan diri untuk membantu Sunan Muria merebut kembali Dewi Roroyono. Mereka menyarankan agar Sunan Muria kembali ke Gunung Muria. Karena para Sunan Muria sangat membutuhkan bimbingan. Mereka berjanji Sunan Muria tetap berhak mengawini gadis itu. karena mereka hanya sekedar membantu.

Sunan Muria akhirnya meluluskan permintaan adik seperguruannya itu. Rasanya tidak enak menolak seseorang yang hendak berbuat baik. Lagi pula ia harus menengok para santrinya di Padepokan Gunung Muria. Untuk merebut Dewi Roroyono dari tangan Pathak Warak, Kapa dan Gentiri ternyata meminta bantuan seorang Wiku Lodhang di pulau Sprapat yang dikenal sebagai tokoh sakti yang jarang tandingannya. Usaha mereka berhasil. Dewi Roroyono dikembalikan ke Ngerang.

Hari berikutnya Sunan Muria hendak ke Ngerang untuk mengetahui perkembangan usaha Kapa dan Gentiri. Di tengah jalan beliau bertemu dengan Adipati Pathak Warak. Disini beliau meminta Pathak Warak mengembali Dewi Roroyono. Namun jawaban Pathak Warak membuat Sunan Muria kaget. Sebab gadis itu sudah dibawa pergi Kapa dan Gentiri. Pathak Warak sendiri saat itu mau merebut kembali gadis itu dari Kapa dan Gentiri. Sunan Muria bilang bahwa Dewi Roroyono telah dijodohkan dengannya. Pathak Warak kaget da tidak terima. Maka mereka pun berkelahi.

Pathak Warak menyerang Sunan Muria dengan jurus-jurus cakar harimau. Tapi dia bukan tandingan putra Sunan Kalijaga yang memiliki segudang kesaktian. Hanya dalam beberapa kali gebrakan, Pathak Warak telah jatuh atau roboh di tanah dalam keadaan fatal. Seluruh kesaktiannya lenyap dan ia menjadi lumpuh tak mampu untuk bangkit berdiri apalagi berjalan. Sunan Muria kemudian meneruskan perjalanan ke Juana, kedatangannya disambut gembira oleh Sunan Ngerang. Karena Kapa dan Gentiri telah bercerita secara jujur bahwa mereka sendirilah yang memaksa mengambil alih tugas Sunan Muria mencari Dewi Roroyono, maka Sunan Ngerang pada akhirnya menjodohkan Dewi Roroyono dengan Sunan Muria.

Upacara pernikahanpun segera dilaksanakan. Kapa dan Gentiri yang berjasa besar itu diberi hadiah Tanah di desa Buntar. Dengan hadiah itu keduanya sudah menjadi orang kaya yang kehidupannya serba berkecukupan. Sedang Sunan Muria segera memboyong istrinya ke Pedepokan Gunung Muria. Mereka hidup bahagia, karena merupakan pasangan yang ideal.

Namun tidak demikian halnya dengan Kapa dan Gentiri. Sewaktu membawa Dewi Roroyono dari Keling ke Ngerang agaknya mereka terlanjur terpesona oleh kecantikan wanita jelita itu. Siang malam mereka tak dapat tidur. Wajah wanita itu senantiasa terbayang. Namun karena wanita itu sudah diperistri kakak seperguruannya mereka tak dapat berbuat apa-apalagi.

Hanya penyesalan yang menghujam di dada. Mengapa dulu mereka buru-buru menawarkan jasa baiknya. Betapa enaknya Sunan Muria, tanpa bersusah payah sekarang nenikmati kebahagiaan bersama gadis yang mereka dambakan. Inilah hikmah ajaran agama agar lelaki diharuskan menahan pandangan matanya dan menjaga kehormatan mereka.

Andaikata Kapa dan Gentiri tidak menatap terus kearah wajah dan tubuh Dewi Roroyono yang indah itu pasti mereka tidak akan terpesona, dan tidak terjerat oleh iblis yang memasang perangkap pada pandangan mata.

Kini Kapa dan Gentiri benar-benar telah dirasuki Iblis. Mereka bertekad hendak merebut Dewi Roroyono dari tangan Sunan Muria. Mereka telah sepakat untuk menjadikan wanita itu sebagai istri bersama secara bergiliran. Sungguh keji rencana mereka. Gentiri berangkat lebih dulu ke Gunung Muria. Namun ketika ia hendak melaksanakan niatnya dipergoki oleh murid-murid Sunan Muria, terjadilah pertempuran dahsyat. Apalagi ketika Sunan Muria keluar menghadapi Gentiri, suasana menjadi semakin panas, akhirnya Gentiri tewas menemui ajalnya di puncak Gunung Muria.

Kematian Gentiri cepat tersebar ke berbagai daerah. Tapi tidak membuat surut niat Kapa. Kapa cukup cerdik. Dia datang ke Gunung Muria secara diam-diam di malam hari.

Tak seorangpun yang mengetahuinya. Kebetulan pada saat itu Sunan Muria dan beberapa murid pilihannya sedang bepergian ke Demak Bintoro. Kapa menyirap murid-murid Sunan Muria yang berilmu rendah, yang ditugaskan menjaga Dewi Roroyono. Kemudian dengan mudahnya Kapa menculik dan membawa wanita impiannya itu ke Pulau Seprapat.

Pada saat yang sama, sepulangnya dari Demak Bintoro, Sunan Muria bermaksud mengadakan kunjungan kepada Wiku Lodhang. Datuk di Pulau Seprapat. Ini biasa dilakukannya bersahabat dengan pemeluk agama lain bukanlah suatu dosa. Terlebih sang Wiku itu pernah menolongnya merebut Dewi Roroyono dari Pathak Warak.

Ternyata, kedatangan Kapa ke pulau Seprapat itu tidak disambut baik oleh Wiku Lodhang Datuk. Kapa dimarahi oleh Wiku Lodhang datuk agar menyerahkan istri kakak seperguruannya itu segera. Tapi Kapa bersikeras tidak mau dengan berbagai alasan. Perdebatan antara guru dan murid itu berlangsung lama.Tanpa mereka sadari Sunan Muria sudah sampai di tempat itu. Betapa terkejutnya Sunan Muria melihat istrinya sedang tergolek di tanah dalam keadaan terikat kaki dan tangannya. Sementara Kapa dilihatnya sedang adu mulut dengan gurunya yaitu Wiku Lodhang Datuk menjauh, melangkah menuju Dewi Roroyono untuk membebaskan dari belenggu yang dilakukan Kapa. Bersamaan dengan selesainya sang Wiku membuka tali yang mengikat tubuh Dewi Roroyono. Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari mulut Kapa.

Ternyata, serangan dengan mengerahkan aji kesaktian yang dilakukan Kapa berbalik menghantam dirinya sendiri. Itulah ilmu yang dimiliki Sunan Muria. Mampu membalikkan serangan lawan. Karena Kapa mempergunakan aji pemungkas yaitu puncak kesaktian yang dimilikinya maka ilmu akhirnya merengut nyawanya sendiri. Sunan Muria minta maaf kepada Wiku Lodhang Datuk atas kejadian itu. Wiku Lodhang Datuk rupanya memakluminya. Dengan langkah gontai sang Wiku mengangkat jenazah muridnya. Bagaimanapun Kapa adalah muridnya, pantaslah kalau dia menguburkannya secara layak. Pada akhirnya Dewi Roroyono dan Sunan Muria kembali ke padepokan dan hidup berbahagia.

Ada beberapa ajaran akhlak yang diwariskan dari Sunan Muria. Pertama adalah ajaran tentang kesucian hidup., Kedua, menegakkan kemuliaan diri. Ketiga, mengembangkan akhlak yang luhur. Keempat, berlaku baik kepada tetangga dan kerabat. Kelima, harus saling memaafkan. Keenam, harus saling menyelamatkan. Ketujuh, tidak boleh berbuat zalim.

Blogroll

Blogger templates

About